163 Jemaat Nigeria Diculik Dalam serangan terkoordinasi yang mengerikan, kelompok bersenjata menyerbu dua gereja di Nigeria utara dan menculik semua orang yang sedang beribadah. Peristiwa ini menjadi pengingat kelam akan krisis keamanan kompleks yang melanda negara terpadat di Afrika tersebut.
Pada Minggu, 18 Januari 2026, ketenangan ibadah di dua gereja di Desa Kurmin Wali, Negara Bagian Kaduna, Nigeria utara, berubah menjadi mimpi buruk. Kelompok bersenjata yang bergerak dalam jumlah besar mengepung dan menyerbu tempat ibadah, kemudian membawa serta 163 jemaat Kristen ke dalam hutan.
Serangan ini bukanlah insiden yang terisolasi, melainkan episode terbaru dari gelombang kekerasan dan penculikan untuk tebusan yang telah lama melanda wilayah utara dan tengah Nigeria.
163 Jemaat Nigeria Diculik Kronologi Serangan yang Terkoordinasi
163 Jemaat Nigeria Diculik Serangan terjadi pada saat ibadah Minggu pagi berlangsung. Kelompok bersenjata, yang dilaporkan membawa senjata canggih, tiba-tiba muncul dan memblokir pintu masuk kedua gereja.
“Para penyerang datang dalam jumlah besar dan memblokir pintu masuk gereja dan memaksa para jemaat keluar ke semak-semak,” jelas Pendeta Joseph Hayab, Kepala Asosiasi Kristen Nigeria untuk wilayah utara Nigeria.
Menurut keterangan Pendeta Hayab, awalnya 172 orang berhasil disandra, namun sembilan orang di antaranya berhasil melarikan diri dalam perjalanan. Hal ini menyisakan 163 jemaat yang masih ditahan oleh kelompok bersenjata tersebut.
Hingga berita ini ditulis, kepolisian setempat di Kaduna belum memberikan tanggapan resmi terkait upaya penyelamatan atau perkembangan lebih lanjut. Sebuah laporan keamanan PBB juga telah mencatat insiden ini dan memperingatkan potensi serangan lanjutan di daerah terpencil lainnya di negara bagian tersebut.
Konteks: Krisis Keamanan Multidimensi di Nigeria
Serangan ini terjadi dalam konteks krisis keamanan Nigeria yang sangat kompleks dan berlapis. Narasi yang sering diangkat oleh kelompok advokasi internasional, terutama dari Barat, seringkali menyederhanakan konflik ini sebagai “genosida kristiani” yang ditargetkan oleh kelompok Islamis.
Namun, analisis yang mendalam dari berbagai pakar, pejabat pemerintah, dan lembaga kajian lokal menunjukkan akar masalah yang jauh lebih rumit.
Pemerintah Nigeria, melalui Menteri Informasi Mohammed Idris, secara konsisten menolak narasi perang agama. Pemerintah mengakui adanya krisis keamanan yang parah, tetapi menegaskan bahwa korban berjatuhan dari semua kalangan, baik umat Kristen maupun Muslim.
Faktor-Faktor Penyebab Konflik yang Berlapis
Berikut adalah beberapa faktor kunci yang mendorong kekerasan di Nigeria:
Pola Kekerasan yang Terus Berulang
Insiden di Kaduna ini merupakan bagian dari pola yang memprihatinkan. Hanya beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada November 2025, lebih dari 300 siswa dan guru diculik dari sebuah sekolah Katolik di Negara Bagian Niger. Mereka kemudian dibebaskan dalam dua gelombang setelah negosiasi yang diduga melibatkan pembayaran tebusan.
Pada akhir Desember 2025, 28 turis Muslim yang sedang dalam perjalanan ke acara keagamaan juga diculik di Negara Bagian Plateau, menunjukkan bahwa kelompok kriminal ini memang tidak memandang agama korban.
Puncak dari rangkaian krisis keamanan ini bahkan memaksa Presiden Nigeria, Bola Tinubu, untuk membatalkan kehadirannya di KTT G20 pada November 2025, agar dapat fokus menangani situasi dalam negeri.
163 Jemaat Nigeria Diculik Respons Internasional dan Jalan ke Depan
Krisis di Nigeria telah menarik perhatian dan intervensi internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah memanfaatkan isu ini untuk memberikan tekanan diplomatik kepada pemerintah Nigeria, dengan fokus pada pembunuhan umat Kristen.
Pada akhir Desember 2025, AS bahkan melancarkan serangan udara terhadap kamp-kamp militan yang dicurigai di Negara Bagian Sokoto. Trump juga telah mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut jika kekerasan terhadap umat Kristen terus berlanjut.
Pemerintah Nigeria menanggapi dengan menegaskan komitmennya untuk melindungi semua warga negara tanpa diskriminasi dan mendorong kerja sama konstruktif dengan mitra internasional.
Namun, banyak analis meyakini bahwa solusi jangka panjang tidak terletak pada intervensi militer semata. Perlu pendekatan komprehensif yang menangani akar penyebab konflik, seperti reformasi tata kelola, resolusi konflik lahan yang berkeadilan, penegakan hukum, dan pembangunan ekonomi di daerah rawan.
Tragedi penculikan 163 jemaat di Kaduna bukan sekadar statistik. Setiap angka mewakili seorang individu, sebuah keluarga yang diteror, dan sebuah komunitas yang hidup dalam ketakutan. Insiden ini kembali menegaskan bahwa perdamaian di Nigeria memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap kompleksitas konflik dan upaya kolektif yang menyeluruh, melampaui narasi keagamaan yang disederhanakan.
