Menhan AS Klaim Pemimpin Tertinggi Perang informasi dalam konflik Timur Tengah semakin memanas setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan klaim mengejutkan. Ia menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, terluka dan kemungkinan besar mengalami cacat fisik akibat serangan udara AS-Israel. Klaim ini langsung memicu perdebatan sengit, mengingat pemimpin Iran tersebut sama sekali tidak muncul di publik sejak ditunjuk sebagai pengganti ayahnya yang tewas. Simak fakta-fakta lengkapnya berikut ini!
Klaim Mencolok dari Pentagon
Dalam konferensi pers di Pentagon pada Jumat (13/3/2026), Pete Hegseth dengan percaya diri mengungkapkan penilaiannya mengenai kondisi pemimpin baru Iran . Ia mendasarkan klaimnya pada fakta bahwa Mojtaba Khamenei hanya mengeluarkan pernyataan tertulis yang dibacakan presenter TV, tanpa menampakkan wajah atau suaranya .
“Kami tahu pemimpin baru yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi itu terluka dan kemungkinan cacat. Ia merilis pernyataan kemarin. Sebenarnya pernyataan yang lemah, dan tidak ada suara maupun video. Itu hanya pernyataan tertulis,” tegas Hegseth .
Ia juga mempertanyakan mengapa Iran yang memiliki banyak kamera dan alat perekam suara justru hanya merilis pernyataan tertulis . “Ayahnya sudah meninggal. Dia ketakutan, dia terluka, sedang dalam pelarian, dan tidak memiliki legitimasi,” tambahnya .
Wakil Presiden AS JD Vance juga angkat bicara, meski dengan nada lebih hati-hati. Ia mengakui bahwa “tidak sepenuhnya jelas” apakah luka yang diderita Mojtaba disebabkan oleh serangan AS atau Israel . “Yang jelas dia terluka, tapi seberapa parah kami belum tahu persis,” ujarnya .
Pernyataan Perdana yang Menuai Tanda Tanya
Mojtaba Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan pada hari pertama perang, 28 Februari 2026 . Sejak saat itu, tidak ada satu pun gambar atau video terbaru dirinya yang dirilis ke publik .
Pernyataan resmi pertamanya sebagai pemimpin baru akhirnya keluar pada Kamis (12/3/2026) . Namun, pernyataan tersebut disampaikan secara tidak langsung: seorang pembawa acara televisi pemerintah membacakan teks pernyataan, sementara foto Mojtaba ditampilkan di layar .
Dalam pernyataan itu, Mojtaba berjanji akan terus menutup Selat Hormuz dan meminta negara-negara tetangga segera menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka atau berisiko menjadi sasaran serangan Iran .
Respons Iran: “Luka Ringan, Tetap Memimpin”
Pemerintah Iran buka suara menanggapi hiruk-pikuk ini. Seorang pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters membenarkan bahwa pemimpin baru mereka memang terluka, namun menekankan bahwa luka tersebut tergolong ringan .
Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, dalam wawancara dengan Asahi TV, dengan tegas membantah klaim bahwa Mojtaba tidak mampu memimpin .
“Yang kami ketahui adalah ia mengalami luka akibat perang saat pemimpin tertinggi kami dibunuh. Namun tidak sampai menghalangi (Mojtaba Khamenei) untuk menjalankan tugasnya. Ia adalah pemimpin yang berfungsi. Tidak ada yang terganggu, untungnya. Itulah sebabnya mereka memilih pemimpin saat ini,” jelas Saadat .
Sebelumnya, media pemerintah Iran memang sempat menyebut Mojtaba sebagai “luka perang” (war-wounded) . Sejumlah sumber bahkan menyebut ia mengalami luka ringan seperti patah kaki, memar di mata, dan luka robek di wajah .
Rumor yang Lebih Ekstrem: Koma dan Amputasi?
Di tengah ketidakpastian ini, beredar rumor yang lebih liar. Sebuah sumber yang dikutip media Inggris, The Sun, mengklaim kondisi Mojtaba jauh lebih parah .
“Ia koma. Satu atau dua kakinya telah diamputasi. Hati atau perutnya juga pecah,” klaim sumber anonim tersebut . Klaim ini tentu perlu disikapi dengan sangat hati-hati karena belum ada konfirmasi dari pihak mana pun dan cenderung sensasional.
Konteks Perang: 2.000 Tewas dan 15.000 Target Tembak
Klaim tentang kondisi pemimpin Iran ini muncul di tengah eskalasi konflik yang semakin brutal. Hegseth mengungkapkan bahwa serangan AS dan Israel telah membedil lebih dari 15.000 sasaran di Iran sejak perang dimulai 28 Februari lalu .
Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 1.444 orang tewas dan 18.551 luka-luka akibat serangan tersebut, dengan ribuan lokasi sipil seperti sekolah dan rumah sakit turut menjadi sasaran . Sumber lain menyebut angka korban tewas mendekati 2.000 orang .
Di pihak AS sendiri, 11 tentara tewas sejak perang dimulai, termasuk enam personel militer yang tewas dalam kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar di Irak barat pada Jumat (13/3) .
Ketegangan Meluas ke Kawasan
Konflik tak lagi terbatas di Iran dan Israel. Drone Iran dilaporkan memasuki wilayah udara Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman . Dua warga India tewas dalam serangan di Oman .
Iran mengklaim telah meluncurkan lebih dari 40 gelombang serangan terhadap target AS dan Israel, sementara Israel mengatakan telah melakukan lebih dari 7.600 serangan, dengan 60 persen di antaranya menyasar program rudal Iran .
Analisis: Perang Informasi di Tengah Konflik
Para pengamat menilai klaim AS ini tidak bisa dilepaskan dari upaya perang informasi untuk menekan mental kepemimpinan dan rakyat Iran. Dengan menyebut pemimpin baru “tidak punya legitimasi” dan “cacat”, Washington berusaha menciptakan narasi bahwa rezim di Teheran sedang rapuh dan terdesak .
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, merespons dengan pernyataan tajam: “Masalah dengan Trump adalah dia tidak cukup cerdas untuk memahami bahwa rakyat Iran adalah bangsa yang matang, kuat, dan bertekad. Semakin besar tekanan yang dia berikan, semakin kuat tekad rakyat menjadi” .
Kesimpulan
Klaim Menteri Pertahanan AS bahwa Pemimpin Tertinggi baru Iran terluka dan cacat masih menyisakan tanda tanya besar. Di satu sisi, absennya Mojtaba Khamenei dari publik dan pernyataan yang hanya disampaikan melalui teks cukup mencurigakan. Di sisi lain, pejabat Iran bersikukuh bahwa pemimpin mereka “berfungsi normal” meski terluka.
Yang jelas, di tengah perang yang telah menewaskan ribuan orang dan melumpuhkan infrastruktur kedua negara, pertarungan narasi ini menjadi medan tempur baru yang tak kalah sengit dari gempuran rudal dan drone di langit Timur Tengah.
Publik dunia masih menanti: kapankah Mojtaba Khamenei akan muncul ke publik? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin akan mengkonfirmasi atau membantah klaim sensasional dari Pentagon.
