AS-Israel Sepakat Siapkan Serangan Dalam sebuah pertemuan rahasia di Tel Aviv, Amerika Serikat dan Israel telah menyepakati kerangka kerja sama militer untuk menghadapi ancaman dari Iran. Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, bertemu dengan pejabat senior militer Israel pada Minggu malam waktu setempat, membahas opsi serangan yang “cepat, mendadak, dan bersih” jika situasi menuntut
🛡️ Kesepakatan di Balik Pintu Tertutup
Pertemuan antara pejabat tinggi militer AS dan Israel di Tel Aviv menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan dan mempererat kerja sama militer kedua negara. Kesamaan pandangan dalam pertemuan itu sangat mencolok, dengan fokus utama pada persiapan menghadapi Iran. Pejabat AS menegaskan bahwa kesiapan penuh membutuhkan waktu dan persiapan matang, namun Washington selalu siap mengambil langkah konkret bila diperlukan.
Misi bersama AS-Israel difokuskan pada target utama: perubahan rezim di Iran dan pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kekerasan terhadap warga sipil dan demonstran. Komandan CENTCOM secara khusus menegaskan komitmen AS untuk melindungi sekutu-sekutunya di Timur Tengah, termasuk Israel.
⚔️ Persiapan Militer dan Pengerahan Kekuatan
Ketegangan meningkat dengan kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya di wilayah tanggung jawab CENTCOM. Kehadiran armada ini memberikan seluruh opsi dan kemampuan militer kepada Presiden Donald Trump dalam menentukan langkah terhadap Iran.
Berikut perbandingan posisi dan pendekatan kedua negara terkait kemungkinan konflik dengan Iran:
title "Posisi Strategis AS dan Israel Terkait Iran"
x-axis "Fokus Jangka Pendek" --> "Fokus Jangka Panjang"
y-axis "Pendekatan Operasional" --> "Pendekatan Strategis"
"AS (Operasi Cepat)": [0.2, 0.8]
"AS (Perubahan Rezim)": [0.85, 0.75]
"Israel (Kesiapan Defensif)": [0.15, 0.25]
"(Ancaman Eksistensial)": [0.8, 0.3]
Israel sendiri telah mempertahankan status siaga maksimum selama lebih dari seminggu, mengantisipasi serangan balasan Iran jika AS melancarkan aksi militer. Kekhawatiran ini masuk akal mengingat sejarah konflik langsung kedua negara pada Juni 2025 yang berlangsung selama 12 hari dan mengakibatkan korban jiwa di kedua belah pihak.
🎯 Sasaran dan Strategi Serangan
Menurut laporan, pola pikir militer AS dalam menghadapi Iran mengarah pada operasi yang cepat, mendadak, dan bersih. Namun, keputusan untuk menyerang tidak sederhana. Salah satu tantangan utama adalah meredupnya gelombang protes di Iran setelah berminggu-minggu penindasan oleh rezim, sehingga memunculkan pertanyaan apakah aksi militer dapat memicu kejatuhan pemerintahan tanpa dukungan demonstrasi publik.
Para analis dari RAND Corporation memprediksi bahwa jika terjadi serangan baru, skala dan intensitasnya mungkin akan lebih besar daripada perang 12 hari sebelumnya. Israel memiliki alasan operasional untuk menunda konfrontasi langsung saat ini, termasuk menipisnya stok penangkal misil dan ancaman lebih langsung dari kelompok proksi Iran seperti Hezbollah.
🌍 Dampak Regional dan Ancaman Perang Meluas
Ketegangan ini telah memicu reaksi dari kelompok-kelompok pro-Iran di kawasan. Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Kataib Hezbollah di Irak telah menyatakan kesiapan untuk membela Teheran jika diserang. Kelompok Kataib Hezbollah bahkan mengeluarkan peringatan bahwa setiap serangan yang menargetkan Iran akan memicu “perang total” di kawasan Timur Tengah.
Iran sendiri telah memberikan peringatan keras melalui berbagai saluran. Sebuah mural baru diresmikan di Alun-alun Enghelab di Teheran, menampilkan gambar kapal induk AS yang rusak dengan pesan: “Jika ingin menebar angin, Anda akan menuai badai”. Komandan Garda Revolusi Iran juga menyatakan pasukannya “lebih siap dari sebelumnya, dengan jari di pelatuk”.
🔮 Masa Depan Ketegangan dan Kemungkinan Perkembangan
Mantan Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, dengan yakin menyatakan bahwa AS akan melancarkan serangan terhadap Iran dalam skala tertentu. Menurutnya, Trump mengerahkan pasukan besar tidak hanya untuk mengancam tetapi juga untuk melaksanakan aksi.
Namun, beberapa pakar meyakini bahwa jeda ketegangan saat ini hanyalah jeda taktis dalam persaingan yang sedang berlangsung. Faktor-faktor seperti pemulihan kemampuan militer Iran, ambisi nuklirnya yang terus berlanjut, dan dinamika politik dalam negeri Israel – terutama dengan pemilihan umum yang akan datang pada tahun 2026 – dapat dengan cepat mengubah kalkulasi Netanyahu.
Di tengah ketidakpastian ini, satu hal yang jelas: Timur Tengah sekali lagi berada di ambang konflik yang dapat berdampak luas, tidak hanya bagi negara-negara yang langsung terlibat tetapi juga bagi stabilitas regional dan global.

