James, Earl of Wessex Di tengah hiruk-pikuk drama Kerajaan Inggris yang tak pernah sepi dari intrik, pencopotan gelar, dan skandal memalukan, seorang pemuda berusia 18 tahun justru melakukan hal sebaliknya. Ia tak dipecat, tak diusir, tak dipermalukan. Ia memiliki hak penuh atas gelar pangeran—lalu dengan tenang menolaknya. Inilah kisah James, Earl of Wessex, sepupu Pangeran William yang memilih hidup tanpa mahkota.
👑 Bukan Sekadar “Tidak Ingin”, Tapi Pilihan Hidup yang Sadar
Sementara nama-nama besar seperti Pangeran William, Kate Middleton, Pangeran Harry, dan Meghan Markle terus menghiasi headline media global, ada anggota keluarga kerajaan lain yang justru sibuk menjauh dari sorotan. Mereka tak pernah bermimpi tampil di balkon Istana Buckingham, tak pernah ingin disapa “Yang Mulia”, dan tak pernah merasa bahwa gelar adalah takdir yang harus dijalani.
James, Earl of Wessex, adalah contoh paling mutakhir dari fenomena langka ini. Putra bungsu Pangeran Edward dan Sophie, Duchess of Edinburgh ini baru saja menginjak usia 18 tahun pada Desember 2025—usia di mana ia secara otomatis berhak menyandang gelar HRH Prince James of Wessex .
Tapi ia menolak. Bukan dengan drama. tidak dengan konferensi pers. Bukan dengan pernyataan keras yang mengguncang media. Ia hanya… tidak mengambilnya. Diam-diam, tanpa gegap gempita, tanpa pengumuman resmi. Dan dunia nyaris tidak menyadarinya .
🕵️ Siapa James, Earl of Wessex?
James adalah cucu bungsu mendiang Ratu Elizabeth II, anak dari Pangeran Edward—putra bungsu Ratu—dan Sophie Rhys-Jones. Ia lahir pada 17 Desember 2007 dan saat ini berada di urutan ke-16 garis suksesi takhta Inggris .
Sepanjang 18 tahun hidupnya, James hampir tidak pernah menjadi pusat perhatian. Namanya jarang disebut media. Fotonya nyaris tidak pernah viral. Ia tumbuh dalam bayang-bayang sepupu-sepupunya yang lebih terkenal, dan itu persis seperti yang ia inginkan.
Bersama kakak perempuannya, Lady Louise Mountbatten-Windsor, James dibesarkan dengan filosofi yang sangat berbeda dari kebanyakan anggota keluarga kerajaan: bahwa mereka harus bekerja untuk hidup, bukan hidup dari warisan dan gelar .
🚫 “Gelar Adalah Hal Terakhir yang Menarik Perhatiannya”
Ketika seorang remaja berusia 18 tahun yang baru saja berhak menyandang titel pangeran, apa yang biasanya ia lakukan? Mungkin pesta, mungkin sesi foto eksklusif, mungkin wawancara televisi. Tapi tidak untuk James.
Menurut pakar kerajaan Richard Eden dari The Daily Mail, James sama sekali tidak tertarik merayakan usia dewasanya dengan cara-cara semacam itu. Sebaliknya, ia memilih untuk tidak menggunakan gelar kebangsawanannya sama sekali .
“Gelar adalah hal terakhir yang menarik perhatiannya,” ungkap seorang sumber kepada Eden. “Ia sama sekali tidak menjadikannya sebagai prioritas hidup.”
Sikap ini sebenarnya bukan kejutan. Sejak kecil, James dan Louise telah dididik oleh orang tua mereka untuk melihat gelar kerajaan bukan sebagai hak istimewa, melainkan sebagai beban yang harus dipikirkan masak-masak sebelum diterima.
👩👧👦 Filosofi Sophie: Membesarkan Anak untuk Hidup Mandiri
Sosok paling berpengaruh di balik keputusan James adalah ibunya, Sophie, Duchess of Edinburgh. Dalam wawancara dengan The Sunday Times, Sophie pernah secara terbuka menjelaskan pendekatan pengasuhannya :
“Kami membesarkan mereka dengan pemahaman bahwa mereka sangat mungkin harus bekerja untuk mencari penghidupan. Karena itu, kami memutuskan untuk tidak menggunakan gelar HRH. Mereka memiliki hak atas gelar tersebut dan bisa memutuskan untuk menggunakannya saat berusia 18 tahun, tetapi kemungkinan besar mereka tidak akan menggunakannya.”
Ini bukan sekadar retorika. James dan Louise benar-benar menjalani kehidupan yang relatif normal. Mereka bersekolah di institusi independen, memiliki teman-teman di luar lingkaran kerajaan, dan jauh dari tekanan menjalankan tugas-tugas monarki .
Pendekatan ini kontras tajam dengan pola asuh yang diterima sepupu-sepupu mereka—atau bahkan dengan apa yang dialami Pangeran William dan Harry di masa kecil. Edward dan Sophie benar-benar merancang agar anak-anak mereka memiliki pilihan, bukan takdir yang dipaksakan.
