User-agent: * Disallow: Sitemap: https://beatlesonline.com/sitemap.xml

Site icon Pencarian berita akurat 2026 Anda berakhir di sini. Akses update perdana & informasi terverifikasi seputar berita terbaru, ekonomi, dan teknologi.

Kementerian LH Kerahkan Tim Ahli untuk Selidiki Longsor Cisarua, Soroti Dampak Urbanisasi

Kementerian LH Kerahkan Tim Ahli Untuk Selidiki Pasca bencana tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menurunkan tim ahli untuk kajian ilmiah mendalam. Temuan awal menyoroti kaitan erat antara alih fungsi lahan untuk pertanian intensif dan tekanan urbanisasi sebagai pemicu kerentanan lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengambil langkah responsif untuk menginvestigasi penyebab dan dampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa pihaknya akan segera menurunkan tim ahli untuk melakukan kajian mendalam berbasis saintifik terhadap lanskap pascabencana.

Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa langkah penanganan dan pemulihan ke depan tidak berdasarkan perkiraan, tetapi pada data ilmiah yang akurat. Kajian ini akan mencakup analisis kondisi tanah, vegetasi, serta pemetaan potensi risiko bencana susulan.

Kajian Saintifik: Dasar untuk Mitigasi Jangka Panjang

Menteri Hanif menekankan bahwa pendekatan saintifik adalah kunci mutlak dalam menangani masalah lingkungan. “Kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira,” tegas Hanif, seraya menyebut metode serupa pernah diterapkan di sejumlah wilayah di Sumatera.

Tim yang terdiri dari ahli dari akademisi dan badan riset ini ditargetkan dapat menyelesaikan kajian detail dalam waktu satu hingga dua minggu. Hasil analisis mereka nantinya akan menjadi fondasi bagi perumusan kebijakan pemulihan lingkungan dan strategi mitigasi bencana jangka panjang di wilayah Cisarua.

Urbanisasi dan Perubahan Pola Konsumsi: Pemicu Alih Fungsi Lahan

Di luar analisis teknis tanah, Menteri Hanif menyoroti akar masalah yang lebih sistemik. Ia menghubungkan kerentanan kawasan tersebut dengan dampak urbanisasi masif dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan,” ujarnya, mencontohkan permintaan tinggi terhadap sayuran seperti kentang, kol, dan paprika. Jenis tanaman subtropis ini, yang biasanya tumbuh optimal di ketinggian 800-2.000 mdpl, kini banyak dibudidayakan di lereng-lereng Indonesia.

Tekanan untuk memenuhi kebutuhan pangan ini mendorong ekspansi pertanian intensif hingga ke daerah pegunungan, mengubah hutan dan lahan berlereng menjadi hamparan pertanian. Padahal, karakter ekosistem lokal tidak sepenuhnya sesuai untuk budidaya jenis tanaman tersebut secara masif, sehingga memperlemah struktur tanah.

Kementerian LH Kerahkan Tim Ahli untuk Selidiki Longsor Cisarua, Soroti Dampak Urbanisasi

Rantai Penyebab Kerentanan Longsor

Tekanan urbanisasi mendorong pola konsumsi baru (contoh: sayuran subtropis).

Kebutuhan pasar yang tinggi memicu pembukaan lahan pertanian baru di lereng pegunungan.
Alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian intensif mengurangi daya dukung dan stabilitas lereng.
Lereng yang terganggu menjadi sangat rentan terhadap pemicu langsung seperti curah hujan tinggi.

Solusi Berbasis Alam untuk Ketahanan Jangka Panjang

Untuk membangun ketahanan lingkungan jangka panjang, pendekatan Nature-Based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam dinilai sangat relevan. Konsep ini mengintegrasikan ekosistem alami ke dalam strategi mitigasi bencana.

Di daerah rawan longsor seperti Cisarua, reforestasi (penanaman hutan kembali) dan terasering hijau dapat menjadi solusi untuk menstabilkan tanah dan mencegah erosi. Memulihkan vegetasi asli dengan akar yang kuat adalah langkah krusial untuk memulihkan fungsi ekologis lereng.

Pembangunan infrastruktur hijau, seperti sistem drainase berkelanjutan dan taman resapan, juga dapat membantu mengelola limpasan air hujan di kawasan hulu, mengurangi beban air yang meresap ke tanah lereng. Selain mencegah bencana, pendekatan ini juga menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan dan berkelanjutan.

Kolaborasi dan Langkah ke Depan

Menteri Hanif menyatakan bahwa tim ahli KLH akan berkolaborasi secara erat dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat di bawah pimpinan Bupati. Kerja sama ini penting untuk memastikan rekomendasi ilmiah dari kajian dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan perencanaan tata ruang di tingkat daerah.

Kajian menyeluruh ini diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi pelajaran berharga untuk kebijakan pengelolaan lahan dan mitigasi bencana di daerah pegunungan lain di Indonesia. Dengan demikian, tragedi serupa di masa depan dapat dicegah melalui perencanaan yang lebih matang dan berbasis ilmu pengetahuan.

Exit mobile version