Dari Sirene Meraung Hingga Ketinggian air terus naik hingga saat ini, kurang lebih ketinggian 1 meter atau seperut orang dewasa ungkap, seorang warga, menggambar detik-detik mencekam yang menyergap Bekasi saat pagi buta, Kamis, 29 Januari 2026.
Ketenangan pagi di Bekasi pecah oleh deru hujan deras yang tak henti dan sirene peringatan yang meraung-raung. Dalam hitungan jam, genangan berubah menjadi banjir besar yang melumpuhkan kota. Ketinggian air mencapai satu meter di beberapa permukiman, memaksa warga mengungsi dengan perahu karet.
Kejadian ini bukan hanya sekadar hujan lebat biasa, tetapi gabungan dari curah hujan tinggi di Bekasi dan kiriman air dari wilayah hulu seperti Bogor yang membuat sungai-sungai tak mampu menahan beban.
Kronologi Banjir yang Meluas
Pukul 05.00 WIB, warga di Perumahan Jatibening Permai, Pondok Gede, sudah melihat genangan setinggi 30 cm. Namun, air tak juga surut. Justru, dalam waktu singkat, ketinggiannya terus bertambah. Pukul 07.00 WIB, banjir telah meluas ke beberapa titik lain seperti Pondok Sani, Pejuang Pratama, dan Harapan Indah dengan ketinggian air semata kaki. Sore harinya, giliran Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi yang terendam dengan ketinggian air mencapai 60 hingga 120 sentimeter.
Peta penyebaran banjir di Bekasi menunjukkan betapa luasnya dampak yang terjadi:
Upaya Penyelaamatan dan Duka Warga
Menyaksikan air yang terus naik, warga langsung bertindak cepat. Kendaraan pribadi segera dievakuasi ke tempat yang lebih aman sejak subuh. Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur TNI turun tangan melakukan evakuasi menggunakan perahu karet.
Para lansia dan anak-anak yang rentan menjadi prioritas untuk dievakuasi dengan mengenakan jas hujan. Truk penyedot air juga dikerahkan untuk mempercepat penurunan genangan, meski banyak pengendara motor yang masih nekat menerobos banjir.
Di balik upaya penyelamatan, terdapat duka dan kepasrahan warga yang sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan banjir. Kemal (26), warga Jatibening Permai, menyatakan bahwa perumahannya telah menjadi “langganan banjir” sejak tahun 2005. “Sudah 20 tahun setiap hujan pasti banjir dan ketinggian rata-rata 1 meter. Semoga pemerintah ada solusi,” harapnya, mewakili suara banyak warga yang lelah dengan rutinitas tahunan ini.
Akar Masalah dan Jejak Banjir di Sekitar Jakarta
Banjir di Bekasi tidak dapat dilihat secara terpisah. Pada hari yang sama, Jakarta juga dilanda bencana serupa. 18 RT di Jakarta terendam akibat meluapnya Kali Ciliwung, dengan ketinggian mencapai 110 hingga 150 cm di wilayah Jakarta Timur seperti Bidara Cina dan Kampung Melayu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa masalah banjir di Bekasi merupakan bagian dari sistem drainase dan sungai yang terhubung secara regional.
Di sisi lain, wilayah pesisir utara Jakarta justru bersiap menghadapi ancaman berbeda: banjir rob yang diprediksi terjadi hingga 3 Februari 2026 akibat fenomena bulan purnama dan perigee. Peringatan dini telah dikeluarkan untuk 12 wilayah termasuk Kamal Muara, Pluit, dan Marunda. Hal ini menggarisbawahi kerentanan kawasan metropolitan yang menghadapi ancaman banjir dari dua arah: air laut dari utara dan air hujan/kiriman dari selatan.
Menatap ke Depan: Mencari Solusi yang Berkelanjutan
Banjir yang kembali terjadi di Bekasi adalah alarm keras. Solusi parsial dan penanganan darurat saat banjir datang jelas tidak cukup. Diperlukan strategi terpadu dan berkelanjutan yang melibatkan penataan daerah aliran sungai, normalisasi saluran air, pengerukan sungai secara berkala, dan penegakan aturan tata ruang yang ketat. Kolaborasi antar-wilayah, terutama antara Bogor, Bekasi, dan Jakarta, mutlak diperlukan untuk mengatasi kiriman air dari hulu.
Selain itu, perbaikan sistem peringatan dini berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan sungai menjadi kunci pengurangan risiko. Harapan warga seperti Kemal untuk mendapat solusi permanen harus diwujudkan, agar “sirene meraung” dan “banjir setinggi dada” tidak lagi menjadi ritual tahunan yang mencekam.
