Kunjungan Raja Denmark Sampaikan Dukungan ke Greenland pada 18-20 Februari adalah simbol solidaritas kerajaan di tengah tekanan AS untuk menguasai pulau Arktik strategis itu. Kunjungan ini terjadi saat Perdana Menteri Greenland dengan tegas menyatakan, jika harus memilih, rakyatnya memilih Denmark, bukan Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik memuncak setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengulangi keinginannya agar AS “memiliki” Greenland, dengan alasan keamanan nasional untuk menghadapi pengaruh Rusia dan China di Arktik. Pernyataan ini memicu krisis diplomatik dengan Denmark, sekutu NATO-nya, dan membangkitkan ketegangan sejarah yang dalam.
Ketegangan Geopolitik di Arktik
Ketertarikan AS terhadap Greenland bukanlah hal baru, tetapi intensitas dan caranya di bawah pemerintahan Trump mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Trump berargumen bahwa Greenland, dengan lokasinya yang strategis antara Amerika Utara dan Arktik, penting untuk sistem peringatan dini serangan misil dan memantau aktivitas militer saingan.
“Kami dapat merasakan dari media bahwa rakyat Greenland sangat prihatin… jelas bahwa ini menyangkut kami berdua,” kata Raja Frederik tentang dirinya dan Ratu Mary.
Pernyataan-pernyataan Trump yang menyatakan Greenland “dipenuhi dengan kapal-kapal Rusia dan China” dan bahwa AS “harus memilikinya” ditanggapi dengan penolakan keras. Puncaknya, penunjukan Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland—yang sebelumnya bersumpah akan menjadikan pulau itu “bagian dari AS”— membuat Denmark memanggil Duta Besar AS.
Suara dari Greenland: “Kami Memilih Denmark”
Di tengah tekanan ini, suara paling tegas dan penting datang dari pemimpin dan rakyat Greenland sendiri.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, secara terbuka menolak segala bentuk aneksasi. “Greenland tidak ingin dimiliki oleh Amerika Serikat. Green tidak ingin diperintah oleh Amerika Serikat. Greenland tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat,” tegasnya. Pernyataan “kami memilih Denmark” yang ia sampaikan di Kopenhagen adalah pesan politik yang jelas kepada Washington.
Survei terbaru juga menunjukkan bahwa meskipun banyak warga Greenland mendukung kemerdekaan dari Denmark suatu hari nanti, mayoritas besar—sekitar 85%—sangat menentang pengambilalihan oleh AS. Sentimen ini sering diungkapkan dengan kalimat: “Greenland milik orang Greenland”.
Kunjungan Raja: Sejarah, Makna, dan Masa Depan
Kunjungan Raja Frederik X bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa. Kehadiran ini adalah pesan solidaritas yang kuat kepada 56.000 penduduk Greenland, terutama mayoritas Inuit.
Hubungan Denmark-Greenland memiliki sejarah panjang dan kompleks selama sekitar 300 tahun, dimulai dari misi misionaris Hans Egede pada 1721. Greenland sempat berstatus koloni sebelum menjadi bagian integral Kerajaan Denmark pada 1953, dan akhirnya mendapatkan pemerintahan mandiri (home rule) pada 1979 serta otonomi yang lebih luas pada 2009.
Kunjungan raja terjadi dalam momen genting ini, saat ancaman eksternal justru memicu pendekatan yang lebih erat antara Nuuk (ibu kota Greenland) dan Kopenhagen. Berikut adalah garis waktu perkembangan terkini yang penting:
Jalan ke Depan: Diplomasi dan Kedaulatan
Meski ketegangan masih tinggi, telah terbuka celah untuk diplomasi. Setelah bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Trump menyetujui sebuah “kerangka kesepakatan” masa depan terkait Greenland dan Arktik, meski detailnya masih dirahasiakan.
Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyatakan bahwa pertemuan pejabat tinggi pertama pada 28 Januari berjalan baik dan membangun. Negosiasi diduga akan berfokus pada memperkuat kehadiran keamanan dan pertahanan NATO di Arktik, sambil tetap menghormati kedaulatan Denmark dan hak-hak pemerintahan mandiri Greenland.
Uni Eropa juga menunjukkan solidaritas dengan berencana meningkatkan investasi di Greenland menjadi 500-550 juta euro untuk periode anggaran berikutnya. Prancis, Jerman, dan sekutu NATO lainnya juga telah menyuarakan dukungan penuh terhadap kedaulatan Denmark dan Greenland.
Semoga kunjungan Raja Frederik nanti dapat semakin memperkuat fondasi untuk resolusi damai yang menghormati keinginan rakyat Greenland dan stabilitas kawasan Arktik.
