Evakuasi Medis Gaza KeMesir Di tengah reruntuhan yg masih menyisakan bau mesiu, secercah harapan akhirnya menembus blokade yg telah berlangsung hampir dua tahun. Pada Senin, 2 Februari 2026, perbatasan Rafah—satu-satunya pintu keluar Jalur Gaza yang tidak dikontrol langsung oleh Israel—kembali dibuka dengan sangat terbatas. Momen yang dinanti-nanti ribuan keluarga itu diwarnai oleh pemandangan ambulans yang mengantre, siap mengangkut korban perang Palestina yang terluka parah untuk mendapatkan perawatan yang tidak lagi tersedia di tanah air mereka yang hancur.
Pembukaan ini adalah langkah kunci dalam fase kedua gencatan senjata yang dibrokering AS, tetapi para pengamat menyebutnya lebih bersifat simbolis dibandingkan solusi nyata. Mesir telah menyiapkan ratusan ambulans dan puluhan rumah sakit, namun hanya segelintir orang yang diizinkan melintas di hari pertama.
Kronologi Pembukaan Kembali “Jalur Penyambung Hidup”
Perbatasan Rafah bukan sekadar pos pemeriksaan; ia adalah simbol penghubung Gaza dengan dunia luar dan sering disebut sebagai “jalur penyelamat”. Penutupannya oleh pasukan Israel pada Mei 2024 membuat wilayah itu terisolasi parah, memutus akses utama untuk evakuasi medis, pasokan kemanusiaan, dan reunifikasi keluarga.
Berikut adalah garis waktu dan fakta kunci pembukaannya kembali:
Gaza: Krisis Kesehatan yang Telah Ambruk
Dibalik angka-angka kuota yang kecil, tersimpan darurat kemanusiaan berskala besar. Sistem kesehatan Gaza telah “dihancurkan sepenuhnya” oleh militer Israel. Serangan udara bahkan menghancurkan satu-satunya rumah sakit spesialis kanker di Gaza pada Maret 2025. Dokter-dokter yang masih bertahan terpaksa bekerja di klinik darurat tanpa peralatan yang memadai, listrik, dan obat-obatan.
Kebutuhan untuk keluar bukanlah pilihan, tapi soal hidup dan mati. Ada sekitar 11.000 pasien kanker dan ribuan lainnya dengan luka traumatis kompleks yang mustahil ditangani di Gaza. Tragisnya, minimal 1.268 orang dilaporkan telah meninggal saat menunggu transfer medis sejak Rafah ditutup. Kisah Dalia Abu Kashef (28), yang meninggal karena gagal mendapatkan transplantasi hati, adalah salah satu contoh pilu dari banyaknya korban yang datang terlambat.
Mekanisme Evakuasi dan Persiapan di Sisi Mesir
Proses evakuasi dimulai dari rumah sakit di Gaza, di mana pasien-pasien kritis telah terdaftar oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Setelah mendapatkan panggilan, mereka dibawa ke perbatasan. Di sisi Mesir, ratusan ambulans telah menunggu berjam-jam.

Mesir telah melakukan persiapan besar-besaran untuk menyambut korban:
- 150 rumah sakit di seluruh Mesir telah disiagakan.
- 300 ambulans dan 12.000 dokter telah dialokasikan khusus untuk menangani pasien Palestina.
- Palang Merah Mesir (Egyptian Red Crescent) menyiapkan “ruang aman” di sisi perbatasan untuk pertolongan pertama dan transit.
Dua Sisi Harapan: Kisah di Balik Angka
Pembukaan Rafah bukan sekadar tentang angka statistik, tapi tentang narasi manusia yang panjang.
- Bagi yang Terjebak di Luar: Raed Belal (51), yang sedang berobat di Mesir saat perang pecah, terpisah dari istri dan anak-anaknya selama dua tahun. Dia kehilangan beberapa anggota keluarganya akibat serangan Israel dan harus mengungsi berkali-kali. “Saya akan kembali ke tanah air walau semua sudah hancur,” katanya penuh rindu.
- Bagi yang Menunggu di Dalam: Rajaa Abu Mustafa menunggu di luar rumah sakit di Gaza. Putranya yang berusia 17 tahun, Mohamed, buta setelah tertembak di mata saat mengantre bantuan makanan. “Kami telah menunggu penyeberangan ini dibuka… Kementerian Kesehatan memberi tahu kami bahwa kami akan pergi ke Mesir untuk pengobatannya,” ujarnya penuh harap.
- Bagi yang Kehilangan: Mohammad Nassir, yang kakinya diamputasi akibat serangan, menggambarkan Rafah sebagai “jalur penyelamat”. Dia hanya ingin bisa menjalani operasi yang tak tersedia di Gaza.
Jalan Panjang di Depan: Tantangan dan Kerapuhan
Meski menjadi perkembangan positif, pembukaan Rafah saat ini masih sangat rapuh dan penuh tantangan.
- Kapasitas yang Tidak Seimbang: Kuota 150 orang per hari sangat tidak memadai dibandingkan dengan daftar tunggu 20.000 pasien kritis. Seorang dokter Gaza dengan tegas menyatakan, “Mengizinkan hanya 50 pasien keluar dari Gaza setiap hari tidaklah tepat… Ini adalah pembunuhan berencana.”
- Gencatan Senjata yang Rapuh: Pembukaan terjadi dalam kerangka gencatan senjata yang tetap rentan. Pada hari yang sama dengan evakuasi pertama, seorang balita Palestina berusia 3 tahun tewas akibat tembakan angkatan laut Israel di kamp pengungsian.
- Politik yang Rumit: Israel mengontrol sepenuhnya siapa yang boleh keluar, dengan alasan keamanan. Mesir juga bersikeras bahwa perbatasan harus tetap terbuka untuk lalu lintas dua arah, khawatir Israel akan memanfaatkannya untuk mengusir warga Palestina secara permanen dari Gaza.
Pintu perbatasan Rafah kini terbuka, tetapi hanya selebar celah. Ia membawa harapan sekaligus mengungkap kepedihan yang dalam. Setiap ambulans yang melintas membawa kisah pilu sebuah bangsa yang terluka, dan mengingatkan dunia bahwa pemulihan hakiki Gaza—baik secara fisik maupun kemanusiaan—masih memerlukan perjalanan yang sangat panjang.
