Dampak Serangan Iran di Permukiman Tel Aviv Untuk pertama kalinya sejak konflik memanas, permukiman padat penduduk di jantung Aviv menjadi sasaran langsung rentetan rudal balistik Iran. Gedung-gedung apartemen berlubang, kawah menganga di tengah jalan, dan ratusan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka hancur atau tak lagi aman dihuni. Di tengah sirene yang meraung-raung dan sistem pertahanan Iron Dome yang disebut-sebut kewalahan, warga Israel kini merasakan langsung dampak dahsyat “Operasi Janji Sejati” yang dilancarkan Teheran sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Gelombang Rudal dan Korban Jiwa
Serangan balasan Iran terhadap Israel memasuki babak baru pada akhir pekan lalu. Setelah AS dan Israel melancarkan “Operasi Roaring Lion” yang menewaskan Khamenei pada 28 Februari, Iran merespons dengan gelombang rudal besar-besaran yang menargetkan sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv .
Ratusan Rudal Diluncurkan, Puluhan Lolos dari Intersepsi
Menurut laporan yang dihimpun, Iran menembakkan sekitar 125 rudal balistik dalam satu gelombang serangan pada 28 Februari. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 35 rudal berhasil lolos dari sistem pertahanan Iron Dome dan mendarat di wilayah Israel . Seorang pejabat militer Israel mengakui bahwa sistem pertahanan mereka “kewalahan” menghadapi volume serangan yang begitu besar .
Korban Tewas dan Luka-Luka
Serangan ini menimbulkan korban jiwa di sejumlah lokasi. Berikut rincian korban yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber:
Salah satu korban tewas di Tel Aviv adalah Marina Bleive (68), yang meninggal bukan karena terkena rudal secara langsung, melainka karena kehabisan napas saat berlari menuju tempat perlindungan. Putrinya, Aya, menceritakan momen pilu itu kepada Ynet: “Aku terus berjalan, dan kemudian tetangga meneleponku dan mengatakan bahwa ibuku sedang duduk di bangku dan kehabisan napas” .
Pemandangan Apokaliptik di Permukiman Tel Aviv
Dampak fisik serangan terlihat nyata dan mengerikan. Kawasan permukiman yang biasanya ramai berubah menjadi medan pertempuran.

Bnei Brak, Target Strategis di Timur Tel Aviv
Media Iran melaporkan bahwa rudal mereka menghantam kawasanย Bnei Brakย di sebelah timur Tel Avivย . Kawasan ini dikenal sebagai permukiman padat dengan populasi religius yang signifikan. IRGC mengklaim telah menyerang infrastruktur strategis di wilayah tersebutย .
Ledakan di Bnei Brak menyebabkan kerusakan serius pada sejumlah kendaraan dan bangunan di area permukiman . Pada Selasa (3/3/2026) malam, sedikitnya tujuh warga Israel dilaporkan terluka ketika sebuah rudal Iran jatuh di wilayah Tel Aviv .
Bangunan Hancur dan Warga Mengungsi
Foto-foto yang dirilis oleh Associated Press dari berbagai lokasi di Israel menunjukkan gambaran mengerikan pasca-serangan :
- Sebuah apartemen di Tel Aviv hancur totalย setelah dihantam rudal pada hari Mingguย .
- Di lokasi lain, terlihatย kawah besar menganga di tengah jalanย dan puing-puing bangunan berserakanย .
- Petugas penyelamat dan personel militer Israel terlihatย mencari korban di reruntuhanย di Beit Shemeshย .
Dampaknya langsung dirasakan warga. Ariel (32), seorang pekerja keuangan yang apartemennya berjarak sekitar 100 meter dari lokasi ledakan, menemukan rumahnya dipenuhi puing-puing. “Tidak menyenangkan melihat rumahmu hancur, semua kenanganku ada di sini. Tapi kami tahu dalam perang dengan semua bom, itu bisa terjadi,” ujarnya kepada AFP .
Pemerintah Israel bergerak cepat melakukan evakuasi. Pasca serangan langsung di Tel Aviv, lebih dari 200 warga dievakuasi dari area terdampak dan ditempatkan di tiga hotel terdekat . Tim ahli juga memeriksa 40 bangunan di sekitar lokasi serangan. Hasilnya:
- 1 bangunan dinyatakan tidak layak huniย
- 29 bangunan mengalami kerusakan propertiย tanpa dampak struktural signifikanย
- 10 bangunan mengalami kerusakan ringanย
Respons Darurat dan Kehidupan di Bawah Tanah
Sistem pertahanan Israel bekerja keras, namun tidak sempurna. Meskipun Iron Dome dan sistem pertahanan lainnya aktif mencegat rudal yang masuk , beberapa berhasil menembus pertahanan dan mencapai target .
