Hal Buruk Akan Terjadi Dunia kembali menahan napas. Di tengah gemerlap peluncuran inisiatif perdamaian terbarunya yang diberi nama Board of Peace, Presiden AS Donald justru melontarkan ancaman paling gamblang dalam beberapa pekan terakhir kepada Iran. Bukan sekadar ajakan biasa, Trump memberi Tehran ultimatum tegas: bergabunglah ke dalam jalur damai yang ditawarkan, atau bersiaplah menghadapi konsekuensi yang sangat berbeda. “Bad things will happen,” ancamnya. Yang lebih mencengangkan, Trump memberikan batas waktu yang sangat spesifik: 10 hari.
🎙️ Babak 1: Ajuan di Atas Panggung Perdamaian
Momen yang kontradiktif ini terjadi di Donald J. Trump Institute of Peace di Washington D.C., Kamis (19/2/2026) waktu setempat. Di hadapan para pemimpin dan utusan dari sekitar 40 negara yang hadir dalam pertemuan perdana Board of Peace, Trump menyampaikan pidato yang sarat dengan dua sisi mata uang: perdamaian dan perang .
“Ini semua tentang kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit diwujudkan: perdamaian. Tapi kita akan mewujudkannya,” ujar Trump di awal pidatonya, seperti dikutip The Guardian . Ia kemudian mengumumkan komitmen AS senilai $10 miliar untuk inisiatif yang katanya akan fokus pada rekonstruksi Gaza dan stabilitas Timur Tengah .
Namun, nada bicaranya berubah drastis saat topik beralih ke Iran. Trump memuji upaya diplomatik utusannya, Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner, yang disebutnya telah menjalin hubungan baik dengan perwakilan Iran dalam pembicaraan tidak langsung di Jenewa dan Muscat .
Meski mengakui “pembicaraan yang baik sedang berlangsung,” Trump menegaskan bahwa sejarah telah membuktikan sulitnya mencapai kesepakatan berarti dengan Republik Islam itu . Dari sinilah ultimatum itu keluar.
📋 Babak 2: Fakta-Fakta Kunci Pernyataan Trump
Berikut adalah inti dari pernyataan Trump yang mengguncang panggung diplomatik global:
🚢 Babak 3: Antara “Langkah Lebih Jauh” dan Gelombang Perang
Apa yang dimaksud Trump dengan “langkah lebih jauh”? Jawabannya mungkin terletak pada apa yang sedang terjadi di lapangan.
Konsentrasi Kekuatan Militer AS:
Dalam beberapa pekan terakhir, AS telah secara dramatis meningkatkan postur militernya di Timur Tengah. Dua gugus tempur kapal induk—USS Abraham Lincoln yang telah tiba dan USS Gerald R. Ford yang sedang dalam perjalanan—kini berada di kawasan tersebut, dikawal oleh sembilan kapal perusak, tiga kapal tempur pesisir, dan puluhan jet tempur termasuk F-22 Raptor siluman . Ini adalah konsentrasi kekuatan laut yang sangat langka.
Trump secara spesifik menyebut pangkalan militer bersama AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, sebagai lokasi yang mungkin digunakan jika diperlukan . Namun, media Inggris melaporkan bahwa pemerintah PM Keir Starmer tidak akan mengizinkan penggunaan pangkalan di wilayahnya untuk melancarkan serangan ke Iran .
Respons Militer Iran:
Teheran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggelar latihan perang di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman 20 persen minyak dunia, dan bahkan sempat menutupnya sementara untuk “latihan tembak langsung” . Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memposting ancaman di media sosial: “Lebih berbahaya dari kapal perang adalah senjata yang bisa mengirim kapal perang itu ke dasar laut” .
🤝 Babak 4: Celah Diplomasi di Tengah Badai
Di tengah ketegangan yang meningkat, pintu diplomasi sebenarnya belum sepenuhnya tertutup. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa kedua belah pihak telah mencapai “kesepakatan umum tentang beberapa prinsip panduan” dalam pembicaraan di Jenewa yang dimediasi Oman .
Laporan menyebutkan Iran bersedia untuk membatasi pengayaan uranium dan menempatkannya di bawah pengawasan internasional yang ketat . Namun, ada jurang pemisah yang dalam: AS menuntut penghentian total pengayaan uranium oleh Iran, sementara Tehran menganggap program pengayaannya adalah hak yang tidak bisa ditawar . Washington juga ingin memperluas pembahasan hingga mencakup program rudal balistik Iran, yang dengan tegas ditolak oleh para pejabat Iran sebagai prinsip pertahanan yang tidak bisa dinegosiasikan .
🏛️ Babak 5: Reaksi di Dalam Negeri dan Ancaman Perang
Di dalam negeri AS, ancaman perang menuai reaksi cepat dari Kongres. Dua anggota DPR, Ro Khanna dari Partai Demokrat dan Thomas Massie dari Partai Republik, berencana untuk memperkenalkan resolusi kekuatan perang (war powers resolution) minggu depan untuk membatasi wewenang Trump melancarkan aksi militer tanpa persetujuan Kongres .
“Perang dengan Iran akan menjadi bencana,” cuit Khanna di media sosial. Ia memperingatkan bahwa ribuan tentara AS di kawasan itu “bisa berisiko terkena serangan balasan” .
Namun, peluang resolusi tersebut untuk lolos di kedua kamis tidak terlalu kuat. Pada bulan Januari, Senat yang dikuasai Partai Republik memblokir resolusi serupa yang terkait dengan operasi militer AS di Venezuela .
🌍 Babak 6: Ironi Board of Peace
Peluncuran Board of Peace sendiri menuai berbagai reaksi skeptis. Sejumlah sekutu dekat AS, termasuk negara-negara NATO dan Vatikan, memilih untuk tidak bergabung dan hanya mengirimkan pengamat karena khawatir inisiatif ini akan melemahkan otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) .
Bruce Jones, seorang senior fellow di Brookings Institution, menyebut inisiatif ini sebagai “campuran kacau antara ambisi dan narsisme, tanpa dilandasi upaya koherensi intelektual” .
Namun, Trump dengan enteng menjawab kritik tersebut. Ia mengatakan bahwa Board of Peace akan “hampir seperti mengawasi PBB dan memastikannya berjalan dengan baik” .
✍️ Kesimpulan: Dua Jalur, Satu Tujuan?
Trump telah menempatkan Iran di persimpangan yang sangat jelas dalam 10 hari ke depan. Satu jalur mengarah ke meja perundingan dengan iming-iming investasi dan stabilitas melalui Board of Peace. Jalur lainnya adalah jurang konflik militer yang dalam dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.
Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut telah membangun hubungan baik dengan perwakilan Iran . Apakah hubungan baik itu cukup untuk menjembatani jurang perbedaan yang dalam? Ataukah dunia akan menyaksikan babak baru konflik di Timur Tengah dalam hitungan hari?
Seperti yang dikatakan Trump sendiri, “Dalam 10 hari ke depan, Anda akan mengetahuinya.”
Dunia kini menanti, dengan napas tertahan.
👉 Bagikan artikel ini untuk terus mengikuti perkembangan dramatis antara diplomasi dan ancaman perang AS-Iran yang memasuki babak krusial.
