PM Inggris Kematian Khamenei Tak Akan Hentikan Iran mengeluarkan pernyataan tegas di tengah memanasnya konflik Timur Tengah pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pidato di hadapan House of Commons, Senin (2/3/2026), Starmer memperingatkan bahwa kematian Khamenei tidak akan menghentikan laju serangan Iran. Sebaliknya, ia menilai respons Teheran justru kian “nekat” dan membahayakan warga sipil. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya serangan balasan Iran yang menargetkan tidak hanya instalasi militer, tetapi juga infrastruktur ekonomi di kawasan Teluk.
Video pernyataan Starmer dengan cepat menyebar di media sosial, menegaskan posisi Inggris yang semakin waspada terhadap eskalasi yang meluas. Berikut adalah inti pernyataan dan analisis lengkapnya.
Inti Pernyataan Starmer di Parlemen
Dalam pidatonya yang menjadi sorotan media global, Starmer secara eksplisit menyatakan bahwa harapan untuk meredam Iran melalui eliminasi pemimpin tertingginya adalah sia-sia.
“The death of Khamenei will not stop Iran from launching these strikes,” tegas Starmer di hadapan para anggota parlemen, seperti dikutip oleh kantor berita Reuters dan ABP Live .
Alih-alih melemah, Starmer justru melihat pola serangan Iran yang kian meluas dan tidak lagi terbatas pada sasaran militer.
“In fact, their approach is becoming even more reckless and more dangerous to civilians,” imbuhnya, merujuk pada serangan Iran yang kini menargetkan situs-situs ekonomi di negara-negara Teluk .
Pernyataan ini menyiratkan bahwa mesin perang Iran tidak hanya digerakkan oleh satu individu, melainkan oleh sebuah sistem yang terus beroperasi meskipun terjadi kekosongan kepemimpinan di puncak.
Serangan “Lebih Nekat” dan Target yang Meluas
Apa yang dimaksud Starmer dengan “lebih nekat”? Analisis dari beberapa laporan menunjukkan bahwa gelombang serangan balasan Iran yang dinamai “Operasi Truthful Promise 4” memang menunjukkan perluasan target yang signifikan .
Jika sebelumnya serangan lebih terfokus pada pangkalan militer AS di Irak dan Suriah, kali ini rentetan rudal dan drone dilaporkan menghantam:
- Infrastruktur Ekonomi: Target-target ekonomi di kawasan Teluk menjadi sasaran, yang menurut para analis bertujuan untuk mengganggu stabilitas ekonomi negara-negara tetangga dan mitra AS .
- Pangkalan Militer Multinasional: Serangan dilaporkan menghantam pangkalan militer multinasional dekat Arbil, Irak utara, dan kamp tentara Jerman di timur Yordania .
- Wilayah Israel: Layanan darurat Israel melaporkan korban jiwa di Beit Shemesh akibat serangan rudal .
Kategori target yang meluas ini menjadi dasar kekhawatiran Starmer bahwa konflik akan semakin tidak terkendali dan berisiko tinggi menimbulkan korban sipil.
Peran Inggris di Tengah Konflik
Di tengah situasi yang kian genting, Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak tinggal diam. Meski pemerintahannya berulang kali menolak mengomentari legalitas serangan AS-Israel yang menewaskan Khamenei, langkah defensif telah diambil .
Inggris Terlibat dalam Operasi Defensif
Dalam pernyataannya, Starmer mengonfirmasi bahwa Inggris telah mengizinkan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militernya di kawasan dalam konflik ini. Ia juga mengungkapkan bahwa jet-jet tempur Inggris telah diterjunkan.
“Kami memiliki jet Inggris di udara, sebagai bagian dari operasi pertahanan terkoordinasi, yang telah berhasil mencegat serangan Iran,” ujar Starmer, seperti dikutip Gulf News .
Langkah ini diambil setelah adanya permintaan dari mitra-mitra Teluk dan untuk melindungi sekitar 200.000 warga negara Inggris yang berada di kawasan Teluk .
Pangkalan dan Personel Inggris Jadi Sasaran?
Menteri Pertahanan Inggris John Healey menambahkan bahwa ancaman terhadap personel dan kepentingan Inggris sangat nyata. Ia mengungkapkan bahwa rudal dan drone Iran mendarat dalam jarak beberapa ratus yard dari sekitar 300 tentara Inggris di sebuah pangkalan di Bahrain. Dua rudal juga dilaporkan ditembakkan ke arah Siprus, tempat ribuan personel Inggris bermarkas, meskipun diyakini tidak ditargetkan secara sengaja .
Tim “counter-drone” Inggris yang ditempatkan di Irak utara bahkan telah berhasil menembak jatuh drone Iran .
Suara Bersama Eropa dan Panggung Diplomasi
Pernyataan Starmer tidak berdiri sendiri. Ia muncul dalam konteks koordinasi erat dengan sekutu Eropa lainnya. Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan bersama, Starmer, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam serangan Iran ke negara-negara Teluk dan menyerukan kembalinya meja perundingan .
Ketiganya menegaskan bahwa negara mereka tidak mengambil bagian dalam serangan ofensif terhadap Iran, namun berada dalam kontak dekat dengan AS, Israel, dan mitra kawasan . Mereka juga menekankan bahwa rakyat Iran harus diizinkan untuk menentukan masa depan mereka sendiri .
Pernyataan bersama ini menunjukkan adanya front persatuan Eropa yang mencoba menyeimbangkan antara dukungan terhadap sekutu (AS dan Israel) dan upaya mencegah konflik melebar menjadi perang regional yang lebih luas.
Implikasi dan Kekhawatiran Global
Peringatan Starmer mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kancah internasional. Beberapa poin penting yang menjadi sorotan:
- Tidak Ada Jaminan Keamanan: Kematian Khamenei justru membuka kotak Pandora baru. Alih-alih menciptakan kekosongan yang melemahkan, sistem di Iran tampaknya masih mampu melancarkan serangan balasan yang terorganisir dan meluas.
- Eskalasi Tanpa Kendali: Dengan Iran yang menyerang target ekonomi dan pangkalan multinasional, risiko konflik menarik lebih banyak pihak ke dalam pusaran semakin besar. Norwegia, Rusia, dan China telah menyatakan keprihatinan mendalam dan mengkritik eskalasi yang terjadi .
- Krisis Kemanusiaan: Serangan yang semakin “membabi buta” terhadap target sipil dan ekonomi dikhawatirkan akan memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam, mengingat kawasan Teluk adalah rumah bagi jutaan warga sipil dan pekerja asing.
✨ Penutup: Jalan Panjang Menuju Titik Terang
Pernyataan Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan satu realitas pahit di Timur Tengah: perang ini tidak akan berakhir dengan kematian satu orang, bahkan jika orang itu adalah Pemimpin Tertinggi. Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk melancarkan serangan balasan yang terukur namun meluas, memaksa negara-negara seperti Inggris untuk secara aktif terlibat dalam operasi pertahanan.
Di tengah asap yang mengepul dari Teluk hingga Mediterania, seruan untuk kembali ke meja perundingan terus bergema. Namun, dengan tingkat saling serang yang terus meningkat dan retorika yang semakin keras, jalan menuju diplomasi tampak semakin terjal dan berliku. Yang jelas, seperti diperingatkan Starmer, eskalasi ini telah memasuki fase baru yang “lebih berbahaya”, dan dunia hanya bisa bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
👉 Bagikan artikel ini untuk memahami secara utuh peringatan keras PM Inggris di tengah konflik Iran-Israel yang memanas.
