Taklukkan Taipei 101: Keteguhan Alex Honnold Menaklukkan Pencakar Langit Tanpa Pengaman
Clara Host Berita Akurat
Taklukkan Taipei 101 hanya berbekal sepasang sepatu khusus dan tas magnesium, Alex Honnold menyelesaikan pendakian solo tanpa pengaman tertinggi di dunia-sebuah pencapaian yang memadukan disiplin fisik ekstrem dan ketenangan mental yang luar biasa.
Pada 25 Januari 2026, dunia menahan napas menyaksikan Alex Honnold, sang legenda panjat tebing “free solo”, menyelesaikan pendakian bersejarah di sisi gedung Taipei 101 setinggi 1.667 kaki (508 meter). Tanpa tali, pengait, atau alat pengaman apa pun, ia menyelesaikan pendakian gantung dalam waktu sekitar 90 menit, dihadiri sorak-sorai ribuan penonton di bawah dan disiarkan langsung oleh Netflix.
Detil Pendakian Taipei 101
Aspek
Keterangan
Tanggal & Durasi
25 Januari 2026, sekitar 90 menit
Tinggi Gedung
1.667 kaki / 508 meter (101 lantai)
Penayangan
Siaran langsung Netflix dengan jeda 10 detik
Tantangan Teknis
64 lantai bagian tengah yang menonjol (“Bamboo Boxes”), gerakan berulang >90 kali, kaki menginjak tepian selebar 6mm
Pendakian Pertama
Pendakian free solo pertama di gedung ini. Pendakian pertama dengan pengaman dilakukan Alain Robert (2004)
Persiapan Matang di Balik “Kegilaan”
Bagi Honnold, kesuksesan ini bukanlah aksi nekat, melainkan hasil dari persiapan yang cermat dan latihan bertahun-tahun.
Pelajari Rute dan Kondisi: Honnold telah mempelajari gedung ini sejak lebih dari satu dekade lalu dan melakukan peninjauan rute pada September 2025. Ia memilih sisi tenggara karena lebih cepat kering dan mendapatkan sinar matahari pagi. Bahkan, pendakian sempat ditunda 24 jam karena hujan, menunjukkan komitmennya pada faktor keamanan utama: kondisi permukaan yang kering.
Latihan Fisik Khusus: Untuk melatih ketahanan dan kekuatan jari menghadapi tepian sempit, Honnold menjalani latihan intensif di gym rumahnya dan di Clear Light Cave, Nevada. Ia fokus pada gerakan campus dan papan latihan dengan kemiringan ekstrem untuk mensimulasikan beban pada jari.
Persiapan Mental dan Perlengkapan: Selain fisik, persiapan mental melalui pendakian solo di alam bebas juga ia lakukan. Untuk pendakian ini, ia menggunakan sepatu panjat khusus La Sportiva dengan karet lebih lunak untuk cengkraman lebih baik di permukaan kaca dan logam.
Kronologi Pendakian Penuh Tekanan
Honnold memulai pendakian sekitar pukul 9 pagi waktu Taipei, di hadapan kerumunan pendukung. Bagian tersulit adalah 64 lantai di bagian tengah gedung yang membentuk struktur “Bamboo Boxes” ikonik, terdiri dari delapan segmen dengan bidang yang curam.
“Ini seperti melakukan Rostrum (tebing 5.11c di Yosemite) dua kali berturut-turut,” ujarnya menggambarkan tingkat kesulitannya.
Sepanjang pendakian, ia harus mengulangi rangkaian gerakan yang sama lebih dari 90 kali, berenang secara vertikal dengan mengoordinasikan bahu, pinggul, dan lutut. Sesekali, ia berhenti di balkon untuk beristirahat sebelum melanjutkan. Sorakan dan dukungan dari kerumunan di bawah awalnya terasa intens, tetapi justru memberinya energi.
Setelah mencapai dek observasi di lantai 91, ia masih harus menaklukkan 10 lantai terakhir menuju puncak menara. Di puncak, dengan angin kencang menerpa, Honnold menikmati pemandangan Taipei yang memukau sebelum memulai turun.
Kontroversi Etika di Balik Siaran Langsung
Keberhasilan ini tidak lepas dari kontroversi, terutama terkait etika menyiarkan aksi berisiko tinggi secara langsung.
Pertanggungjawaban Siaran: Produksi acara, bekerjasama dengan ahli manajemen risiko, memastikan adanya jeda siaran 10 detik untuk mengantisipasi keadaan darurat. Mereka juga memiliki rencana cadangan dan titik aman untuk membatalkan pendakian jika diperlukan.
Kekhawatiran akan Efek Peniruan: Banyak pihak, termasuk pakar etika media, mengkhawatirkan aksi ini dapat mendorong penonton muda untuk meniru tanpa persiapan memadai. Risiko ini nyata, mengingat tren “roof-topping” dan sejumlah kecelakaan fatal dalam dunia panjat tebing free solo.
Perspektif Budaya Panjat: Di kalangan pemanjat, aktivitas seperti ini dipandang sebagai bentuk seni meditatif dan ekspresi batas kemampuan manusia, bukan sekadar mencari sensasi. Motivasi Honnold adalah mencari “hal yang singular”, tantangan unik yang belum ada tandingannya, seperti El Capitan dan kini Taipei 101.
To provide the best experiences, we use technologies like cookies to store and/or access device information. Consenting to these technologies will allow us to process data such as browsing behavior or unique IDs on this site. Not consenting or withdrawing consent, may adversely affect certain features and functions.