Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengambil langkah responsif untuk menginvestigasi penyebab dan dampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa pihaknya akan segera menurunkan tim ahli untuk melakukan kajian mendalam berbasis saintifik terhadap lanskap pascabencana.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa langkah penanganan dan pemulihan ke depan tidak berdasarkan perkiraan, tetapi pada data ilmiah yang akurat. Kajian ini akan mencakup analisis kondisi tanah, vegetasi, serta pemetaan potensi risiko bencana susulan.
Kajian Saintifik: Dasar untuk Mitigasi Jangka Panjang
Menteri Hanif menekankan bahwa pendekatan saintifik adalah kunci mutlak dalam menangani masalah lingkungan. “Kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira,” tegas Hanif, seraya menyebut metode serupa pernah diterapkan di sejumlah wilayah di Sumatera.
Urbanisasi dan Perubahan Pola Konsumsi: Pemicu Alih Fungsi Lahan
Di luar analisis teknis tanah, Menteri Hanif menyoroti akar masalah yang lebih sistemik. Ia menghubungkan kerentanan kawasan tersebut dengan dampak urbanisasi masif dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
“Ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan,” ujarnya, mencontohkan permintaan tinggi terhadap sayuran seperti kentang, kol, dan paprika. Jenis tanaman subtropis ini, yang biasanya tumbuh optimal di ketinggian 800-2.000 mdpl, kini banyak dibudidayakan di lereng-lereng Indonesia.
Tekanan untuk memenuhi kebutuhan pangan ini mendorong ekspansi pertanian intensif hingga ke daerah pegunungan, mengubah hutan dan lahan berlereng menjadi hamparan pertanian. Padahal, karakter ekosistem lokal tidak sepenuhnya sesuai untuk budidaya jenis tanaman tersebut secara masif, sehingga memperlemah struktur tanah.
Rantai Penyebab Kerentanan Longsor
Tekanan urbanisasi mendorong pola konsumsi baru (contoh: sayuran subtropis).
Kebutuhan pasar yang tinggi memicu pembukaan lahan pertanian baru di lereng pegunungan. Alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian intensif mengurangi daya dukung dan stabilitas lereng. Lereng yang terganggu menjadi sangat rentan terhadap pemicu langsung seperti curah hujan tinggi.
Solusi Berbasis Alam untuk Ketahanan Jangka Panjang
Untuk membangun ketahanan lingkungan jangka panjang, pendekatan Nature-Based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam dinilai sangat relevan. Konsep ini mengintegrasikan ekosistem alami ke dalam strategi mitigasi bencana.
Di daerah rawan longsor seperti Cisarua, reforestasi (penanaman hutan kembali) dan terasering hijau dapat menjadi solusi untuk menstabilkan tanah dan mencegah erosi. Memulihkan vegetasi asli dengan akar yang kuat adalah langkah krusial untuk memulihkan fungsi ekologis lereng.
Pembangunan infrastruktur hijau, seperti sistem drainase berkelanjutan dan taman resapan, juga dapat membantu mengelola limpasan air hujan di kawasan hulu, mengurangi beban air yang meresap ke tanah lereng. Selain mencegah bencana, pendekatan ini juga menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan dan berkelanjutan.
Kolaborasi dan Langkah ke Depan
Menteri Hanif menyatakan bahwa tim ahli KLH akan berkolaborasi secara erat dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat di bawah pimpinan Bupati. Kerja sama ini penting untuk memastikan rekomendasi ilmiah dari kajian dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan perencanaan tata ruang di tingkat daerah.
Kajian menyeluruh ini diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi pelajaran berharga untuk kebijakan pengelolaan lahan dan mitigasi bencana di daerah pegunungan lain di Indonesia. Dengan demikian, tragedi serupa di masa depan dapat dicegah melalui perencanaan yang lebih matang dan berbasis ilmu pengetahuan.
To provide the best experiences, we use technologies like cookies to store and/or access device information. Consenting to these technologies will allow us to process data such as browsing behavior or unique IDs on this site. Not consenting or withdrawing consent, may adversely affect certain features and functions.