Skandal Epstein Goyang Kursi Perdana Gelombang skandal Jeffrey Epstein kini menghantam jantung pemerintahan Inggris, mengancam posisi Perdana Menteri Keir Starmer. Penunjukan Peter Mandelson, sosok yang terbukti memiliki hubungan gelap dengan terpidana seks itu, sebagai Duta Besar untuk AS memicu krisis politik, desakan pengunduran diri, dan penyelidikan kriminal yang serius.
Krisis ini mempertanyakan penilaian politik Starmer dan menguji ketahanan kepemimpinannya di tengah partai yang mulai goyah.
Kronologi Krisis dan Akibatnya
Krisis yang mengancam pemerintahan Partai Buruh ini berkembang cepat setelah rilis dokumen Epstein terbaru. Tabel berikut merangkum titik kunci dan dampak langsungnya:
Penyelidikan Kriminal dan Skandal Kebocoran Rahasia Negara
Inti krisis ini bukan lagi sekadar pertemanan yang tidak pantas, tetapi telah meningkat menjadi dugaan kejahatan serius oleh negara. Polisi Inggris sedang menyelidiki Mandelson atas tuduhan pelanggaran dalam menjalankan jabatan publik. Bukti dari dokumen yang dirilis menunjukkan bahwa saat menjabat sebagai Menteri Bisnis pada 2009, Mandelson diduga membocorkan informasi pemerintah yang sensitif terhadap pasar kepada Epstein.

Informasi yang diduga bocor mencakup:
- Rencana pemerintah untuk penjualan aset senilai £20 miliar pasca krisis keuangan.
- Kebijakan pajak Partai Buruh.
- Pemberitahuan awal tentang paket bailout Uni Eropa sebesar €500 miliar.
Mantan PM Gordon Brown menyebut tindakan ini sebagai “tindakan yang tak termaafkan dan tidak patriotik”. Dokumen juga menunjukkan catatan transfer dana dari Epstein ke Mandelson dan pasangannya, meski Mandelson menyangkal mengingatnya.
Permintaan Maaf dan Tekanan Politik yang Meningkat
Di bawah tekanan hebat, Starmer akhirnya meminta maaf. Ia menyatakan “sangat menyesal telah mempercayai kebohongan Mandelson” dan menunjuknya, serta meminta maaf kepada para korban Epstein. Namun, permintaan maaf ini tidak menghentikan badai politik.
Partai oposisi dan media terus menyerang penilaian dan proses seleksi Starmer. Pemerintah kini setuju untuk menerbitkan dokumen terkait penunjukan Mandelson untuk meningkatkan transparansi. Di dalam partainya sendiri, meski sebagian besar anggota kabinet tetap mendukung, suara ketidakpuasan mulai terdengar, terutama menyusul kemerosotan elektoral di Skotlandia yang dikhawatirkan akan memburuk akibat skandal ini.
Analisis: Seberapa Parah Kerusakan Ini?
Ahli politik Profesor Tim Bale menilai skandal ini “sangat merusak” bagi Starmer. Meski ia selamat dari upaya “kudeta” internal untuk sementara waktu, fondasinya telah lemah. Masalah utamanya adalah hilangnya kepercayaan publik dan citra “ketidakmampuan membersihkan rumah” setelah janji membawa perubahan.
Posisi Starmer tetap rapuh. Pemilihan sela dan pemilihan lokal Mei 2026 dipandang sebagai ujian berikutnya yang dapat kembali memicu seruan agar ia mundur jika hasilnya buruk bagi Partai Buruh.
Siapa Calon Pengganti jika Starmer Mundur?
Meski Starmer bersikeras bertahan, spekulasi tentang penerusnya terus berlanjut. Nama-nama yang paling sering disebut adalah:
- Angela Rayner: Mantan Wakil Perdana Menteri sayap kiri, populer di dalam partai meski pernah terlibat skandal pajak.
- Wes Streeting: Menteri Kesehatan berusia 43 tahun, figur dari sayap moderat.
- Shabana Mahmood: Menteri Dalam Negeri, dikenal dengan kebijakan imigrasinya yang ketat dan disukai sayap kanan partai.
Prospek dan Dampak Jangka Panjang
Skandal Mandelson-Epstein telah melukai pemerintahan Starmer secara mendalam. Ini bukan sekadar krisis komunikasi, tetapi krisis legitimasi dan kredibilitas yang memakan waktu untuk pulih. Pengaruhnya terhadap stabilitas politik Inggris dan posisi negara di kancah internasional masih harus dilihat.
Kisah ini menunjukkan bagaimana warisan kejahatan Jeffrey Epstein terus menghantui elite kekuasaan global, membuktikan bahwa konsekuensi dari skandal itu masih jauh dari selesai dan mampu mengganggu pemerintahan suatu bangsa.
