Momen Uji Coba Roket Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali mengajak putrinya, Kim Ju Ae, menyaksikan uji coba roket multilaras. Kehadiran sang putri yang kini kian sering muncul dalam acara militer dan kenegaraan, semakin menguatkan spekulasi bahwa ia sedang disiapkan sebagai penerus kekuasaan dinasti Kim keempat.
Momen ini bukan sekadar aktivitas militer rutin, melainkan sebuah pesan politik yang kuat mengenai stabilitas dan masa depan rezim tertutup tersebut.
Konteks Uji Coba Militer
Uji coba roket yang disaksikan oleh Kim Jong Un bersama putrinya adalah bagian dari serangkaian uji rudal balistik jarak pendek yang diluncurkan Korea Utara. Menurut laporan militer Korea Selatan dan Jepang, beberapa rudal diluncurkan dari kawasan Pyongyang dan menempuh jarak sekitar 350 kilometer sebelum mendarat di Laut Jepang (Laut Timur).
Peluncuran ini terjadi dalam situasi ketegangan yang meningkat di semenanjung Korea dan secara internasional dianggap sebagai pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB.
Munculnya Kim Ju Ae: Dari Belakang Layar ke Pusat Panggung
Selama tiga tahun terakhir, visibilitas Kim Ju Ae di media resmi negara (KCNA) meningkat secara signifikan. Perjalanan publiknya dimulai secara serius pada November 2022, ketika ia menemani ayahnya dalam inspeksi rudal balistik antarbenua Hwasong-17 sebelum diluncurkan.
Sejak saat itu, ia kerap hadir dalam berbagai acara penting:
- Kunjungan ke Makam Kumsusan: Awal Januari 2026, Ju Ae untuk pertama kalinya muncul secara publik dalam kunjungan keluarga ke Kumsusan Palace of the Sun, makam bagi pendiri negara Kim Il-sung dan Kim Jong-il. Kehadiran di situs paling sakral rezim ini adalah sinyal simbolis yang kuat tentang kelangsungan dinasti.
- Penampilan di Acara Nasional: Ia terlihat mendampingi ayahnya dalam perayaan Tahun Baru, parade militer, dan bahkan dalam kunjungan diplomatik ke Beijing pada September 2025.
- Penggunaan Gelar Khusus: Media Korea Utara telah menyebutnya dengan gelar seperti “hyangdo” yang berarti “pemimpin penuntun” – sebuah istilah yang biasanya diperuntukkan bagi pemimpin tertinggi atau calon penerusnya.
Membaca Pesan: Suksesi, Legitimasi, dan Pertahanan
Analis melihat kehadiran Ju Ae dalam uji coba roket terbaru ini melalui beberapa lensa:
- Pensinyalan Suksesi: Pola ini mengikuti tradisi transisi kepemimpinan di Korea Utara. Seperti Kim Jong-il dan Kim Jong-un sebelumnya, calon penerus diperkenalkan dan dibangun legitimasinya secara bertahap melalui visibilitas publik di acara-acara penting, terutama yang berhubungan dengan militer. Kehadiran Ju Ae di uji coba roket adalah bagian dari “pelatihan” visualnya.
- Penguatan Legitimasi Dinasti: Dengan menampilkan keluarga inti (Kim Jong-un, istrinya Ri Sol-ju, dan Ju Ae) dalam peran kenegaraan, rezim membangun narasi kestabilan keluarga yang mencerminkan kestabilan negara. Ini adalah alat propaganda yang efektif untuk memperkuat kekuasaan dinasti “Paektu”.
- Peleburan Citra Militer dan Keluarga: Mengikutsertakan putri remaja dalam urusan militer strategis berfungsi untuk memanusiakan dan “menormalisasi” program senjata Korea Utara di mata publik dalam negeri. Ini menyajikan kekuatan militer sebagai warisan keluarga dan tanggung jawab yang akan diwariskan.

Pola Uji Coba dan Peningkatan Kemampuan
Keikutsertaan Ju Ae terjadi dalam konteks program uji coba rudal Korea Utara yang terus aktif. Data historis menunjukkan peningkatan kuantitas dan kualitas pengujian dalam beberapa tahun terakhir. Berikut adalah gambaran aktivitas uji coba rudal utama Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan data dari CNS North Korea Missile Test Database:
Reaksi dan Interpretasi Internasional
Munculnya Ju Ae tentu menjadi perhatian analis dan badan intelijen di seluruh dunia. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan telah menyampaikan hipotesis bahwa ia adalah calon penerus yang paling mungkin. Jika benar, ia akan menjadi pemimpin perempuan pertama Korea Utara sejak negara itu berdiri.
Namun, keakraban fisik yang terbuka antara Kim Jong-un dan putrinya, seperti ciuman di pipi pada perayaan Tahun Baru, juga menuai interpretasi yang berbeda. Sebagian pengamat di luar Korea Utara melihatnya sebagai perilaku yang tidak biasa dan mungkin mencerminkan dinamika psikologis unik dalam sistem yang sangat tertutup.
Masa Depan yang Belum Pasti
Meskipun semua pensinyalan mengarah pada suksesi, tidak ada yang pasti di Korea Utara. Kim Jong-un masih relatif muda dan sehat. Selain itu, Ju Ae masih remaja (diperkirakan berusia sekitar 13-14 tahun) dan secara formal belum memenuhi persyaratan usia minimum (18 tahun) untuk menjadi anggota Partai Buruh. Proses pematangan politiknya akan memakan waktu bertahun-tahun di bawah bimbingan ayahnya dan elit partai.
Kesimpulannya, momen Kim Jong Un mengajak putri Ju Ae menyaksikan uji coba roket jauh melampaui sekadar latihan militer. Ini adalah bab terbaru dalam narasi suksesi dinasti Kim yang telah direncanakan secara hati-hati. Setiap kehadiran Ju Ae di depan umum, apalagi dalam konteks pertahanan strategis, adalah batu pijakan yang menempatkannya lebih dekat ke posisi tertinggi di negara tersebut. Dunia internasional akan terus mengamati dengan cermat setiap langkah remaja ini, karena ia mungkin sedang dibentuk untuk memegang kendali salah satu negara paling tersembunyi dan memiliki persenjataan nuklir di dunia.
