Air Mata Mengalir DiMinab Dunia kembali dikejutkan oleh tragedi kemanusiaan yang memilukan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, sebuah sekolah menengah putri bernama Shajareye Tayabeh menjadi sasaran serangan rudal yang dilancarkan militer Israel, Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat. Akibatnya, sedikitnya 57 siswi dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka serta masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Simak fakta-fakta lengkapnya berikut ini!
Kronologi Tragedi: Sekolah Jadi Sasaran di Hari Masuk Sekolah
Serangan brutal ini terjadi di saat para siswi baru saja memulai aktivitas belajar di hari pertama pekan sekolah di Iran . Menurut Gubernur Minab, Mohammad Radmehr, insiden bermula ketika rudal menghantam gedung sekolah tersebut dalam operasi militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel .
“Sebanyak 53 siswi dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Operasi penyelamatan dan bantuan medis sedang diupayakan secara maksimal,” ujar Radmehr kepada kantor berita IRNA . Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih berjibaku mengevakuasi korban di tengah situasi darurat yang berlangsung di lokasi kejadian.
Kantor berita Mehr melaporkan bahwa puluhan siswa tewas dalam serangan tersebut . Sementara itu, media penyiaran Iran IRIB mengonfirmasi bahwa sekolah tersebut terkena serangan pada Sabtu pagi hari .
Data Korban: Angka yang Terus Berubah
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, jumlah korban jiwa dilaporkan berbeda-beda seiring proses evakuasi yang masih berlangsung. Berikut tabel perbandingan data korban dari berbagai media:
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmael Baqaie, mengecam keras tindakan “agresi yang keterlaluan dan tidak beralasan” ini. Ia menyebut bahwa “puluhan gadis muda yang tidak bersalah” tewas dan cacat akibat serangan di sekolah di Minab .
Konteks Serangan: AS-Israel Lancarkan “Preemptive Strike”
Tragedi di Minab tidak berdiri sendiri. Serangan terhadap fasilitas pendidikan ini terjadi di tengah gelombang agresi udara besar-besaran yang dimulai AS dan Israel sejak Sabtu dini hari .
Target Pemimpin Iran
Militer Israel menyatakan bahwa serangan mereka menargetkan beberapa lokasi di mana pejabat senior Iran berkumpul di Teheran pada Sabtu pagi . Stasiun tv Kan Israel melaporkan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian termasuk di antara target serangan . Seorang sumber keamanan Israel mengatakan kepada jurnalis bahwa mereka “menargetkan orang-orang berprofil tinggi yang terlibat dalam rencana penghancuran Israel” .
Operasi “Epic Fury”
Tak lama berselang, Amerika Serikat secara resmi menyatakan keterlibatannya dalam gempuran tersebut melalui operasi bersandi Epic Fury . Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa pasukan AS dikerahkan untuk menghancurkan instalasi rudal dan pangkalan angkatan laut Iran.

Dalam pernyataan videonya, Trump menyebut operasi militer ini sebagai upaya “besar-besaran dan sedang berlangsung” untuk mencegah “rezim radikal yang sangat jahat” mengancam Amerika . Ia juga menyerukan perubahan rezim di Teheran dengan mengatakan, “Saat kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda untuk diambil” .
Iran Balas: Rudal dan Drone Hantam Pangkalan AS
Menanggapi jatuhnya korban sipil dan serangan di ibu kota, Angkatan Bersenjata Iran segera meluncurkan serangan balasan besar-besaran .
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa mereka telah menyerang beberapa pangkalan militer AS di kawasan, termasuk:
- Armada Kelima Angkatan Laut Amerika di Bahrain
- Markas Al-Udeid di Qatar (pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah)
- Pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab
- Pangkalan Al-Salem di Kuwait
Ledakan juga terdengar di Dubai, di mana semua penerbangan ke dan dari bandara ditangguhkan . Di Abu Dhabi, seorang warga sipil tewas akibat terkena puing-puing rudal Iran .
