Kematian Seif Al-Islam Khadafi, putra kedua & dianggap sebagai penerus mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, tewas dibunuh di rumahnya. Peristiwa ini menambah daftar panjang akhir hayat yang kelam bagi keluarga dinasti yang pernah berkuasa puluhan tahun itu
Kronologi Pembunuhan
Kabar kematian Seif Al-Islam pertama kali dikonfirmasi oleh penasihat pribadi dan kerabatnya pada awal Februari 2026.
Menurut laporan, peristiwa itu terjadi di kediamannya di Zintan, kota di barat Libya tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya. Sekelompok kecil, yang dideskripsikan sebagai empat pria bersenjata, menyerbu rumahnya. Mereka dilaporkan menonaktifkan kamera pengawas (CCTV) terlebih dahulu sebelum mengeksekusinya. Pengacaranya menyebut pelaku sebagai “anggota komando”.
Motif dan identitas pelaku masih diselidiki. Khaled al-Mishri, mantan kepala Dewan Tinggi Negara Libya, telah menyerukan investigasi “mendesak dan transparan” atas pembunuhan tersebut.
Profil Seif Al-Islam: Dari Penerus Menjanjikan ke Buronan
Kematian Seif Al-Islam menutup babak hidup seorang figur yang penuh paradoks:
- Wajah Modern Rezim: Berpendidikan Barat (meraih gelar PhD dari London School of Economics), ia kerap menjadi juru bicara internasional ayahnya dan dianggap sebagai penggerak reformasi hubungan Libya dengan dunia Barat di awal tahun 2000-an.
- “Nomor Dua” yang Setia: Meski tak punya jabatan resmi, ia dipercaya sebagai tangan kanan dan calon pewaris ayahnya. Saat pemberontakan 2011 pecah, ia tampil garang, mengancam akan bertempur “hingga peluru terakhir” dan memperingatkan Libya akan “sungai darah”.
- Hidup dalam Bayang-bayang: Setelah rezim ayahnya jatuh, ia ditangkap dan dipenjara oleh milisi Zintan dari 2011 hingga 2017. Meski dibebaskan, ia hidup dalam persembunyian di Zintan untuk menghindari ancaman. Ia pernah dijatuhi hukuman mati in absentia oleh pengadilan di Tripoli pada 2015 dan menjadi buronan International Criminal Court (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Konteks Kekerasan dan Nasib Keluarga Khadafi
Kematian Seif Al-Islam bukan yang pertama dalam keluarganya. Ia adalah anak Muammar Khadafi ketiga yang meninggal secara tragis dan kekerasan, mencerminkan gejolak politik Libya yang brutal.
Kematian Khadafi senior pada 20 Oktober 2011 mengakhiri kekuasaannya selama 42 tahun. Ia ditemukan bersembunyi di saluran pembuangan di Sirte, diseret, dipukuli, dan akhirnya ditembak. Kematiannya yang penuh kekerasan menuai kecaman internasional sebagai eksekusi di luar hukum. Jenazahnya dan Mutassim sempat dipajang publik sebelum dimakamkan secara rahasia di gurun.
Implikasi bagi Libya
Kematian Seif Al-Islam terjadi dalam konteks Libya yang masih terpecah belah pasca-2011. Negara ini memiliki dua pemerintahan saingan dan dikuasai oleh berbagai milisi berpengaruh. Seif Al-Islam sempat disebut-sebut sebagai figur yang mungkin dapat menyatukan beberapa faksi, termasuk pendukung rezim lama. Kematiannya kemungkinan akan:
- Mengakhiri narasi potensial tentang restorasi simbolis dari era Khadafi.
- Memperlihatkan kerapuhan keamanan dan mudahnya aksi kekerasan ditargetkan, bahkan di kota yang relatif tenang seperti Zintan.
- Menyisakan pertanyaan tentang rekonsiliasi nasional dan masa depan politik Libya yang tetap suram.
Penutup
Akhir hayat Seif Al-Islam bukan sekadar berita kriminal. Ia adalah cermin dari transisi Libya yang gagal: dari kediktatoran menuju keadaan yang tetap ditandai oleh kekerasan, balas dendam, dan ketiadaan hukum yang kuat. Kisahnya yang berakhir tragis di rumahnya sendiri menegaskan bahwa, bagi keluarga Khadafi dan bagi Libya secara keseluruhan, lingkaran kekerasan dari era revolusi 2011 masih belum terputus. Ia mati bukan sebagai penerus atau pengklaim tahta, tetapi sebagai simbol dari sebuah bangsa yang masih berjuang mencari jalan keluar dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam.
