Bantuan Kemanusiaan Tumpah Ruah Tenda darurat, paket sembako, hingga bantuan tunai ratusan juta rupiah mengalir ke Desa Pasirlangu saat ratusan warga masih berjuang antara hidup dan mati di bawah timbunan tanah.
Sebuah bencana tanah longsor dahsyat melanda Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. Dipicu hujan lebat yang mengguyur sejak sehari sebelumnya, pergeseran tanah di lereng curam ini menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah.
Kronologi dan Dampak Bencana
Bencana yang terjadi saat warga terlelap ini telah merenggut nyawa. Enam warga dilaporkan meninggal dunia, sementara 33 orang luka berat dan 35 orang luka ringan. Situasi terburuk adalah laporan bahwa 83 warga masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian intensif oleh tim SAR gabungan. Sedikitnya 30 unit rumah tertimbun material longsor.
Secara keseluruhan, 34 Kepala Keluarga (KK) atau 113 jiwa terdampak langsung dan harus mengungsi. Mereka ditempatkan di aula Kantor Desa Pasirlangu dan rumah kerabat terdekat.
Bantuan Nasional dan Daerah Bergerak Serentak
Berikut adalah rincian bantuan yang telah disalurkan dan dijanjikan untuk para korban:
Kemensos memastikan bantuan logistik darurat telah dikirim dari Gudang Dinas Sosial Provinsi Jabar ke lokasi pengungsian. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan koordinasi penuh dengan pemerintah daerah untuk penanganan optimal.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah Gubernur Dedi Mulyadi mengambil langkah cepat dengan menyiapkan bantuan tunai yang signifikan. Bantuan Rp 10 juta per KK dimaksudkan agar pengungsi dapat segera mengontrak tempat tinggal sementara, menghindari tekanan psikologis akibat terlalu lama di pengungsian. Bantuan Rp 25 juta disiapkan untuk setiap keluarga yang kehilangan anggotanya.

Di tingkat lokal, BPBD Kota Bandung juga turun tangan dengan mengirimkan personel dan logistik pendukung, termasuk peralatan untuk proses evakuasi dan pencarian.
Tantangan di Lokasi dan Komitmen Jangka Panjang
Di balik bantuan yang mengalir, tantangan di lapangan masih besar. Proses pencarian 83 warga yang hilang masih berlangsung, diperkirakan memakan waktu hingga berhari-hari. Kebutuhan mendesak di pos pengungsian juga terus bermunculan, seperti popok bayi, pakaian bayi, dan alat mandi yang menjadi prioritas.
Menyikapi akar masalah, Gubernur Dedi Mulyadi sudah menyatakan rencana relokasi permanen warga dari kawasan rawan tersebut. Ia menilai kawasan lereng itu sudah tidak layak huni dan akan dihutankan kembali untuk mencegah terulangnya bencana.
Selain itu, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengingatkan pemerintah daerah untuk segera melengkapi data penerima program bantuan Kemensos, termasuk program uang perabotan Rp3 juta dan stimulan ekonomi Rp5 juta, dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan.
Bencana di Bandung Barat ini kembali mengingatkan kita akan kerentanan lingkungan. Respon cepat pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah menunjukkan komitmen penanganan korban. Namun, pemulihan jangka panjang dan upaya mitigasi yang berkelanjutan akan menjadi ujian sesungguhnya pasca-tragedi ini.
