Klarifikasi BRIN soal Lubang Raksasa di Aceh: Fenomena lubang besar yg muncul & terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, akhirnya mendapatkan penjelasan resmi dari pemerintah. Publik sempat dihebohkan dengan istilah sinkhole atau tanah ambles yang kerap dikaitkan dengan kejadian ini. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) angkat bicara dan memberikan klarifikasi ilmiah yang mengejutkan: lubang tersebut sama sekali bukan sinkhole. Lantas, fenomena apa sebenarnya yang terjadi di Aceh Tengah? Simak penjelasan lengkap dari para ahli berikut ini.
🕳️ Babak 1: Bukan Sinkhole, Tapi Longsoran Batuan Vulkanik
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, dengan tegas membantah persepsi publik yang menyebut lubang raksasa di Aceh Tengah sebagai sinkhole. Menurutnya, secara geologis, kawasan tersebut tidak tersusun oleh batuan gamping (kapur) yang lazim menjadi penyebab utama sinkhole .
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” terang Adrin dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (21/2/2026) .
Lalu, apa sebenarnya material penyusun tanah di lokasi tersebut? BRIN menjelaskan bahwa tanah di Pondok Balek didominasi oleh endapan piroklastik aliran berupa material tufa (batuan yang terbentuk dari abu vulkanik). Material ini merupakan hasil aktivitas Gunung Api Geurendong yang sudah tidak aktif, dan secara geologis tergolong “muda” sehingga belum mengalami pemadatan sempurna dan bersifat sangat rapuh .
Karakter batuan tufa yang rapuh ini membuat lereng sangat mudah jenuh oleh air, kehilangan daya ikat, dan akhirnya runtuh. Proses ini berbeda total dengan sinkhole yang terjadi akibat pelarutan batuan gamping oleh air tanah hingga membentuk rongga di bawah permukaan, yang kemudian atapnya runtuh .
📉 Babak 2: Proses Ratusan Tahun, Dipercepat Gempa dan Hujan
Jika sinkhole bisa terjadi tiba-tiba, longsoran di Aceh Tengah ini justru merupakan proses alami yang berlangsung sangat panjang, bahkan puluhan hingga ratusan tahun .
Analisis citra satelit Google Earth sejak tahun 2010 oleh BRIN menunjukkan bahwa kawasan tersebut sebenarnya sudah memiliki bentukan lembah atau ngarai kecil. Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung secara alami, menyebabkan lembah itu semakin melebar dan memanjang .
Namun, ada dua faktor utama yang mempercepat proses alamiah ini sehingga lubang tampak seperti muncul secara dramatis:
- Gempa Bumi 2013: Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada tahun 2013 diduga kuat memperlemah struktur lereng. Guncangan hebat itu memicu retakan bawah permukaan dan membuat lapisan tanah yang sudah rapuh menjadi semakin tidak stabil .
- Hujan Lebat dan Irigasi: Curah hujan tinggi, terutama yang dipicu oleh Siklon Senyar pada akhir November 2025, menjadi pemicu utama keruntuhan. Air hujan yang meresap ke dalam tanah membuat batuan tufa yang rapuh menjadi sangat jenuh dan kehilangan daya ikat. Selain itu, Adrin Tohari juga menyoroti peran air permukaan dari saluran irigasi perkebunan di sekitar lokasi. Air yang meresap terus-menerus dari saluran terbuka meningkatkan kelembaban lapisan tufa dan memperbesar risiko runtuhan .
🌏 Babak 3: Bukan Sekadar Lubang, Tapi “Ngarai Muda”
Skala lubang yang terus meluas hingga mencapai lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar 3 hektare juga menjadi petunjuk penting. Bentuknya yang memanjang dan dalamnya yang hanya puluhan meter (sekitar 20-30 meter) sangat berbeda dengan sinkhole yang umumnya berbentuk corong vertikal dan bisa mencapai kedalaman lebih dari 100 meter .
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc. Ph.D, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala BMKG, sependapat dengan analisis BRIN. Menurutnya, bentuk lubang yang memanjang ini mirip dengan “mahkota longsoran” atau sebuah proses erosi yang menggogos ke arah hulu .
Para ahli kemudian menyebut fenomena ini sebagai “ngarai muda” yang sedang dalam proses pembentukan. Bahkan, peneliti geologi membandingkannya dengan Ngarai Sianok yang terkenal di Sumatera Barat. Ngarai Sianok terbentuk melalui proses geologi panjang dari erosi batuan piroklastik (hasil letusan gunung api) oleh aliran sungai. Proses serupa inilah yang kini terjadi di Aceh Tengah, di mana erosi dahsyat oleh aliran Sungai Lampahan terhadap material vulkanik Gunung Geureudong menciptakan ngarai raksasa baru .
Secara teknis, Dinas ESDM Aceh juga menyebut fenomena ini sebagai piping erosion, yaitu erosi bawah permukaan yang disebabkan oleh aliran air tanah dan air permukaan pada tebing yang curam .
🛡️ Babak 4: Ancaman dan Langkah Mitigasi
Proses alam ini tidak bisa dihentikan, namun dampaknya bisa diminimalisir. BRIN dan para ahli memberikan sejumlah rekomendasi penting:
- Pengendalian Air Permukaan: Langkah utama adalah mengendalikan aliran air, terutama dari saluran irigasi, agar tidak terus-menerus meresap ke dalam tanah dan mempercepat erosi .
- Penetapan Zona Bahaya: Pemerintah daerah harus segera memetakan dan menetapkan zona bahaya di sekitar lokasi. Infrastruktur vital seperti jalan dan tower sutet PLN yang berada di dekat bibir lubang telah terdampak, bahkan satu tower harus dipindahkan . Jalan penghubung antar kecamatan terancam terputus .
- Relokasi Warga: Masyarakat yang rumah dan ladangnya berada di jalur perkembangan ngarai perlu diimbau untuk bersiap direlokasi ke tempat yang lebih aman .
- Pembaruan Peta Kerentanan: Pemerintah perlu segera memperbarui peta kerentanan gerakan tanah di wilayah tersebut agar lebih akurat untuk perencanaan tata ruang ke depan .
“Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” pungkas Adrin Tohari .
✨ Kesimpulan
Jadi, jawaban atas pertanyaan tentang lubang raksasa di Aceh Tengah sudah jelas. Ini bukan sinkhole, melainkan sebuah fenomena longsoran dan erosi skala besar pada batuan vulkanik rapuh yang dipercepat oleh gempa dan hujan. Alam sedang membentuk “ngarai muda” yang dalam skala waktu geologis akan menjadi lembah raksasa baru, mirip dengan Ngarai Sianok.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan BPBM, serta menjauhi area rawan di sekitar lubang. Yang terpenting adalah kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi proses alam yang sedang berlangsung ini.
👉 Bagikan artikel ini agar masyarakat luas mendapatkan informasi yang benar dan akurat dari para ahli, bukan sekadar spekulasi.
