User-agent: * Disallow: Sitemap: https://beatlesonline.com/sitemap.xml

Site icon Pencarian berita akurat 2026 Anda berakhir di sini. Akses update perdana & informasi terverifikasi seputar berita terbaru, ekonomi, dan teknologi.

Gaza Berduka Lagi: Korban Tewas Akibat Serangan Israel Bertambah Jadi 23 Orang

Gaza Berduka Lagi Serangan Israel di Jalur Gaza pada Rabu, 4 Februari 2026, menambah lagi daftar panjang korban sipil di wilayah tersebut. Sedikitnya 23 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan udara dan tembakan artileri yang terjadi di tengah rentetan gencatan senjata. Serangan-serangan ini tidak hanya merenggut nyawa anak-anak dan perempuan, tetapi juga seorang paramedis yang sedang bertugas, menggarisbawahi betapa rapuhnya perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan di zona konflik.

Duka di Bawah Reruntuhan dan Tenda Pengungsian

Serangan hari Rabu menyasar berbagai lokasi di Gaza, dari permukiman hingga kamp pengungsian yang seharusnya menjadi tempat aman.

Berikut rincian beberapa serangan utama berdasarkan laporan dari Gaza:

Lokasi SeranganJenis SeranganKorban JiwaKeterangan
Khan Younis (al-Mawasi)Tembakan terhadap tenda pengungsi2 tewas, 8 terlukaKawasan yang sebelumnya dinyatakan sebagai zona aman.
Kota Gaza (al-Tuffah)Tembakan tank ke sebuah bangunan4 tewas, termasuk 2 anak (13 & 16 tahun)Menargetkan rumah keluarga Haboush.
Kota Gaza (Zeitoun)Serangan udara3 tewas, termasuk bayi 5 bulanBayi bernama Saqr Badr Al-Hatu menjadi korban.
Qizan Abu RashwanTembakan artileri ke tenda & rumah3 tewas, termasuk seorang anakMenyerang lokasi pengungsian warga.

Di Khan Younis, serangan mendadak menghancurkan tenda-tenda pengungsian di kawasan al-Mawasi. Salah satu warga, Abu Mohamed Habouch, bercerita tentang kesedihan yang mendalam. “Saat kami sedang tidur di rumah, tank menembaki kami… anak-anak kami syahid, putra saya syahid,” ujarnya, menegaskan bahwa keluarganya adalah warga sipil yang damai.

Tragedi kemanusiaan lainnya terjadi di lingkungan Zeitoun, Gaza timur, di mana sebuah serangan udara merenggut nyawa seorang bayi laki-laki berusia lima bulan bernama Saqr Badr Al-Hatu.

Paramedis Gugur Saat Bertugas: Pelanggaran Terhadap Perlindungan

Salah satu korban yang menyoroti betapa berbahayanya situasi di Gaza adalah Hussein al-Samiri, seorang paramedis dari Bulan Sabit Merah Palestina. Ia tewas dalam serangan kedua di lokasi yang sama di Khan Younis, saat sedang berusaha menolong korban dari serangan pertama. Kematiannya menggarisbawahi risiko ekstrem yang dihadapi tenaga medis di tengah konflik, meskipun mereka seharusnya dilindungi oleh hukum humaniter internasional.

Konteks yang Lebih Luas: Korban Berjatuhan di Tengah “Gencatan Senjata”

Serangan mematikan ini bukanlah insiden terisolasi. Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 500 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata fase pertama mulai berlaku pada Oktober 2025. Data hingga awal Februari 2026 menyebutkan angka korban tewas sejak gencatan senjata dimulai mencapai 509 hingga 553 orang, termasuk 179 anak-anak.

Konflik ini telah berlangsung jauh lebih lama. Sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Badan kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 71.000 warga Palestina tewas, dengan ribuan lainnya masih terkubur di bawah reruntuhan. Angka ini, setelah bertahun-tahun diragukan oleh otoritas Israel, akhirnya diakui oleh militer Israel sebagai “secara luas akurat” pada Januari 2026. Sebuah studi yang diterbitkan di The Lancet bahkan memperkirakan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya mungkin lebih tinggi dari angka resmi, karena banyak kematian tidak tercatat akibat runtuhnya sistem kesehatan.

Penyebab dan Kondisi yang Memanas

Pihak militer Israel menyatakan bahwa serangan pada 4 Februari merupakan respons atas tembakan yang dilakukan milisi Palestina terhadap pasukan Israel di dekat garis gencatan senjata, yang mereka sebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian. Israel mengklaim salah satu serangan menargetkan seorang komandan peleton Hamas bernama Bilal Abu Assi, dan mereka selalu mengambil langkah untuk meminimalkan korban sipil.

Kekerasan ini terjadi dalam situasi politik yang sangat tegang. Fase kedua gencatan senjata, yang mencakup negosiasi tentang pemerintahan masa depan dan rekonstruksi Gaza, telah dideklarasikan tetapi belum membawa ketenangan. Isu-isu krusial seperti penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas masih menjadi jalan buntu. Situasi diperparah dengan pembukaan kembali penyeberangan Rafah yang tidak pasti, di mana warga Palestina melaporkan perlakuan keras seperti ditutup mata dan diinterogasi oleh tentara Israel sebelum diizinkan masuk.

Kesimpulan

Kematian 23 warga Palestina pada awal Februari 2026 adalah pengingat pilu bahwa penderitaan di Gaza belum berakhirAnak-anak, paramedis, dan keluarga yang sedang berusaha bertahan hidup terus menjadi korban dalam siklus kekerasan yang seolah tak berujung, meski pembicaraan perdamaian terus berlangsung. Pengakuan Israel terhadap besarnya angka korban jiwa merupakan langkah penting, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah tindakan nyata untuk menghentikan pertumpahan darah dan melindungi warga sipil, sesuai dengan kewajiban hukum internasional. Tanpa upaya yang tulus dan berkelanjutan untuk perdamaian, daftar korban di Gaza hanya akan terus bertambah panjang.

Exit mobile version