👧 Mengikuti Jejak Sang Kakak: Lady Louise Juga Menolak Gelar
Keputusan James sebenarnya bukan yang pertama dalam keluarga kecil Pangeran Edward. Sang kakak, Lady Louise Mountbatten-Windsor, yang kini berusia 21 tahun, juga memilih untuk tidak menggunakan gelar “Putri” meskipun secara hukum ia berhak atasnya .
Louise bahkan sempat mencuri perhatian publik karena mengikuti pelatihan militer cadangan—menjadikannya perempuan kedua dalam keluarga kerajaan Inggris yang menempuh jalur tersebut setelah Ratu Elizabeth II. Tapi di luar momen itu, Louise juga konsisten menjaga profil rendah dan menjauh dari sorotan media.
Dua bersaudara ini seperti oase di tengah gurun drama kerajaan yang terus bergolak. Mereka tidak terlibat dalam perang dingin antara William dan Harry. Tidak menjadi rebutan dalam konflik kepemilikan Royal Lodge. Mereka tidak terseret dalam pusaran skandal Epstein yang menghancurkan reputasi Paman Andrew .
Mereka hanya… hidup. Dengan tenang. Tanpa mahkota.
🔍 Kontras dengan Drama Gelar di Kerajaan Inggris
Keputusan James menolak gelar pangeran menjadi ironi manis di tengah hiruk-pikuk perebutan dan sengketa gelar yang tak kunjung reda di internal Kerajaan Inggris.
Perbandingan Sikap terhadap Gelar Kerajaan di Lingkungan Keluarga Kerajaan Inggris
Tabel di atas memperlihatkan ironi yang nyata. Di satu sisi, ada anggota keluarga yang mati-matian mempertahankan gelar meski reputasi mereka hancur lebur. Di sisi lain, ada James yang diberi gelar di piring perak, lalu dengan sopan mengembalikannya.
🌿 James dan Masa Depan Monarki yang Lebih Ramping
Keputusan James untuk menolak gelar pangeran sejatinya sejalan dengan visi Pangeran William tentang masa depan monarki. William dikenal ingin menciptakan “monarki yang lebih ramping” (slimmed-down monarchy) dengan lebih sedikit anggota kerajaan aktif yang menggunakan dana publik .
Namun, ada perbedaan fundamental. James menolak gelar karena ia sendiri tidak menginginkannya, bukan karena dipaksa atau diancam. William mungkin ingin memangkas jumlah pangeran dan putri yang mendapat hak istimewa, tetapi James justru sudah lebih dulu melakukannya—dengan sukarela, tanpa drama, tanpa perlu dikeluarkan surat keputusan kerajaan.
Inilah yang membuat kisah James begitu menarik sekaligus menyegarkan. Di tengah keluarga yang kerap tampil kaku dan penuh perhitungan, James hadir sebagai sosok yang justru terasa… biasa. Dan justru karena kebiasaannya itulah ia menjadi luar biasa.
🎯 Kesimpulan: Pangeran Tanpa Mahkota, Namun Kaya Kebebasan
James, Earl of Wessex tidak akan pernah dipanggil “Your Royal Highness”. Ia tidak akan pernah menikmati fasilitas yang melekat pada gelar pangeran. Namanya mungkin tidak akan pernah setenar Pangeran George atau Putri Charlotte. Tapi satu hal yang pasti: ia bebas.
Bebas memilih jalan hidupnya sendiri. Cuma-cuma dari bayang-bayang protokol kerajaan. Bebas dari tekanan publik yang kerap menghancurkan mental para bangsawan muda. Bebas dari ekspektasi bahwa ia harus mengabdi pada institusi yang tak pernah ia pilih untuk dilahirkan.
Di usianya yang ke-18, James membuat keputusan yang lebih dewasa dari usianya. Ia menolak menjadi pangeran. Bukan karena ia membenci keluarganya, bukan karena ia ingin memberontak, bukan karena ia sedang dalam konflik dengan Istana. Ia hanya… memilih versi terbaik dari hidupnya sendiri.
Dan dalam monarki yang selama berabad-abad mendefinisikan manusia berdasarkan gelar dan garis keturunan, tindakan diam-diam James adalah revolusi yang paling hening—namun paling bermakna.
“Mereka memiliki hak atas gelar tersebut dan bisa memutuskan untuk menggunakannya saat berusia 18 tahun, tetapi kemungkinan besar mereka tidak akan menggunakannya.”
— Sophie, Duchess of Edinburgh
Apakah Anda tertarik membaca kisah anggota kerajaan lain yang memilih jalan hidup berbeda? Simak juga profil Lady Louise Mountbatten-Windsor, kakak James yang juga memilih hidup tanpa gelar, atau Zara Tindall yang membuktikan bahwa bangsawan bisa berprestasi di dunia olahraga tanpa harus menyandang titel “putri”.
