Trump Minta, Putin Setuju Di tengah terpaan musim dingin paling ekstrem yg melanda Ukraina, sebuah pengumuman mengejutkan datang dari Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui permintaannya untuk menghentikan serangan ke ibu kota Kyiv dan kota-kota lainnya selama satu pekan.
Klaim ini, yang kemudian dikonfirmasi oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mencuat sebagai upaya kemanusiaan di tengah suhu yang diperkirakan akan mencapai -30°C dan krisis infrastruktur energi Ukraina yang parah.
Seruan Kemanusiaan di Tengah Cuaca yang Mematikan
Permintaan Trump muncul pada momen yang sangat genting. Serangan Rusia yang berkelanjutan telah merusak infrastruktur energi Ukraina secara signifikan, meninggalkan banyak warga sipil tanpa listrik, pemanas, dan air bersih tepat ketika suhu jatuh ke level yang berbahaya. Di Kyiv saja, ratusan gedung tempat tinggal dilaporkan masih tanpa pemanas.
Trump menegaskan bahwa permintaannya kepada Putin didasarkan pada kondisi cuaca ekstrem ini.
“Saya secara pribadi meminta Presiden Putin untuk tidak menembaki Kyiv dan berbagai kota selama seminggu, dan itu karena cuaca dingin, sangat dingin,” ujar Trump dalam rapat kabinet.
Tanggapan Kremlin dan Detail “Kesepakatan”
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengkonfirmasi bahwa Moskow telah menyetujui “permintaan pribadi” dari Presiden Trump untuk menghentikan serangan terhadap Kyiv hingga hari Minggu (1 Februari 2026) guna “menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi negosiasi”. Namun, beberapa detail penting masih kabur:
- Cakupan Serangan: Tidak jelas apakah penghentian serangan ini hanya berlaku untuk Kyiv, atau mencakup kota-kota lain, dan apakah hanya menarget infrastruktur energi atau semua jenis serangan.
- Kerangka Waktu: Pernyataan Kremlin yang menyebut “hingga Minggu” (1 Februari) berbeda dengan klaim Trump tentang “selama seminggu”, menimbulkan kebingungan tentang durasi sebenarnya.
Skenario dan Tantangan di Lapangan
Sementara pemberitaan mengonfirmasi bahwa tidak ada serangan besar terhadap fasilitas energi Ukraina pada Jumat malam, laporan dari Ukraina menunjukkan bahwa perang belum benar-benar berhenti.
“Tidak ada serangan terhadap fasilitas energi tadi malam,” cuit Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di media sosial, namun ia menambahkan bahwa serangan terhadap infrastruktur logistik dan wilayah perbatasan masih berlanjut.
Zelensky menyambut baik upaya Trump, menyebut langkah de-eskalasi dapat berkontribusi pada perdamaian, tetapi juga menekankan bahwa tidak ada kesepakatan langsung atau gencatan senjata resmi antara Ukraina dan Rusia. Ia menyatakan kesediaan Ukraina untuk tidak menyerang infrastruktur energi Rusia jika Moskow juga berhenti melakukannya.
Jejak Panjang Gencatan Senjata yang Gagal
Skeptisisme terhadap “kesepakatan” sementara ini memiliki dasar yang kuat. Sejarah panjang perang ini dipenuhi oleh upaya gencatan senjata yang pada akhirnya dilanggar. Berikut adalah beberapa upaya sebelumnya yang gagal:
| Tanggal | Inisiatif Gencatan Senjata | Hasil |
|---|---|---|
| 5 Jan 2023 | Gencatan senjata 36 jam Rusia untuk Natal Ortodoks | Ukraina menolak ikut; kedua pihak saling tuduh melanggar. |
| 18 Mar 2025 | Kesepakatan hentikan serangan ke infrastruktur energi 30 hari | Kedua pihak berulang kali saling tuduh melakukan pelanggaran. |
| 19 Apr 2025 | Gencatan senjata unilateral Rusia 30 jam untuk Paskah Ortodoks | Kedua pihak saling menuduh melakukan serangan selama masa gencatan. |
| 28 Apr 2025 | Gencatan senjata unilateral Rusia 72 jam untuk Hari Kemenangan | Ukraina menyebutnya “farce” (lelucon); serangan dilaporkan berlanjut. |
Masa Depan yang Belum Pasti dan Diplomasi yang Berlanjut
Penghentian serangan sementara ini terjadi di tengah perundingan trilateral yang dipimpin AS antara pejabat Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi. Pertemuan lanjutan dijadwalkan, meski lokasinya mungkin berubah.

Meski Trump dan beberapa pejabat AS mengungkapkan optimisme bahwa “banyak kemajuan” telah dibuat menuju kesepakatan damai, jurang perbedaan tetap sangat lebar. Isu teritorial, terutama status wilayah Donetsk yang diduduki, disebut-sebut sebagai hambatan utama yang belum terselesaikan.
Sementara itu, warga Ukraina harus bertahan di tengah badai dingin yang menjadi senjata perang lainnya, menunggu untuk melihat apakah jeda kemanusiaan singkat ini dapat bertahan dan menjadi jembatan menuju sesuatu yang lebih permanen, atau hanya akan menjadi catatan kaki lain dalam kronologi panjang pelanggaran gencatan senjata.
Apakah ada aspek lain dari dinamika geopolitik ini, seperti dampak terhadap negara-negara sekutu atau strategi energi, yang ingin Anda telusuri lebih lanjut?
