Kehidupan Mewah para Nepo Baby Dari kartu kredit tanpa batas hingga warisan koneksi yg membuka semua pintu, dunia nepo adalah realitas di mana bakat & keturunan bertemu — menciptakan perdebatan sengit tentang meritokrasi dan kesempatan yang setara di industri hiburan dan mode.
Memahami Fenomena “Nepo Baby”
Istilah “nepo baby” merupakan gabungan dari kata “nepotisme” dan “baby,” yang mengacu pada individu yang mendapatkan kesuksesan di bidang yang sama atau mirip dengan orang tua mereka, berkat selebritas, modal sosial, atau kekayaan yang diwariskan. Meski sering digunakan dengan konotasi negatif untuk menyebut mereka yang dianggap suksesnya “tidak pantas”, istilah ini juga menjadi bagian dari analisis tentang bagaimana akses dan koneksi bekerja di industri kreatif. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi menjadi sorotan tajam pada 2022 hingga dinyatakan sebagai “Tahun Nepo Baby” oleh majalah New York.
Profil: Nicola Peltz, Aktris dari Dinasti Bisnis
Nicola Peltz adalah contoh sempurna dari “nepo baby” yang datang dari kekayaan yang sangat besar, bukan dari keluarga Hollywood. Lahir pada 9 Januari 1995, ia adalah putri dari Nelson Peltz, seorang miliarder pengusaha Amerika yang mendanai dana investasi besar dan pernah menjabat sebagai direktur merek global seperti Heinz, dan Claudia Heffner, seorang mantan model tahun 1980-1990an.
Dibesarkan di lingkungan mewah Westchester County, New York, dengan tujuh saudara kandung, awalnya ia diarahkan untuk bermain hoki es oleh ayahnya. Namun, kecintaannya pada akting dimulai sejak kelas drama di usia 11 tahun, dan meski awalnya ditentang orang tua, mereka akhirnya mendukungnya.
Karier aktingnya dimulai dengan peran kecil di film Deck the Halls (2006). Terobosannya datang melalui peran Katara di The Last Airbender (2010) dan terutama sebagai Tessa Yeager di Transformers: Age of Extinction (2014). Ia juga dikenal dari serial TV Bates Motel (2013-2015). Pada 2024, ia membuat debut penyutradaraannya dengan film Lola, yang juga ia tulis dan bintangi.
Di luar dunia akting, namanya semakin dikenal publik setelah menikahi Brooklyn Beckham, putra dari David dan Victoria Beckham, pada 2022 dalam sebuah pernikahan mewah di Palm Beach, Florida. Meski hidup dalam kemewahan, ia mengaku mendapat banyak komentar negatif di media sosial yang menuduhnya “tidak bekerja”.
Potret Lain Nepo Baby dengan Kehidupan Super Mewah
Gaya hidup Nicola bukan satu-satunya yang mencengangkan. Dunia maya juga dihebohkan oleh figur lain yang dengan terbuka menceritakan kehidupan mewah mereka berkat dukungan finansial orang tua, dengan uang jajan yang mencapai miliaran rupiah per bulan:
- Daphne Blunt: Selebgram berusia 28 tahun ini mengaku menerima uang jajan hingga Rp 1,6 miliar per bulan dari ayahnya, seorang tokoh keuangan ternama. Wanita lulusan Georgetown yang menyebut dirinya ‘haute hedonist’ ini menghabiskan Rp 839 juta hingga Rp 1,6 miliar per bulan untuk barang-barang mewah, termasuk tas Birkin 25 seharga Rp 419 juta dan koleksi vintage Chanel. Ia beralasan bahwa orang tuanya bekerja keras untuk memberinya kehidupan itu.
- Dorna Kash: Dikenal sebagai “anak raja minyak”, ia terkenal dengan gaya hidupnya yang fantastis, menghabiskan Rp 8,3 miliar hingga Rp 15 miliar setiap bulan khusus untuk liburan eksotis ke tiga kota mewah berbeda. “Uang yang bisa aku belanjakan tidak terbatas,” ujarnya, sambil menjelaskan bahwa ia tidak perlu merencanakan atau membawa banyak barang karena bisa membeli semua kebutuhan di tempat tujuan.
Nepo Baby yang Mendominasi Dunia Fashion
Sementara itu, industri mode telah lama menjadi rumah bagi “nepo baby”, di mana nama keluarga memberikan akses instan ke panggung dan kampanye tertinggi. Berikut beberapa contoh menonjol:
Keistimewaan yang Diwariskan vs. Pekerjaan Keras
Industri mode dianggap sangat rentan terhadap nepotisme. Memiliki wajah yang sudah familiar dan dukungan finansial dari keluarga memberikan keuntungan besar dalam industri yang terkenal dengan bayaran rendah untuk sebagian besar pekerja, selain juga memberi akses ke jaringan selebritas yang berpengaruh. Seperti dikatakan sebuah artikel Vulture, “Bagi brand-brand, generasi kedua dari orang-orang terkenal ini adalah uang di bank”.
Namun, perdebatan terus berlanjut. Beberapa anak selebritas, seperti Lily-Rose Depp, merasa istilah “nepo baby” sering kali diarahkan secara seksistis. Di sisi lain, model seperti Anok Yai (yang berasal dari keluarga pengungsi) menyoroti perjuangan ekstra yang dihadapi mereka tanpa privilese koneksi warisan.
Banyak “nepo baby” sendiri mengakui keistimewaan mereka. Sebagai contoh, aktris Fernanda Torres, yang memenangkan Golden Globe, mengakui bahwa lingkungan keluarga membantunya belajar, tetapi menekankan bahwa “hidupmu tidak otomatis terselesaikan… kamu harus menciptakan dirimu sendiri”.
Menyimpulkan Fenomena Sosial yang Kompleks
Dunia “nepo baby” memperlihatkan percampuran antara bakat, kerja keras, dan kesempatan yang tidak setara. Koneksi dan keamanan finansial dari keluarga memang membuka pintu yang bagi kebanyakan orang tertutup rapat, seperti yang terlihat dari kisah Nicola Peltz, Daphne Blunt, atau para model anak selebritas. Namun, bertahan dan bersinar di dalamnya sering kali tetap membutuhkan usaha dan kemampuan tersendiri.
Fenomena ini memicu refleksi yang lebih luas tentang meritokrasi: seberapa sering kesuksesan benar-benar murni dari hasil kerja keras individu, dan seberapa besar peran latar belakang dan koneksi yang diwariskan? Pertanyaan ini mungkin tidak pernah ada jawaban mutlaknya, tetapi terus mendorong diskusi tentang kesetaraan, pengakuan, dan definisi kesuksesan yang adil di dunia yang semakin terkoneksi.
Dari uang jajan miliaran rupiah hingga nama keluarga yang langsung dikenali, kehidupan para “nepo baby” memang sering kali seperti dongeng modern. Namun, kisah mereka juga menjadi cermin bagi masyarakat untuk terus mempertanyakan dan menguji nilai meritokrasi di berbagai lapisan industri kreatif global.
