Puncak Diplomasi Damai Sebuah perkembangan penting muncul dari Kyiv. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan kesiapannya untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Tawaran pertemuan puncak ini, yang dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, bertujuan untuk mendorong terobosan dalam perundingan damai dan menyelesaikan isu-isu paling sensitif yang menghalangi berakhirnya perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Kesiapan Kyiv untuk Dialog Langsung
Pernyataan Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha ini disampaikan dalam wawancara dengan media Ukraina European Pravda. Sybiha menegaskan bahwa Presiden Zelensky siap duduk satu meja dengan Putin secara langsung untuk membahas poin-poin kritis dalam rencana perdamaian 20 poin yang telah dibahas sejak November 2025.
- Fokus pada Isu Terberat: Sybiha menjelaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi ini dirancang khusus untuk mengatasi dua hal yang menjadi ganjalan utama: persoalan wilayah yang diduduki Rusia dan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang juga dikendalikan oleh Moskow.
- Hanya dengan Putin: Kyiv secara tegas menyatakan tidak melihat urgensi untuk pertemuan tingkat menteri luar negeri dengan Sergey Lavrov dari Rusia. Mereka berpendapat bahwa membuat jalur perundingan paralel baru dianggap tidak tepat waktu dan tidak diperlukan.
Respons dan Syarat dari Moskow
Di sisi lain, Kremlin telah memberikan respons awal terhadap kemungkinan pertemuan ini. Asisten Presiden Rusia, Yuri Ushakov, menyatakan bahwa Moskow tidak pernah menolak jenis kontak seperti ini. Namun, Rusia memberikan satu syarat tegas: Zelensky harus datang ke Moskow jika ingin bertemu langsung dengan Putin. Ushakov menambahkan bahwa Rusia siap menjamin keamanan dan kondisi kerja Zelensky jika ia datang ke Rusia.
Ini bukan pertama kalinya tawaran pertemuan diajukan. Sebelumnya, Zelensky pernah mengundang Putin ke Istanbul untuk pertemuan tiga pihak yang melibatkan Presiden AS Donald Trump pada 2025, namun Putin menolak dan mengirim delegasi tingkat rendah. Di sisi lain, Putin juga pernah mengundang Zelensky ke Moskow pada akhir 2025, tetapi ditolak oleh Kyiv yang justru meminta Putin datang ke Kyiv.
Jalur Perundingan Trilateral dan Militer yang Berjalan
Pernyataan kesiapan bertemu ini muncul di tengah berbagai jalur diplomasi yang sedang aktif.
- Perundingan Trilateral di Abu Dhabi: Pada 23-24 Januari 2026, perwakilan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat untuk pertama kalinya duduk bersama dalam perundingan trilateral di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Meski tidak menghasilkan terobosan, ketiga pihak menyebut pembicaraan itu konstruktif. Mereka telah sepakat untuk melanjutkan putaran perundingan berikutnya, yang dijadwalkan pada 1 Februari 2026, juga di Abu Dhabi.
- Jalur Dialog Militer: Selain jalur politik, Sybiha juga mengungkapkan adanya jalur perundingan terpisah yang melibatkan perwakilan militer dari kedua belah pihak. Forum ini membahas secara substansial parameter gencatan senjata, termasuk mekanisme pemantauan dan verifikasi penghentian permusuhan.

Inti Perdebatan dan Peran Amerika Serikat
Perundingan damai ini menghadapi tantangan besar, terutama terkait isu teritorial. Rusia terus bersikukuh bahwa penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas adalah syarat penting bagi perdamaian. Sementara Ukraina secara konsisten menolak untuk menyerahkan wilayahnya.
Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, memainkan peran sebagai mediator aktif. Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyatakan bahwa banyak kemajuan telah dicapai dan negosiasi kini tinggal menyisakan satu isu terakhir. Dokumen kerangka kerja yang dibahas merupakan kesepakatan bilateral antara AS-Ukraina, sementara AS juga akan menandatangani kesepakatan terpisah dengan Rusia.
Damai di Meja Perundingan, Perang di Medan Tempur
Ironisnya, gelombang diplomasi ini berjalan beriringan dengan intensitas pertempuran yang tetap tinggi. Serangan rudal dan drone Rusia terus berlanjut, termasuk saat perundingan di Abu Dhabi berlangsung, yang dikutuk keras oleh Kyiv sebagai tindakan yang “sinis”. Situasi ini menggambarkan kompleksitas upaya perdamaian di tengah peperangan yang masih berkecamuk.
Kesediaan Zelensky untuk bertemu Putin menandai momen penting dalam upaya panjang mengakhiri perang. Meski jalan menuju perdamaian masih dipenuhi dengan ketidakpercayaan dan tuntutan yang sulit dipenuhi dari kedua belah pihak, pembukaan pintu dialog di tingkat tertinggi ini memberikan secercah harapan baru. Dunia akan menantikan perkembangan pada putaran perundingan 1 Februari dan apakah pertemuan langsung kedua pemimpin akhirnya dapat terwujud.
