Qatar Murka Diserang Iran Konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kemarahan besar dari negara-negara Teluk yg justru menjadi “tumbal“. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, meluapkan kekecewaannya setelah negaranya berulang kali menjadi sasaran rudal dan drone Iran. Ia menyebut serangan itu sebagai bentuk “pengkhianatan” besar, mengingat Qatar dan negara-negara Teluk lainnya telah berulang kali menyatakan tidak akan ikut campur dalam konflik . Simak fakta lengkapnya berikut ini!
“Hancurkan Segalanya”: PM Qatar Sesalkan Serangan Iran
Dalam wawancara eksklusif dengan Sky News pada Senin (9/3/2026), PM Sheikh Mohammed mengungkapkan rasa frustrasinya. Ia menegaskan bahwa Doha bersama negara-negara Teluk lainnya telah mengambil sikap netral sejak awal pecahnya perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran.
“Kami telah menyatakan dengan jelas bahwa kami tidak akan berpartisipasi dalam serangan terhadap negara tetangga. Kami selalu mengupayakan lingkungan regional yang damai,” tegasnya .
Namun, netralitas itu seolah tak dihargai. Ia mengungkapkan serangan justru datang dalam waktu singkat setelah konflik dimulai. “Begitu perang dimulai, mungkin satu jam setelah dimulainya perang, Qatar dan negara-negara Teluk lainnya langsung diserang,” katanya dengan nada kecewa .
Puncak kekecewaan itu dirangkum dalam satu kalimatnya yang menjadi sorotan: “Kesalahan perhitungan Iran untuk menyerang negara-negara Teluk telah menghancurkan segalanya” . Sheikh Mohammed menjelaskan bahwa sebelum serangan terjadi, Qatar dan beberapa negara lain tengah membantu memfasilitasi dialog antara Iran dan AS untuk mencari solusi diplomatik. Serangan ini, menurutnya, telah merusak upaya perdamaian yang sedang dibangun.
“Ini adalah pukulan besar bagi kepercayaan dalam hubungan yang kami miliki dengan Iran,” tambahnya .
Kronologi Serangan Iran ke Qatar
Iran tidak hanya sekali melancarkan serangan ke Qatar. Berdasarkan laporan yang dihimpun, gelombang serangan terjadi secara sporadis sejak 28 Februari hingga 5 Maret 2026. Berikut adalah rincian serangan yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber:
Dari tabel di atas, terlihat bahwa intensitas serangan meningkat tajam pada pekan pertama Maret. Puncaknya pada 5 Maret, ketika Iran meluncurkan 14 rudal balistik dan 4 drone hanya dalam satu gelombang serangan .
Target Vital: Bandara, Pangkalan Militer, hingga Fasilitas Gas
Yang membuat Qatar semakin murka, serangan Iran tidak hanya menyasar instalasi militer AS, tetapi juga mengancam infrastruktur sipil vital Qatar. Dalam pernyataan resminya, PM Sheikh Mohammed mengungkapkan bahwa rudal-rudal tersebut menghantam area dekat Bandara Internasional Hamad—salah satu bandara tersibuk di dunia—serta kawasan industri yang menjadi lokasi fasilitas produksi gas alam cair (LNG) .
Akibatnya, perusahaan energi nasional Qatar, QatarEnergy, terpaksa mengumumkan force majeure kepada para pembeli. Produksi LNG dan produk terkait di Ras Laffan dan Mesaieed sempat dihentikan sementara akibat serangan militer terhadap fasilitas operasional . Ras Laffan adalah jantung ekonomi Qatar, karena merupakan kompleks produksi gas alam terbesar di dunia.
Bukan Cuma Rudal: Qatar Tangkap Sel Spionase IRGC
Ancaman terhadap kedaulatan Qatar tidak hanya datang dari rudal dan drone. Dalam surat keempatnya kepada PBB, Qatar mengungkapkan bahwa otoritas keamanan dalam negeri berhasil menangkap dua sel yang beroperasi atas nama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di dalam negeri .
Dari operasi tersebut, 10 tersangka diamankan dengan rincian:
- 7 orang ditugaskan untuk misi spionase, mengumpulkan informasi tentang instalasi vital dan militer Qatar.
- 3 orang lainnya ditugaskan untuk aksi subversif dan telah menerima pelatihan menggunakan drone.
Saat ditangkap, mereka kedapatan membawa peta dan koordinat instalasi serta infrastruktur sensitif Qatar, alat komunikasi, dan peralatan teknis. Dalam interogasi, para tersangka mengakui hubungan mereka dengan IRGC .
Upaya Diplomatik di Tengah Konflik
Meskipun merasa dikhianati, Qatar tetap membuka pintu dialog. Pada 4 Maret, PM Sheikh Mohammed melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi . Dalam panggilan tersebut, ia menyerukan penghentian segera serangan Iran terhadap negara-negara yang tidak terlibat konflik.
Menlu Araghchi, di sisi lain, mengatakan bahwa serangan Iran ditujukan untuk kepentingan AS dan tidak dimaksudkan untuk menargetkan Qatar . Namun, klaim ini dibantah oleh fakta di lapangan di mana rudal dan drone Iran jelas-jelas jatuh di wilayah kedaulatan Qatar.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat meminta maaf pada Sabtu (7/3) dan menyatakan bahwa negara-negara tetangga tidak akan lagi menjadi sasaran selama mereka tidak menyerang Iran . Namun, permintaan maaf ini dianggap terlambat dan tidak serta-merta memulihkan kepercayaan yang telah hancur.
Respons Militer: Qatar Tembak Jatuh Jet Tempur Iran
Tak hanya bertahan, Qatar juga menunjukkan kekuatan militernya. Pada 2 Maret, Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan keberhasilan Angkatan Udara Qatar menembak jatuh dua jet tempur SU-24 milik Iran yang memasuki wilayah udaranya . Ini merupakan eskalasi signifikan, karena menandai pertama kalinya pertempuran udara terbuka terjadi antara Iran dan negara Teluk dalam konflik ini.
Selain dua jet, sistem pertahanan udara Qatar juga berhasil mencegat 7 rudal balistik dan 5 drone dalam serangan terpisah .
Kesimpulan: Kepercayaan Hancur, Diplomasi Terkoyak
Serangan Iran ke Qatar menjadi titik balik dalam dinamika hubungan Tehran dengan negara-negara Teluk. Qatar yang selama ini dikenal sebagai mediator dan salah satu negara yang paling vokal mendukung dialog dengan Iran, kini merasa dikhianati oleh tetangganya sendiri.
Dengan hancurnya infrastruktur vital, tertangkapnya sel mata-mata IRGC, hingga jatuhnya rudal di dekat bandara internasional, kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun sirna dalam sekejap. Seperti kata PM Sheikh Mohammed, “pengkhianatan” ini telah menghancurkan secercah harapan untuk solusi diplomatik yang selama ini diperjuangkan Qatar.
Kini, dunia menanti apakah dialog masih mungkin ditempuh, atau justru Qatar akan bergabung dalam koalisi yang melawan Iran. Yang jelas, langit Teluk tak lagi aman, dan kepercayaan adalah korban pertama yang jatuh dalam perang ini.

