Dari Budak Seks ISIS Mereka diculik, diperkosa, & diperjualbelikan di pasar manusia ISIS. Namun, mereka bertahan & menjadi saksi hidup atas salah satu kekejaman terbesar abad ke-21.
Dunia diguncang pada Agustus 2014 ketika kelompok teroris ISIS mengguncang wilayah Sinjar, Irak. Tujuan mereka bukan hanya perang, tetapi genosida sistematis terhadap komunitas Yazidi yang damai. Ribuan laki-laki dibantai, sementara perempuan dan anak-anak perempuan diculik untuk dijadikan “rampasan perang” dalam sistem perbudakan seksual terorganisir.
Hidup mereka berubah menjadi neraka—disiksa, diperjualbelikan, dan diperlakukan seperti barang dagangan. Namun, di tengah kehancuran itu, muncul kisah-kisah ketangguhan luar biasa. Seperti Sipan Khalil, Nadia Murad, dan banyak lainnya yang berhasil melarikan diri, kemudian mengubah derita mereka menjadi kekuatan untuk bersuara dan menuntut keadilan.
Kisah Sipan Khalil: Dari Rumah al-Baghdadi Hingga Pembebasan Diri
Sipan Khalil baru berusia 13 tahun saat ISIS menyerbu desa Yazidi-nya, Kocho, pada 2014. Ia diculik dan dibawa ke Suriah, untuk kemudian dijual sebagai budak.
Ia mengalami pemerkosaan, pemukulan, dan kelaparan secara rutin. Bahkan, ia sempat dipekerjakan paksa sebagai pembantu rumah tangga di kediaman pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dan menyaksikan kekerasan seksual terhadap gadis-gadis Yazidi lainnya di sana.
Pada 2017, ia dipaksa menikah dengan seorang militan ISIS yang kerap menyiksanya. Setelah ISIS kalah, saat sedang dicoba diperdagangkan ke Lebanon, sebuah ledakan ranjau mengubah segalanya. Sipan yang terluka berhasil merebut senjata, membunuh penculiknya, dan kemudian diselamatkan oleh keluarga Badui. Setelah bertahun-tahun, ia akhirnya bersatu kembali dengan keluarganya yang selamat dan kini tinggal di Berlin, bekerja untuk organisasi hak asasi manusia.
Skala Kekejaman: Perbudakan Seksual sebagai Senjata Perang
Kasus Sipan bukanlah insiden yang terisolasi, melainkan bagian dari kebijakan terorganisir ISIS. Sebuah laporan tahun 2014 dari Amnesty International yang berjudul “Escape From Hell” mengungkapkan bahwa ratusan—kemungkinan ribuan—perempuan Yazidi telah menjadi korban pemerkosaan dan perbudakan seksual sistematis dalam sebuah kampanye pembersihan etnis.
Berikut adalah gambaran dampak serangan tahun 2014 terhadap komunitas Yazidi menurut berbagai laporan:
Nadia Murad: Dari Korban Menuju Pemenang Nobel Perdamaian
Kisah lain yang mendunia adalah perjalanan Nadia Murad. Ia diculik dari desanya pada 2014, mengalami penyiksaan dan diperjualbelikan sebagai budak seks.

“Saya diperkosa beramai-ramai,” ungkap Murad, menggambarkan bahwa pemerkosaan terhadap “rampasan perang” dianggap sebagai bagian dari perjuangan ISIS.
Dia akhirnya berhasil melarikan diri dengan bantuan seorang keluarga Muslim baik hati. Tidak berhenti di situ, Nadia mengubah traumanya menjadi aksi. Ia menjadi aktivis yang vokal, berbicara di forum-forum internasional termasuk Dewan Keamanan PBB. Atas upayanya yang tak kenal lelah dalam mengkampanyekan penghapusan pemerkosaan sebagai senjata perang, Nadia Murad dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2018.
Luka yang Tak Terlihat: Trauma dan Perjuangan Bertahan Hidup
Lepas dari cengkeraman ISIS bukan berarti penderitaan berakhir. Korban yang selamat menghadapi trauma psikologis yang mendalam. Dalam budaya konservatif, mereka juga seringkali menghadapi stigma sosial.
Tragisnya, beberapa korban memilih jalan bunuh diri untuk menghindari pemerkosaan yang berulang. Kisah gadis berusia 19 tahun bernama Jilan yang gantung diri setelah diberi pakaian seperti “kostum tari” adalah contoh pilu betapa besarnya rasa takut yang mereka alami.
Jalan Panjang Menuju Pemulihan dan Keadilan
Proses pemulihan membutuhkan dukungan luar biasa. Beberapa negara seperti Jerman memiliki program khusus untuk membawa korban ke tempat yang aman dan memberikan perawatan medis serta psikologis jangka panjang.
Organisasi seperti Farida Organization, tempat Sipan Khalil bekerja, didirikan oleh para penyintas Yazidi untuk mendukung korban lainnya. Di tingkat internasional, upaya untuk menuntut keadilan terus berjalan, meski sangat lambat. Hanya segelintir petinggi ISIS yang telah diadili secara internasional untuk kejahatan terhadap Yazidi.
Nadia Murad, dalam pidato penerimaan Nobelnya, menegaskan: “Faktanya adalah penghargaan satu-satunya di dunia yang bisa mengembalikan martabat kami adalah keadilan.” Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap statistik, ada manusia yang membutuhkan pengakuan dan keadilan agar dapat benar-benar pulih.
Harapan untuk membebaskan ribuan perempuan Yazidi yang masih hilang dan mengadili semua pelaku kejahatan ini tetap menyala, didorong oleh keberanian para penyintas yang tak lagi diam.
