Uranium Iran Harus Diangkut Di tengah ketegangan yang membuncah menjelang putaran kedua negosiasi nuklir AS-Iran di Jenewa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan yang mengguncang panggung diplomasi dunia. Bukan sekadar imbauan, Netanyahu menuntut ultimatum keras: semua uranium yang telah diperkaya Iran harus dikeluarkan paksa dari wilayahnya. “Tidak ada kompromi,” tegasnya.
Pernyataan ini disampaikan Netanyahu di hadapan Konferensi Presiden Organisasi-Organisasi Yahudi Amerika Utama di Yerusalem pada Minggu (15/2/2026), hanya dua hari sebelum delegasi Iran dan AS duduk bersama di Jenewa . Sikap ini sekaligus menjadi tamparan bagi upaya diplomatik yang tengah dirintis.
๐ฎ๐ฑ Empat Tuntutan Keras Netanyahu: Dari “Uranium Keluar” hingga Bubarkan Proksi
Dalam pidatonya yang penuh tekanan, Netanyahu mengungkapkan bahwa ia telah menyampaikan secara langsung empat “garis merah” kepada Presiden AS Donald Trump saat bertemu di Gedung Putih beberapa hari sebelumnya . Tuntutan ini, menurutnya, bukan hanya untuk keamanan Israel, tetapi juga untuk keselamatan dunia.
Berikut adalah empat pilar tuntutan Netanyahu yang harus dipenuhi dalam setiap kesepakatan dengan Iran:
Netanyahu bahkan tidak ragu menyatakan skeptisismenya yang dalam. “Saya tidak akan menyembunyikan bahwa saya skeptis terhadap kesepakatan apa pun dengan Iran, karena, sejujurnya, Iran hanya bisa diandalkan dalam satu hal: mereka berbohong dan menipu,” ujarnya dengan nada sinis di hadapan para tokoh Yahudi Amerika .
โฐ Waktu Kritis: Negosiasi di Ujung Pisau
Pernyataan keras ini dilontarkan tepat saat dunia menahan napas. Delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah tiba di Jenewa pada Minggu malam untuk putaran kedua negosiasi tidak langsung dengan AS pada Selasa (17/2) . Oman kembali bertindak sebagai mediator .
Putaran pertama di Muscat pada 6 Februari lalu tidak menghasilkan terobosan signifikan. Sementara itu, ketegangan militer justru meningkat drastis. AS telah mengerahkan dua gugus tempur kapal indukโtermasuk raksasaย USS Gerald R. Fordโke Timur Tengah, dan Trump mengancam akan menggunakan kekuatan jika negosiasi gagalย .
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran baru saja memulai latihan perang “kompleks dan terarah” di Selat Hormuz, menunjukkan kesiapan mereka untuk menghadapi skenario terburuk .
๐ฎ๐ท Respons Iran: Siap Kompromi Uranium, tapi Tolak Empat Syarat
Menghadapi tekanan habis-habisan dari Israel, Teheran mulai menunjukkan sinyal kelenturan, namun tetap pada batas-batas tertentu.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, dalam wawancara dengan BBC, mengindikasikan bahwa Iran bersedia berkompromi terkait stok uraniumnyaโtetapi dengan syarat utama: AS harus mencabut sanksi ekonomi yang selama ini membebani rakyat Iran . Ia bahkan menyebut bahwa Iran siap mengencerkan (melarutkan) uranium 60%-nya sebagai bukti itikad baik .
Namun, terkait tuntutan Netanyahu untukย menghentikan total pengayaan uranium, Teheran menolak mentah-mentah. “Nol pengayaan adalah garis merah dan pelanggaran hak kami berdasarkan traktat non-proliferasi nuklir,” tegasnya.

Menariknya, Iran justru menawarkan pendekatan yang berbeda. Pejabat Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa mereka menginginkan kesepakatan yang saling menguntungkan secara ekonomi dengan AS, mencakup investasi bersama di bidang minyak, gas, pertambangan, hingga pembelian pesawat . Tawaran ini seolah ingin “membeli” Washington dengan iming-iming keuntungan ekonomi yang cepat dan besar.
๐ฃ Ancaman di Balik Layar: Serangan Militer Mengintai
Diplomasi berjalan di bawah bayang-bayang meriam. Menurut laporan CBS News yang dikutip media, Trump telah memberikan jaminan rahasia kepada Netanyahu dalam pertemuan Desember lalu di Florida: ** jika negosiasi gagal, AS akan mendukung serangan Israel terhadap fasilitas rudal Iran** .
Skenario ini mengingatkan pada “Perang 12 Hari” pada Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan mendadak dan AS ikut mengebom fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan .
Jenderal Purnawirawan AS Jack Keane bahkan memperingatkan bahwa aksi militer berikutnya bisa lebih luas dan lebih dalam, “berpotensi menempatkan rezim pada jalur menuju keruntuhan” .
๐ Fakta Kunci di Balik Konflik
๐ฎ Kesimpulan: Antara Perang dan Diplomasi
Pernyataan Netanyahu bahwa “semua uranium yang diperkaya harus dipindahkan dari Iran” bukan sekadar retorika politik. Ini adalah ultimatum paling keras yang pernah dilontarkan Israel kepada Teheran di tengah proses negosiasi yang sedang berjalan.
Dengan AS yang telah mengerahkan dua kapal induk dan Iran yang menggelar latihan perang di Selat Hormuz, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang ledakan. Putaran kedua negosiasi di Jenewa akan menjadi penentu: apakah diplomasi mampu menjembatani jurang yang dalam, atau justru akan menjadi pendahuluan bagi konflik berskala besar berikutnya?
Satu hal yang pasti, Netanyahu telah memasang standar setinggi langit. Kini, bola ada di tangan Trump dan para negosiator Iran.
๐ Pantau terus perkembangan dramatis negosiasi nuklir AS-Iran dan ancaman militer yang mengintai di Timur Tengah hanya di portal berita tepercaya.
