Kataib Hizbullah Tuntut Semua Tentara Asing Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah kelompok bersenjata berpengaruh di Irak, Kataib Hizbullah (KH), secara resmi mengultimatum seluruh kekuatan asing untuk angkat kaki dari negara tersebut. Di tengah situasi yang semakin tidak stabil dan derasnya serangan drone ke fasilitas diplomatik Amerika Serikat (AS), kelompok yang didukung penuh oleh Iran ini menegaskan bahwa “keamanan Irak tidak akan tercapai sampai tentara asing terakhir pergi” . Simak fakta-fakta lengkapnya berikut ini!
Pernyataan Tegas: “Tidak Ada Stabilitas Selama Amerika Masih Ada”
Seruan ini disampaikan secara langsung oleh kepala keamanan baru Kataib Hizbullah, Abu Mujahid al-Assad, pada Selasa (17/3/2026) waktu setempat . Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh AFP, ia dengan gamblang menyebut Amerika Serikat sebagai biang kerok ketidakstabilan di Irak.
“Ketidakstabilan Irak disebabkan oleh kehadiran Amerika yang jahat, dan keamanan tidak akan tercapai sampai tentara asing terakhir meninggalkan wilayah Irak,” tegas Abu Mujahid al-Assad .
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Kelompok yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat sejak 2009 ini adalah aktor utama di balik gelombang serangan yang melanda Irak dalam beberapa pekan terakhir . Mereka merupakan bagian dari payung besar “Perlawanan Islam di Irak“ yang secara konsisten menyerukan penarikan pasukan AS dan telah lama menjadi ujung tombak konflik proksi antara Teheran dan Washington di tanah Mesopotamia .
Gelombang Serangan: Dari Hotel Mewah hingga Jantung Kekuasaan AS
Tuntutan ini langsung diikuti dengan aksi nyata di lapangan. Hanya beberapa jam setelah pernyataan al-Assad, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad menjadi sasaran serangan drone pada Rabu (18/3/2026) dini hari .
Ledakan terdengar di atas Zona Hijau, kawasan superketat yang menjadi pusat pemerintahan Irak dan markas diplomatik asing. Saksi mata melihat api di halaman Kedubes AS, yang dikonfirmasi oleh pejabat keamanan Irak sebagai akibat serangan drone . Serangan ini merupakan yang terbaru dari rentetan panjang aksi milisi pro-Iran. Sehari sebelumnya, pada Senin (16/3), lantai atas Hotel Al-Rasheed—hotel mewah di jantung Zona Hijau—juga dihantam drone, meski tidak menimbulkan korban jiwa .
Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, dengan cepat mengutuk insiden tersebut sebagai “serangan teroris terang-terangan” dan mendesak pasukan keamanan untuk menindak tegas “kelompok-kelompok penjahat” yang tidak disebutkan namanya . Namun, selama ini pemerintah Irak dikenal kesulitan—atau enggan—untuk mengendalikan milisi yang secara struktural terintegrasi dalam Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) , sebuah badan paramiliter resmi negara .
Siapa Kataib Hizbullah? “Tangan” Iran di Irak
Untuk memahami besarnya ancaman ini, kita perlu mengenal siapa Kataib Hizbullah. Didirikan pada tahun 2007, kelompok ini adalah salah satu milisi Syiah Irak yang paling kuat dan memiliki hubungan darah dengan Korps Garda Revolusi Islam–Pasukan Quds (IRGC-QF) Iran .

Berikut adalah profil singkat kelompok yang menjadi momok bagi kepentingan Barat di Irak:
Sejak konflik terbaru pecah pada 28 Februari 2026, milisi ini disebut-sebut telah melakukan lebih dari 500 serangan terhadap pangkalan dan kepentingan AS di Irak dan Suriah . Mereka dipersenjatai dengan rudal, drone canggih, dan IED yang tidak hanya mengancam personel militer, tetapi juga warga sipil dan diplomat asing .
Eskalasi dan Ancaman: “Membakar Irak Demi Menyelamatkan Iran”?
Para analis memperingatkan bahwa eskalasi ini adalah taktik lama Iran yang menggunakan “proksi” untuk menghukum musuh tanpa harus terlibat langsung. Seperti yang ditulis dalam analisis The Jerusalem Post, milisi ini mungkin memasuki fase “Assad, atau kami membakar negara” —sebuah strategi brutal yang menyatakan bahwa jika tekanan terhadap Iran terus berlanjut, mereka akan menghancurkan stabilitas Irak .
Ancaman ini bukan isapan jempol. Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini memerintahkan seluruh warga negaranya untuk “meninggalkan Irak sekarang” melalui jalur darat, mengingat tingginya risiko penculikan dan serangan . Peringatan ini muncul setelah serangan langsung yang merusak sistem pertahanan udara Kedubes AS di Zona Hijau .
Kesimpulan: Irak di Ambang “Perang Proksi” Total
Tuntutan Kataib Hizbullah agar semua tentara asing hengkang dari Irak bukanlah seruan damai, melainkan deklarasi perang terbuka terhadap pengaruh Amerika Serikat. Dengan serangan yang terus meningkat, korban berjatuhan dari kedua sisi, dan pemerintah pusat yang tak berdaya, Irak kini berada di ambang jurang eskalasi konflik yang lebih dalam.
Di tengah panasnya konflik Iran-Israel, Irak telah menjadi medan tempur baru yang paling panas. Selama rudal masih melesat dan drone masih beterbangan di atas Baghdad, mimpi untuk mengusir “tentara asing terakhir” dari Irak akan terus dibayar dengan darah dan ledakan.
