User-agent: * Disallow: Sitemap: https://beatlesonline.com/sitemap.xml
Evakuasi Korban Kesepuluh ATR42-500 Tuntas: Perjalanan 11 Kantong Jenazah dari Puncak Bulusaraung
Evakuasi Korban Kesepuluh ATR42-500 Tuntas: Perjalanan 11 Kantong Jenazah dari Puncak Bulusaraung

Evakuasi Korban Kesepuluh ATR42-500 Tuntas: Perjalanan 11 Kantong Jenazah dari Puncak Bulusaraung

Evakuasi Korban Kesepuluh ATR42-500 Tuntas: Tim SAR gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi jenazah korban kesepuluh dari lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung pada Jumat, 23 Januari 2026, menandai berakhirnya operasi pencarian yang penuh tantangan di medan ekstrem.

Operasi pencarian dan evakuasi untuk kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, telah resmi berakhir. Korban terakhir berhasil ditemukan pada Jumat pagi, 23 Januari 2026, menyusul temuan sembilan korban lainnya.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan menerima total 11 kantong jenazah (body pack) untuk proses identifikasi, yang terdiri dari 10 kantong jenazah utuh dan satu kantong berisi bagian tubuh. Jumlah ini sesuai dengan manifest pesawat yang mencatat sepuluh orang di dalam pesawat—tujuh awak dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kronologi Penemuan Korban Kesepuluh

Korban terakhir ditemukan pada Jumat, 23 Januari 2026, pukul 09.16 WITA, di area jurang pegunungan yang curam, dengan kondisi yang tidak utuh. Penemuan ini terjadi tidak jauh dari lokasi enam korban yang telah ditemukan sehari sebelumnya.

Menurut laporan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, korban kesepuluh ditemukan dalam kondisi jenazah dengan bagian tubuh yang tidak lengkap, situasi yang mirip dengan enam jenazah lain yang ditemukan sebelumnya. Dua korban pertama telah berhasil diidentifikasi sebagai Deden Maulana (pegawai KKP) dan pramugari Florencia Lolita Wibisono.

Tantangan Ekstrem Medan Evakuasi

Proses evakuasi dari Gunung Bulusaraung menghadapi tantangan luar biasa karena medan yang terjal dan lokasi jatuhnya pesawat yang sangat sulit diakses. Kepala Basarnas menjelaskan bahwa lokasi jatuhnya pesawat berada jauh dari jalur pendakian biasa yang digunakan wisatawan.

Tim SAR bahkan membutuhkan waktu lebih dari satu hari hanya untuk mencapai lokasi jatuhnya pesawat. Saking sulitnya, Basarnas sampai meminta bantuan warga lokal yang biasa mencari madu di gunung tersebut untuk membantu menuntun tim menuju lokasi.

“Untuk tim SAR yang sudah ada di pos terdekat ini, untuk menuju ke sana saja juga masih belum bisa menemukan, memutar itu bisa sampai diperkirakan 1 hari juga masih belum bisa mendekat itu,” jelas Syafii dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR.

Proses Identifikasi dan 11 Kantong Jenazah

Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, menjelaskan bahwa dari 11 kantong jenazah yang diterima, satu di antaranya hanya berisi potongan tulang. Hal ini menjelaskan mengapa jumlah kantong jenazah (11) berbeda dengan jumlah penumpang dalam manifes pesawat (10 orang).

Proses identifikasi dilakukan secara teliti dan saintifik dengan metode pemeriksaan fisik, pencocokan data postmortem dan antemortem, serta pemeriksaan DNA jika diperlukan. Seluruh sampel pembanding dari keluarga korban telah diperoleh dari Polda Jawa Barat, Polda Metro Jaya, dan Polda Jawa Tengah.

