Tragedi DiGaza Tiga Jurnalis Tewas Dalam Serangan drone Israel di Gaza Tengah pada 21 Januari 2026 menewaskan tiga jurnalis Palestina yang sedang meliput, memperpanjang daftar korban media dalam konflik ini menjadi lebih dari 200 orang dan mempertanyakan perlindungan bagi pekerja pers di tengah gencatan senjata.
Tiga jurnalis tersebut—Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim—tewas ketika kendaraan yang mereka tumpangi diserang di daerah Al-Zahra, barat daya Kota Gaza. Mereka dalam perjalanan untuk mendokumentasikan kondisi pengungsi di kamp yang baru didirikan di kawasan Netzarim atas mandat Komite Bantuan Mesir. Kendaraan mereka dilaporkan jelas menandai identitas sebagai kendaraan organisasi tersebut.
🔍 Kronologi dan Dua Versi yang Bertolak Belakang
Insiden ini terjadi di tengah periode gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025, namun benturan dan serangan mematikan masih terus berlangsung. Seperti banyak insiden serupa, penjelasan dari kedua pihak berbeda tajam.
- Versi Pihak Palestina: Serikat Jurnalis Palestina menyatakan ketiga rekan mereka sedang “melaksanakan misi kemanusiaan dan jurnalistik untuk merekam dan mendokumentasikan penderitaan warga sipil”. Mereka menegaskan bahwa kendaraan yang ditumpangi telah diketahui oleh militer Israel.
- Versi Militer Israel: IDF (Angkatan Pertahanan Israel) mengonfirmasi menargetkan kendaraan tersebut. Mereka menyatakan bahwa pasukan mereka “mengidentifikasi beberapa tersangka yang mengoperasikan drone afiliasi Hamas” dan menyerang secara presisi karena menganggap drone tersebut mengancam pasukan mereka. Militer Israel mengatakan detail insiden masih dalam pemeriksaan.
⚖️ Korban Jiwa di Kalangan Media: Sebuah Krisis yang Berlanjut
Kematian ketiga jurnalis ini bukanlah insiden yang terisolasi. Dalam beberapa hari yang sama, terjadi insiden mematikan lain bagi rekan-rekan media di Gaza.

Tragedi ini semakin memperpanjang daftar korban yang sangat memilukan. Komite untuk Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat setidaknya 207 jurnalis dan pekerja media Palestina telah tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023, dengan sebagian besar korban diakibatkan oleh serangan Israel. Angka ini menjadikan konflik ini sebagai periode paling mematikan bagi para jurnalis dalam beberapa dekade terakhir.
🛡️ Ancaman bagi Kebebasan Pers dan Informasi
Kematian para jurnalis di Gaza terjadi dalam konteks yang sangat sulit bagi peliputan. Sebuah surat terbuka yang dikoordinir oleh CPJ dan Reporter Without Borders pada Januari 2026 mengecam bahwa selama 20 bulan, otoritas Israel menolak akses independen bagi media internasional untuk meliput di Gaza secara langsung. Situasi ini disebut sebagai “tanpa preseden dalam perang modern”.
Akibatnya, jurnalis lokal Palestina menjadi satu-satunya sumber informasi primer dari dalam Gaza. Mereka bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya, menghadapi risiko diserang, kelaparan, dan perpindahan paksa. Serangan terhadap mereka tidak hanya merenggut nyawa individu, tetapi juga merupakan “serangan langsung terhadap kebebasan pers dan hak atas informasi” bagi dunia.
Kata Mereka tentang Tragedi Ini
- Sara Qudah (Direktur Regional CPJ): “Israel, yang memiliki teknologi canggih yang mampu mengidentifikasi targetnya, memiliki kewajiban menurut hukum internasional untuk melindungi jurnalis”.
- Serikat Jurnalis Palestina (dalam kutipan media): Menuduh serangan di rumah sakit Al-Ahli sebagai “kejahatan perang penuh”.
- Jurnalis Palestina di TKP (kepada Reuters): “Pasukan pendudukan Israel meningkatkan serangan mereka terhadap kami sebagai jurnalis, berusaha mencegah kami melakukan pekerjaan kami”.
🌍 Latar Belakang Konflik yang Berkepanjangan
Perang Gaza 2023 yang masih berlangsung ini bermula dari serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera ratusan lainnya. Serangan balasan Israel yang masif telah mengakibatkan korban jiwa yang sangat besar di pihak Palestina, dengan perkiraan puluhan ribu tewas, serta krisis kemanusiaan yang dahsyat.
Konflik ini berakar pada pendudukan Israel atas wilayah Palestina yang dimulai sejak Perang Enam Hari 1967, dan blokade terhadap Jalur Gaza yang diterapkan sejak Hamas mengambil kendali pada 2007. Siklus kekerasan ini telah berulang kali memakan korban, dengan jurnalis sering kali terjebak di tengahnya.
Tragedi kemanusiaan di Gaza terus berlanjut, dan setiap nyawa jurnalis yang melapor untuk mengangkat suara korban adalah pengingat akan harga yang harus dibayar untuk kebenaran. Dunia internasional terus mempertanyakan komitmen semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional, yang dengan jelas menyatakan bahwa jurnalis sebagai warga sipil harus dilindungi dan tidak boleh dijadikan sasaran.
Kita sebagai pembaca berita memiliki peran untuk selalu kritis, mencari informasi dari sumber yang kredibel, dan mengingat bahwa di balik setiap headline dari zona konflik, terdapat pengorbanan besar para pencari fakta.
