Tindakan Nyata Pasca-Longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada akhir Januari 2026, menyisakan duka mendalam dan kehancuran. Di tengah upaya penyelamatan dan evakuasi yang masih intensif, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengambil langkah tegas. Ia menekankan bahwa pencegahan berulangnya bencana serupa harus dimulai dengan relokasi permanen warga dan perbaikan fundamental terhadap tata ruang wilayah rawan.
Kondisi Darurat dan Upaya Penyelamatan
Sebelum membahas solusi jangka panjang, prioritas utama masih tertumpu pada upaya penyelamatan. Saat ini, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap puluhan warga yang masih dinyatakan hilang terus dijalankan 24 jam dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan. Kondisi medan yang masih labil dan ancaman longsor susulan menjadi tantangan terbesar.
Untuk mendukung operasi ini, pemerintah bahkan mendorong upaya modifikasi cuaca di wilayah terdampak. Tujuannya adalah menekan hujan lebat yang dapat mengganggu keselamatan tim evakuasi dan memicu bencana lanjutan. Sementara itu, warga yang selamat telah direlokasi sementara ke tempat yang lebih aman, seperti Kantor Desa Pasirlangu, untuk menjamin keselamatan mereka.
Arahan Mendagri: Relokasi dan Rehabilitasi Lingkungan
Usai meninjau lokasi bencana, Menteri Tito Karnavian menyampaikan analisis dan langkah strategis. Ia menyatakan bahwa kawasan terdampak tidak layak lagi untuk dihuni dan mendorong percepatan relokasi warga ke wilayah yang lebih aman.
“Menurut saya, tempat seperti ini jangan ditempati lagi. Harus direhab, direboisasi, ditanam tanaman yang akarnya keras supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali. Kalau kembali lagi, nanti akan longsor lagi,” tegas Tito Karnavian.
Pernyataan tersebut merangkum dua solusi jangka panjang utama:
- Relokasi Permanen: Memindahkan permukiman warga dari kawasan dengan risiko tinggi.
- Rehabilitasi Lingkungan: Melakukan reboisasi dengan menanam kembali tanaman berakar kuat untuk mengembalikan fungsi ekologis dan memperkuat struktur tanah.
Akar Masalah: Tata Ruang yang Lemah dan Perubahan Vegetasi
Arahan Mendagri tersebut bukan tanpa alasan. Analisis di lapangan mengungkap akar masalah yang mendalam. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi secara tegas menyoroti lemahnya pengawasan tata ruang oleh pemerintah daerah yang membiarkan permukiman tumbuh di area rawan bencana.
Selain itu, terjadi perubahan fungsi vegetasi yang signifikan. Kawasan perbukitan yang seharusnya ditanami tumbuhan pelindung berakar dalam, telah beralih fungsi menjadi lahan hortikultura dan sayur-sayuran. Tanaman dengan akar dangkal ini tidak mampu menahan tanah dengan baik, sehingga memperparah kerentanan terhadap longsor ketika hujan deras mengguyur.
Pelajaran Nasional: Pentingnya Pemetaan Wilayah Rawan Bencana
Tragedi Cisarua dijadikan sebagai pelajaran penting bagi seluruh daerah di Indonesia. Mendagri menekankan bahwa setiap pemerintah daerah, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi, harus memetakan secara menyeluruh wilayah-wilayah rawan bencana hidrometeorologi, seperti longsor dan banjir.
Pemetaan kerentanan bencana ini akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan tata ruang yang lebih adaptif dan aman. Pembangunan permukiman dan infrastruktur di masa depan harus benar-benar mempertimbangkan peta risiko tersebut untuk mencegah terulangnya korban jiwa.

Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah
Penanganan bencana dan upaya pemulihan jangka panjang memerlukan koordinasi solid dari tingkat terendah hingga tertinggi. Berikut adalah peran dan fokus berbagai pihak dalam menangani dampak longsor Cisarua:
Kesimpulan dan Refleksi
Bencana longsor Cisarua adalah peringatan keras tentang konsekuensi dari tata kelola ruang yang lemah dan pengabaian mitigasi bencana. Arahan Mendagri untuk mempercepat relokasi dan memperkuat tata ruang adalah langkah tepat yang harus diikuti dengan implementasi yang konsisten dan terukur.
Solusinya tidak sederhana, namun harus dimulai dari komitmen politik yang kuat untuk:
- Memprioritaskan keselamatan warga dengan relokasi dari zona berbahaya.
- Memperbaiki lingkungan melalui reboisasi yang serius.
- Membangun dengan bijak berdasarkan peta risiko bencana yang akurat.
Dengan demikian, duka yang mendalam ini dapat diubah menjadi momentum bagi terwujudnya pembangunan yang lebih berkelanjutan dan tangguh menghadapi ancaman alam di masa depan.