Respons Internasional
Kutukan dari Iran
Teheran mengutuk serangan terhadap fasilitas pendidikan dan infrastruktur sipil serta menuntut pertanggungjawaban internasional . Menteri Luar Negeri Iran mengecam serangan AS-Israel sebagai tindakan yang “sama sekali tidak beralasan, ilegal, dan tidak sah” .
Reaksi Negara Arab
Negara-negara Teluk bereaksi keras terhadap eskalasi ini. Qatar menyebut serangan sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasionalnya” . Kuwait mengonfirmasi bahwa pertahanan udaranya berhasil menggempur agresi ini . Arab Saudi menggambarkan operasi Iran sebagai “berbahaya” .
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Emirat Arab Mohamed bin Zayed membahas serangan balasan Iran di Teluk serta menyatakan solidaritas dan simpati dalam panggilan telepon pertama mereka sejak perselisihan publik pada akhir Desember .
Seruan Global
Para pemimpin dunia dan organisasi internasional menyerukan pengendalian diri dan keterlibatan diplomatik untuk mencegah konflik yang lebih luas . Presiden Prancis Emmanuel Macron menulis bahwa “eskalasi yang sedang berlangsung berbahaya bagi semua orang. Ini harus dihentikan” . Brasil menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional .
Tawaran Mediasi Indonesia
Presiden Prabowo Subianto menawarkan diri untuk menjadi mediator antara AS dan Iran di tengah konflik yang memanas .
Sikap Tegas IRGC: “Operasi Ini Lanjut sampai Musuh Kalah”
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras yang menegaskan bahwa operasi militer mereka terhadap Amerika Serikat dan Israel tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Mereka mengklaim bahwa seluruh target militer kedua negara tersebut di Timur Tengah telah berhasil dihantam oleh “pukulan kuat dari rudal-rudal Iran.”
“Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai musuh kalah telak,” bunyi pernyataan tersebut .
Pihak IRGC juga memperluas cakupan ancamannya dengan menyatakan bahwa seluruh aset Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Timur Tengah kini dianggap sebagai target sah bagi militer Iran .
Kondisi WNI di Iran
Di tengah situasi yang memanas, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran memastikan akan terus memperkuat komunikasi dengan Warga Negara Indonesia (WNI) di seluruh kota di Iran .
Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan Roy Soemirat menegaskan, komunikasi dua arah menjadi prioritas agar KBRI dapat memberikan layanan bantuan dan perlindungan sesuai kebutuhan WNI di Iran. Hingga Sabtu siang waktu setempat, tercatat sebanyak 329 WNI telah melaporkan diri dan terdata resmi di KBRI Teheran .
Analisis: Titik Balik Konflik Timur Tengah?
Para analis memperingatkan bahwa meningkatnya jumlah korban sipil dapat meningkatkan tekanan internasional dan meningkatkan risiko ketidakstabilan regional yang lebih luas . Dengan aksi balasan yang terus berlanjut, ketakutan meningkat bahwa konfrontasi dapat menyebar lebih jauh ke seluruh kawasan.
Kawasan Teluk kini sepenuhnya berubah menjadi medan perang terbuka dengan ledakan serta serangan juga terjadi di Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain . Dengan pernyataan tegas IRGC bahwa mereka akan terus menyerang hingga “musuh kalah telak,” harapan untuk gencatan senjata dalam waktu dekat tampaknya kian menipis .
Kesimpulan
Tragedi di Minab menjadi noda hitam dalam sejarah konflik Timur Tengah. Sebuah sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu bagi para gadis muda, justru berubah menjadi kuburan massal akibat kecamuk perang yang tak kunjung reda.
Dengan 57 siswi tewas, puluhan luka-luka, dan eskalasi yang terus meluas, dunia kini menanti apakah akan ada upaya serius untuk menghentikan pertumpahan darah atau konflik ini justru akan memasuki babak baru yang lebih mengerikan. Satu hal yang pasti: korban yang berjatuhan adalah mereka yang paling tidak bersalah—anak-anak yang hanya ingin belajar dan meraih mimpi di masa depan.
Pantau terus portal berita kami untuk update terbaru perkembangan konflik Iran-Israel dan dampaknya terhadap warga negara Indonesia! Jangan lupa bagikan artikel ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan.