Warga Berlindung di Stasiun Kereta Bawah Tanah
Saat sirene serangan udara meraung, warga Tel Aviv berhamburan mencari perlindungan. Stasiun kereta bawah tanah berubah menjadi tempat perlindungan darurat bagi ratusan orang .
Beberapa warga mengaku bermalam di stasiun bawah tanah karena rumah mereka tidak memiliki ruang aman (shelter) built-in . Yang lain merasa lebih aman berlindung bersama rombongan besar daripada sendirian di rumah saat alarm berbunyi .
Di dalam shelter bawah tanah, Gil (56) mengenang pengalaman mencekam malam sebelumnya. “Kami di sini dan kami mendengar suara keras, ledakan besar, dan kami menyadari itu terjadi di lingkungan kami. Saat kami keluar, baunya seperti sesuatu yang terbakar dan itu sedikit menakutkan,” kenangnya .
Kehidupan yang “Terbiasa” dengan Perang
Meski dilanda ketakutan, warga Tel Aviv menunjukkan ketahanan luar biasa. Uri (23), yang berlindung di bunker yang sama, mengungkapkan perasaannya. “Kamu tidak akan pernah terbiasa dengan ini, tapi saya pikir kami sudah mengeras dan kami mengerti tidak ada pilihan. Jika kami harus pergi 30 kali… agar besok lebih baik, kami akan melakukannya setiap kali karena kami selalu memiliki harapan,” ujarnya .
Warga lain, seperti Ariel, juga menegaskan ketegaran mereka. “Kami tidak takut, kami sudah terbiasa,” katanya .
Target Lain di Sekitar Tel Aviv
IRGC mengumumkan bahwa serangan mereka tidak hanya terbatas pada Bnei Brak. Dalam pernyataan resminya, Korps Garda Revolusi mengklaim telah menyerang sejumlah target strategis di sekitar Tel Aviv :
- Markas besar staf umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF)
- Gedung kementerian pertahanan Israel
- Instalasi militer di Petah Tikva, timur laut Tel Aviv
- Pusat militer di Galilea Barat
Klaim ini menunjukkan bahwa Iran berupaya melumpuhkan pusat komando militer Israel, tidak hanya menciptakan teror di permukiman sipil.
Dampak Lebih Luas dan Respons Internasional
Serangan Iran yang meluas hingga ke permukiman Tel Aviv memicu respons berantai di tingkat global.
Korban Sipil di Iran dan Sikap Dunia
IRGC menuduh AS dan Israel menyerang sekolah, rumah sakit, dan gedung pernikahan untuk membuat panik masyarakat Iran. Mereka menyebut korban jiwa warga sipil Iran telah melampaui 700 orang . Salah satu insiden paling tragis adalah serangan ke Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab yang menewaskan hingga 165 orang .
China mengutuk keras serangan yang menargetkan warga sipil ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan, “China sangat sedih atas banyaknya korban sipil yang disebabkan oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran. Kami mengutuk keras hal itu. Perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata adalah garis merah dan tidak boleh dilanggar” .
Eskalasi di Kawasan Teluk
Situasi di beberapa negara Teluk dilaporkan berada dalam status siaga tinggi menyusul rentetan serangan tersebut . Iran juga meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Arab yang menjadi lokasi fasilitas militer AS . Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa sejumlah staf Pentagon mengalami luka dalam serangan Iran di Bahrain .
Di Arab Saudi, terjadi kebakaran di Kedutaan Besar AS di Riyadh setelah sebuah ledakan. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa kedutaan besar AS di Riyadh diserang oleh dua drone berdasarkan perkiraan awal .
โจ Penutup: Perang di Depan Pintu Rumah
Serangan Iran ke permukiman Tel Aviv telah mengubah realitas kehidupan warga Israel. Dari yang tadinya hanya melihat perang di layar televisi, kini mereka merasakan langsung getaran ledakan di depan rumah. Bangunan yang hancur, warga yang mengungsi, dan anak-anak yang harus tidur di stasiun bawah tanah adalah wajah baru konflik yang kian meluas.
IRGC bersumpah tidak akan membiarkan serangan AS dan Israel begitu saja. “Para penjahat Amerika dan Israel harus paham tak satu pun kejahatan dan pembunuhan mereka akan dibiarkan tanpa balasan. Perang melawan AS dan rezim Israel akan berlanjut,” demikian pernyataan resmi mereka .
Di tengah ancaman yang terus berlanjut, warga Tel Aviv seperti Ariel, Gil, dan Uri hanya bisa berpegang pada harapan. “Kami selalu punya harapan,” kata Uri . Namun, selama rudal masih berjatuhan, harapan itu mungkin harus terus bertahan di bawah tanah, di dalam shelter yang pengap dan gelap.
