Kepala Militer Iran Dalam eskalasi ketegangan terbaru di Timur Tengah, Panglima Militer Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan pasukan Iran dalam “kesiapan defensif dan militer penuh” dan siap menghadapi setiap kesalahan yang dilakukan musuh.
Latar Belakang Ketegangan: Kapal Induk AS dan Ambisi Israel
Peringatan Jenderal Hatami pada Sabtu, 31 Januari 2026, bukan tanpa sebab. Situasi memanas setelah Amerika Serikat mengerahkan kelompok tempur angkatan laut yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan Timur Tengah. Pengerahan ini merupakan respons atas penindasan brutal oleh otoritas Iran terhadap protes antipemerintah di dalam negeri.
Sementara itu, sikap Israel dalam situasi ini cukup unik. Pemerintah Israel cenderung diam secara publik, tetapi analisis mendalam mengungkapkan hal sebaliknya. Menurut mantan pejabat intelijen Israel, Diamya ini adalah strategi untuk membiarkan AS yang memimpin tekanan terhadap Iran, sekaligus mencerminkan momen yang dianggap “keemasan” oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Israel diam-diam mendorong AS untuk melakukan serangan maksimal yang bertujuan pada perubahan rezim di Teheran, dengan keyakinan bahwa ancaman terbesar bagi keamanannya hanya akan hilang jika rezim Iran berganti.
Inti Peringatan Iran: Ancaman Balasan dan Nuklir yang Tak Terhapuskan
Berikut adalah poin-poin kunci dari pernyataan tegas Panglima Amir Hatami:
- Pasukan dalam Status Siaga Tinggi: Angkatan Bersenjata Iran berada dalam “kesiapan defensif dan militer penuh” untuk menghadapi segala kemungkinan.
- Peringatan Keras untuk Musuh: Hatami menegaskan, “Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu itu akan membahayakan keamanannya sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis”.
- Pertahanan Nuklir sebagai Harga Mati: Dalam pesan yang sangat kuat, ia menyatakan bahwa teknologi nuklir Iran “tidak dapat dilenyapkan”, bahkan jika para ilmuwan dan putra bangsa Iran harus gugur. Pernyataan ini langsung menanggapi tawaran Presiden AS Donald Trump yang mengharapkan Iran bernegosiasi untuk menghindari serangan militer.
Analisis Strategis: Mengapa Israel Mendambakan Perubahan Rezim?
Keheningan publik Israel menyembunyikan agenda strategis yang mendalam. Bagi Netanyahu, yang telah lama memandang Iran sebagai ancaman eksistensial utama, kehadiran militer AS yang masif di kawasan adalah peluang untuk mencapai tujuan jangka panjang:Â melemahkan Iran secara permanen.
- Tujuan Utama: Mengakhiri ancaman rudal balistik Iran dan program nuklirnya, serta melemahkan milisi proxy seperti Hezbollah di Lebanon.
- Pelajaran dari Perang 12 Hari: Konflik singkat tahun sebelumnya, di mana Iran membalas serangan dengan meluncurkan ratusan rudal ke kota-kota Israel, meyakinkan sebagian kalangan di Israel bahwa serangan terbatas tidak cukup. Mereka berpendapat, hanya perubahan rezim yang dapat mengakhiri ancaman ini secara tuntas.
- Kalkulasi Risiko: Meski menyadari risiko pembalasan besar-besaran, banyak pejabat Israel melihat momen ini—di mana Iran sedang menghadapi tekanan dalam negeri dan kerentanan militer—sebagai “sekarang atau tidak selamanya” untuk bertindak.

Kronologi Singkat Ketegangan Terkini
Berikut adalah garis waktu peristiwa yang memicu situasi genting ini:
Jalur Diplomasi: Mungkinkah Negosiasi?
Di tengah ancaman militer, jalur diplomasi tetap terbuka, meski sempit. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan kesediaan Teheran untuk kembali bernegosiasi dengan AS mengenai program nuklirnya, asalkan dilakukan “dengan kedudukan yang setara” dan tidak dimulai dengan ancaman. Namun, Iran dengan tegas menyatakan bahwa isu rudal dan pertahanannya “tidak akan pernah dinegosiasikan”.
Di sisi lain, Presiden Trump tampaknya mempertimbangkan opsi yang lebih luas, mulai dari serangan simbolis terbatas hingga upaya perubahan rezim penuh. Sementara itu, Israel, yang berharap Trump tidak akan mencapai kesepakatan dengan Iran, menahan napas menunggu keputusan Washington.
Kesimpulan: Kawasan di Ambang Ketidakpastian
Peringatan siaga tinggi dari Iran adalah cermin dari ketegangan geopolitik yang mencapai titik didih. Di satu sisi, ambisi keamanan Israel untuk menetralisir Iran berpadu dengan kebijakan luar negeri AS yang agresif di bawah Trump. Di sisi lain, Iran yang merasa terpojok secara domestik dan internasional menunjukkan gigi dengan bersiap untuk perang habis-habisan.
Dunia kini menyaksikan permainan strategis berisiko tinggi yang tidak hanya akan menentukan masa depan Iran tetapi juga stabilitas seluruh Timur Tengah. Keputusan yang diambil di Washington, Tel Aviv, dan Teheran dalam beberapa hari mendatang berpotensi membawa konsekuensi yang jauh melampaui perbatasan mereka, dan setiap kesalahan perhitungan bisa memicu konflik terbuka dengan skala yang mengerikan.