Ringkasan Data Korban dan Proses Evakuasi

AspekKeterangan
Total orang dalam manifes10 orang (7 awak + 3 penumpang KKP)
Total kantong jenazah yang dievakuasi11 kantong (10 jenazah utuh + 1 bagian tubuh)
Tanggal penemuan korban terakhir23 Januari 2026, pukul 09.16 WITA
Lokasi jatuhnya pesawatGunung Bulusaraung, perbatasan Kab. Maros dan Pangkep, Sulsel
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasiLebih dari 1 hari
Metode identifikasiSidik jari, gigi, properti, ciri medis, DNA

Kronologi Lengkap Kecelakaan dan Evakuasi

Pesawat ATR 42-500 yang di-charter Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.

Lokasi jatuhnya pesawat berhasil ditemukan pada Minggu, 18 Januari 2026, setelah operasi pencarian intensif yang melibatkan unsur udara dan darat. Tim SAR gabungan kemudian memulai proses evakuasi yang rumit akibat medan yang ekstrem.

Kotak hitam pesawat (FDR dan CVR) berhasil ditemukan pada Rabu, 21 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WITA, dan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk investigasi lebih lanjut.

Investigasi Awal oleh KNKT

Berdasarkan informasi awal dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pesawat ATR 42-500 tersebut keluar jalur penerbangan sebelum jatuh. Pengatur Lalu Lintas Udara di Makassar telah mengarahkan pesawat untuk menuju jalur tertentu sebagai persiapan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, tetapi pesawat tidak berada pada jalur yang seharusnya.

“Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya,” tutur Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR.

Proses evakuasi sempat terkendala cuaca buruk yang menyebabkan perbukitan tertutup total, menghalangi evakuasi menggunakan pesawat yang seharusnya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai lokasi.

Evakuasi Korban Kesepuluh ATR42-500 Tuntas: Perjalanan 11 Kantong Jenazah dari Puncak Bulusaraung

Timeline Proses Evakuasi

  1. 17 Januari 2026: Pesawat hilang kontak
  2. 18 Januari 2026: Lokasi jatuhnya pesawat ditemukan
  3. 20-21 Januari 2026: Dua jenazah pertama dievakuasi
  4. 21 Januari 2026: Kotak hitam ditemukan
  5. 22 Januari 2026: Enam jenazah ditemukan, satu dievakuasi
  6. 23 Januari 2026: Korban terakhir ditemukan, seluruh evakuasi tuntas

Penutupan Operasi SAR

Dengan ditemukannya korban terakhir, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii secara resmi menyatakan operasi pencarian dan evakuasi selesai pada Jumat, 23 Januari 2026 malam.

“Operasi pencarian dan evakuasi terhadap kecelakaan pesawat ATR 42-500, saya nyatakan selesai,” kata Syafii dalam jumpa pers.

Seluruh jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut. Tim DVI Polda Sulsel kemudian berhasil mengidentifikasi seluruh korban pada Sabtu, 24 Januari 2026, berdasarkan pemeriksaan sidik jari, gigi, properti, dan ciri medis.

Refleksi Akhir

Operasi evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung merupakan kerja keras tim SAR gabungan yang menghadapi tantangan medan ekstrem dan cuaca buruk. Dedikasi tim dalam menemukan dan mengevakuasi seluruh korban, meski dalam kondisi yang tidak utuh, menunjukkan komitmen untuk memulangkan setiap korban kepada keluarganya.

Proses identifikasi yang teliti oleh tim DVI memastikan setiap korban dapat dikembalikan kepada keluarganya dengan identitas yang jelas, memberikan sedikit kepastian di tengah duka yang mendalam. Investigasi oleh KNKT diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan memberikan pelajaran berharga bagi peningkatan keselamatan penerbangan di Indonesia.

author

Clara Host Berita Akurat

Pencarian Berita Akurat 2026 Berakhir Di Sini. Update Terkini & Terverifikasi Pencarian berita akurat 2026 Anda berakhir di sini. Akses update perdana & informasi terverifikasi seputar berita terbaru, ekonomi, dan teknologi.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *