KPK Sita Uang Miliaran Komisi Pemberantasan Korupsi menggebrak jantung pengawasan perdagangan Indonesia. Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) spektakuler di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, uang miliaran rupiah dan emas batangan 3 kilogram berhasil diamankan, menyeret nama seorang mantan direktur yang baru saja dilantik menjadi pejabat tinggi
Artikel ini akan membedah kasus yang mengguncang dunia kepabeanan ini, mulai dari profil tersangka utama, modus operasi yang diduga, hingga implikasinya terhadap upaya pemberantasan korupsi di sektor strategis negara.
🎯 Profil Tersangka Utama: Dari Mantan Direktur ke Kakanwil Baru
Tersangka utama dalam operasi senyap yang berlangsung serentak di Jakarta dan Lampung ini adalah Rizal, mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Ditjen Bea dan Cukai. Yang membuat kasus ini menarik perhatian publik adalah status Rizal yang baru saja dilantik sebagai Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Bagian Barat pada 28 Januari 2026, atau hanya seminggu sebelum OTT terjadi.
Posisinya sebagai mantan direktur di bidang penyidikan dan penindakan menimbulkan pertanyaan serius tentang potensi penyalahgunaan wewenang dan pengetahuan sistem untuk mengakali aturan.
🔎 Modus Operasi: Dugaan Korupsi di Balik Kegiatan Impor
Meski penyelidikan masih berlangsung intensif, KPK telah mengungkap bahwa OTT ini terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan importasi barang yang melibatkan pihak swasta.
Meski detail barang impor yang dimanipulasi belum diungkap, pola ini mengindikasikan potensi praktik seperti:
- Mark-up nilai atau jenis barang untuk mengurangi bea masuk.
- Pemberian fasilitas atau kelonggaran tidak wajar kepada importir tertentu.
- Penyalahgunaan kewenangan di proses pemeriksaan dan pemeriksaan ulang.
💰 Barang Bukti Mencengangkan: Uang Tunai dan Emas Batangan
Barang bukti yang berhasil disita menggambarkan skala perkara yang ditangani. Tim penyidik KPK mengamankan:
- Uang tunai senilai miliaran rupiah, dalam bentuk rupiah dan mata uang asing.
- Logam mulia (emas) dengan berat sekitar 3 kilogram.
Penyitaan ini menunjukkan transaksi bernilai sangat besar dan menguatkan dugaan adanya suap atau gratifikasi dalam proses kepabeanan.
📈 Konteks Lebih Luas: Fokus KPK pada Sektor Keuangan Negara
OTT di Bea Cukai ini bukanlah insiden tunggal. Ini merupakan bagian dari gelombang penindakan KPK yang semakin fokus pada sektor penerimaan negara. Berikut adalah rangkaian OTT KPK di lingkungan Kementerian Keuangan sepanjang awal 2026:

Rangkaian operasi ini menegaskan bahwa KPK sedang mengasah pisau di sektor yang menjadi tulang punggung keuangan negara: perpajakan dan kepabeanan. OTT di Bea Cukai menjadi yang kelima sepanjang 2026 dan yang ketiga secara khusus di lingkungan Kemenkeu.
⚖️ Langkah Selanjutnya dan Implikasi
Saat ini, Rizal dan sejumlah pihak lain yang diamankan masih menjalani pemeriksaan intensif di Gedung Merah Putih KPK. KPK memiliki waktu 1×24 jam sejak penangkapan untuk menentukan status hukum mereka, apakah akan ditetapkan sebagai tersangka atau dilepaskan.
Kasus ini menyimpan beberapa poin kritis:
- Uji Komitmen Pembersihan Internal: Bea Cukai menyatakan kooperatif, namun kasus ini menjadi ujian berat bagi kepemimpinan baru Ditjen Bea Cukai dan Kemenkeu untuk melakukan pembersihan internal.
- Sinyal Kuat ke Pelaku Usaha: KPK mengirim pesan bahwa praktik korupsi di pintu masuk barang Indonesia tidak akan lagi ditoleransi.
- Fokus pada Sektor Rawan: Pola penindakan menunjukkan pendekatan KPK yang sistematis untuk menyasar sektor-sektor dengan aliran dana besar dan risiko korupsi tinggi.
Dengan barang bukti yang nyata dan tersangka yang berasal dari jajaran eselon tinggi, kasus ini diprediksi akan menjadi salah satu kasus korupsi kepabeanan terbesar yang sedang diproses. Publik menunggu perkembangan lebih lanjut, termasuk apakah penyelidikan akan membongkar jaringan yang lebih luas lagi.
