Bukan Hanya Tanah Longsor Di balik angka korban jiwa & reruntuhan tanah, tersembunyi cerita tentang kasih sayang terakhir sebuah keluarga yg masih berpelukan erat dan seorang ayah yang dengan tabah menggali lumpur demi menemukan anak semata wayangnya.
Longsor dahsyat yang menerjang Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Cisarua, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, tidak hanya menyisakan puing dan lumpur. Bencana yang terjadi saat warga terlelap ini meninggalkan luka mendalam dan kisah-kisah pilu yang menyayat hati, menggambarkan betapa rapuhnya manusia di hadapan amukan alam.
Dari sekian banyak cerita duka, dua kisah paling mengharukan adalah tentang seorang ayah yang pantang menyerah mencari putrinya dan satu keluarga yang ditemukan tewas dalam pelukan terakhir mereka.
Kisah Seorang Ayah dan Pencarian yang Tak Kenal Lelah
Di tepian lokasi longsor, duduklah Asep Heri (45). Jas hujan dan bandananya penuh noda lumpur, sementara tubuhnya lelah. Namun, matanya tetap tajam menyisir setiap sudut. Sudah tiga hari ia meninggalkan rumahnya di Ranca Upas, Ciwidey, untuk satu misi: menemukan putri tercintanya, Tasya (17), yang tertimbun di lokasi itu.
“Saya langsung mencari sendiri, ingin cepat menemukan tubuh anak saya, Tasya,” kata Asep dengan ketegaran yang menyembunyikan nestapa.
Dengan tangan dan cangkul, ia menggali tanpa henti di titik yang ia yakini sebagai bekas rumah saudaranya—tempat Tasya menginap sebelum bencana. Perjuangannya membuahkan hasil pada hari Minggu, tapi bukan anak kandungnya yang ia temukan. Ia justru berhasil menemukan jasad saudaranya, Deni dan Ani, serta keponakannya.
Temuan itu pun membawa cerita lain tentang cinta. Asep menyaksikan bagaimana jasad Ani ditemukan dalam posisi tertelungkup setengah bersujud, seolah melindungi anaknya yang ditemukan di bawahnya dalam kondisi masih bersih. Adegan itu adalah gambaran terakhir tentang perlindungan seorang ibu.
Pelukan Terakhir yang Membeku dalam Waktu
Kisah pilu lain terungkap dari sektor B Dusun Pasir Kuda. Tim SAR gabungan menemukan tiga jenazah dalam satu rumah yang runtuh. Mereka adalah Ujang Koswara (41), sang istri Ai Sumarni (36), dan anak mereka, Nina Haerunisa (16).
Mereka ditemukan dalam keadaan saling berpelukan erat.
Ai (47), kakak dari Ujang, adalah yang pertama merasa khawatir. Setelah tak bisa menghubungi adiknya sejak pagi, ia mendatangi lokasi dan menemukan rumah adiknya telah rata dengan tanah. Dengan bantuan Tim SAR, pencarian dimulai. Petunjuk pertama adalah sebuah tas. Penggalian dilanjutkan, dan akhirnya… “Pas digali lebih dalam, mereka ketemu dalam keadaan berpelukan,” kenang Ai, merasa seakan langit runtuh di hadapannya.
Pelukan terakhir itu adalah simbol betapa kuatnya ikatan keluarga itu, yang tetap bertahan bahkan di ambang maut. “Dari situ saya merasa adik saya masih ada di dalam,” ujar Ai sebelum penemuan itu.
Skala Bencana dan Upaya yang Berlanjut
Kedua kisah manusiawi ini terjadi dalam skala bencana yang sangat besar. Hingga update terakhir Senin (26/1) malam, total 39 kantong jenazah telah diterima Pos Disaster Victim Identification (DVI), dengan 20 jenazah di antaranya telah berhasil diidentifikasi.
Jumlah korban masih dinamis dan diperkirakan akan terus bertambah. Badan SAR Nasional (Basarnas) telah menetapkan bahwa operasi pencarian akan dimaksimalkan selama dua pekan, mengikuti masa tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah daerah.
Tragedi ini juga menimpa 23 anggota TNI AL (marinir) yang sedang menjalani pelatihan di lokasi tersebut. Hingga saat ini, empat di antaranya telah ditemukan tewas, sementara 19 personel lainnya masih dalam pencarian.
Kronologi Duka dan Upaya Penanganan

title Kronologi Longsor Cisarua & Penanganannya
section Sabtu, 24 Jan 2026
Bencana Terjadi : Longsor dahsyat melanda<br>saat dini hari[citation:7]
Korban Pertama : Proses evakuasi &<br>identifikasi dimulai[citation:9]
section Minggu, 25 Jan 2026
Temuan Pilu : Keluarga Ujang ditemukan<br>dalam kondisi berpelukan[citation:3][citation:10]
Data Korban : 16 kantong jenazah<br>terkumpul[citation:9]
section Senin, 26 Jan 2026
Pencarian Ayah : Asep Heri terus mencari<br>putrinya, Tasya[citation:1]
Update Korban : Total 39 kantong jenazah,<br>20 teridentifikasi[citation:2]
Operasi Lanjut : Masa pencarian ditetapkan<br>selama 2 pekan[citation:6]
Di Balik Runtuhnya Tanah, Tumbuhnya Harapan dan Dukungan
Di tengah kepiluan, secercah harapan dan kemanusiaan tetap bersinar. Seorang ibu berhasil menyelamatkan bayinya yang belum genap sebulan dari terjangan longsor. Seorang balita berusia dua tahun, Arsa, ditemukan selamat secara ajaib di atas genting rumahnya yang telah rata.
Untuk memulihkan trauma, terutama pada anak-anak, tim psikolog Bhayangkari Polda Jawa Barat telah turun tangan memberikan pendampingan trauma healing. Di posko pengungsian, solidaritas warga juga tumbuh. Mereka saling berbagi makanan, selimut, dan pakaian, menunjukkan bahwa bencana tidak memadamkan rasa kemanusiaan.
Kisah Asep Heri yang tak kenal lelah dan pelukan terakhir keluarga Ujang adalah pengingat pilu akan betapa berharganya setiap nyawa dan setiap hubungan kasih sayang. Longsor Cisarua telah merenggut banyak hal, tetapi tidak dengan semangat para penyintas dan kepedulian mereka yang membantu.
Pencarian masih berlanjut. Doa dan harapan masih menyertai setiap penggalian. Kisah-kisah pilu ini semoga menjadi peringatan terdalam tentang pentingnya kewaspadaan dan mitigasi bencana di wilayah rawan, agar tidak ada lagi ayah yang harus mencari anaknya, dan tidak ada lagi pelukan yang harus menjadi yang terakhir.
