China dan Inggris ‘MakIn Lengket’, Trump Meradang Di tengah peringatan keras dari Washington, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terbang ke Beijing dengan segunung CEO, menandai pencairan hubungan yang berani dengan China dan membuka babak baru dalam persaingan geopolitik global.
Dalam kunjungan bersejarah yang pertama kali dilakukan oleh seorang perdana menteri Inggris dalam delapan tahun terakhir, Starmer tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa rombongan yang terdiri dari pimpinan perusahaan-perusahaan besar Inggris, terutama dari sektor perbankan dan teknologi, dengan satu misi utama: meningkatkan hubungan dagang dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dagang dan retorika proteksionis dari Amerika Serikat, sekutu tradisional Inggris, yang mendorong banyak sekutu AS untuk mencari alternatif.
Peringatan Trump yang ‘Sangat Berbahaya’
Respons dari Gedung Putih datang dengan cepat dan keras. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka memperingatkan Inggris agar “berhati-hati” dalam memperdalam hubungan bisnis dengan Beijing. Lebih tegas lagi, Trump menyebut bahwa bagi Inggris untuk terjun dalam bisnis dengan China adalah hal yang “sangat berbahaya”.
Peringatan ini bukan sekadar retorika kosong. Beberapa pekan sebelumnya, Trump telah menunjukkan kemarahannya terhadap Kanada, sekutu AS lainnya, yang juga mendekati China. Ia mengancam akan mengenakan tarif 100% pada semua barang Kanada jika negeri itu meneruskan kesepakatan dagang dengan Beijing, dengan pernyataan bombastis bahwa “China akan melahap Kanada hidup-hidup”.
Mengapa Inggris Mengambil Risiko Ini?
Lantas, apa yang mendorong pemerintah Starmer mengambil langkah berisiko ini, yang berpotensi memicu kemarahan patron terbesarnya?
- Kepentingan Nasional Ekonomi: Inti dari kebijakan Starmer adalah kepentingan ekonomi nasional Inggris. Dalam pernyataannya di Beijing, Starmer menegaskan bahwa “adalah kepentingan nasional kami untuk berhubungan dengan China”. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan AS yang tak terduga, China menawarkan pasar raksasa dan peluang investasi yang tak bisa diabaikan.
- Strategi Diversifikasi: Langkah Inggris ini adalah bagian dari pola yang lebih besar. Sekutu-sekutu AS yang sudah lama berdiri, seperti Kanada dan Inggris, secara aktif mendiversifikasi hubungan dagang mereka jauh dari Amerika Serikat, menuju kekuatan ekonomi Asia seperti China dan India. Mereka berusaha mengurangi ketergantungan dan kerentanan terhadap tekanan ekonomi unilateral dari Washington.
- Pandangan yang Berbeda tentang China: Sementara AS di bawah Trump sering memandang hubungan dengan China sebagai permainan zero-sum (satu pihak menang, pihak lain kalah), Inggris tampaknya mengambil pendekatan yang lebih nuansa. Mereka berusaha mencari keseimbangan antara menarik keuntungan ekonomi dari China sambil tetap mempertahankan “pagar pengaman” di sekitar hubungan tersebut mengenai isu-isu seperti keamanan nasional.
Strategi Berbeda: Inggris vs. Kanada
Meski sama-sama beralih ke China, respons dan strategi Inggris berbeda dengan sekutunya, Kanada.
Implikasi Global: Dunia yang Semakin ‘Multipolar’
Pendekatan Inggris dan Kanada terhadap China adalah gejala dari perubahan struktural yang lebih dalam dalam politik global.
- Melemahnya Pengaruh AS: Ancaman tarif dan retorika konfrontatif Trump telah mempercepat keinginan sekutu untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Ini menunjukkan berkurangnya daya tarik dan pengaruh soft power AS.
- Kebangkitan Kekuatan Menengah: Seperti yang dijelaskan oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney, negara-negara dengan kekuatan menengah merasa perlu untuk bersatu dan membuat aliansi baru untuk bertahan dalam persaingan antara raksasa-raksasa ekonomi. Ini menandai pergeseran menuju tatanan dunia yang lebih multipolar, di mana kekuatan tidak lagi hanya terkonsentrasi di satu atau dua negara.
- Peran India dan Blok Lain: Penting untuk dicatat bahwa China bukan satu-satunya tujuan. India, dengan pasar dan pertumbuhan ekonominya yang pesat, juga menjadi magnet bagi negara-negara seperti Inggris dan Kanada. Uni Eropa juga baru saja menandatangani kesepakatan dagang besar dengan India, yang disebut sebagai “ibu dari semua kesepakatan”, menunjukkan bahwa restrukturisasi aliansi ekonomi global sedang terjadi di banyak front sekaligus.
Kesimpulan: Sebuah Dilema Strategis
Langkah Starmer mendekati China adalah cerminan dari dilema strategis yang dihadapi banyak sekutu AS saat ini. Di satu sisi, ikatan sejarah, keamanan, dan ekonomi dengan Amerika Serikat tetap sangat dalam. Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan AS dan peluang ekonomi yang ditawarkan oleh China (dan kekuatan Asia lainnya) terlalu besar untuk diabaikan.
Peringatan Trump yang “sewot” adalah pengingat keras bahwa Washington memandang pendekatan ini sebagai pengkhianatan terhadap kepentingannya. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Inggris dan sekutu lainnya dapat berhasil menari di antara dua raksasa ini? Apakah strategi “penghalusan” Starmer akan cukup untuk menenangkan Trump sambil tetap mendapatkan keuntungan dari China, atau apakah ini justru akan memicu retaknya aliansi tradisional yang telah membentuk dunia pasca-Perang Dunia II?
Satu hal yang pasti: kunjungan Starmer ke Beijing bukan sekadar kunjungan dagang biasa. Ini adalah sinyal nyata bahwa peta geopolitik dan geoeonomi dunia sedang digambar ulang, dan setiap negara, besar maupun kecil, sedang berusaha mencari posisi terbaiknya di dalamnya.
