User-agent: * Disallow: Sitemap: https://beatlesonline.com/sitemap.xml

Site icon Pencarian berita akurat 2026 Anda berakhir di sini. Akses update perdana & informasi terverifikasi seputar berita terbaru, ekonomi, dan teknologi.

Banjir Jakarta Jam Pulang Kantor, 3 Ruas Jalan Ini Macet Parah

Banjir Jakarta Jam Pulang kembali melumpuhkan Ibu Kota pada Kamis, 22-01-2026, tepat di puncak jam pulang kerja. Genangan air yang mencapai 30 sentimeter menyebabkan kemacetan luar biasa, terutama di tiga ruas jalan utama, dan meninggalkan ribuan karyawan lelah terjebak di perjalanan.

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Komarudin, mengonfirmasi bahwa tiga titik menjadi penyumbang kemacetan terparah malam itu akibat genangan banjir yang masih tersisa.

Titik Kemacetan Parah Akibat Banjir

Berikut adalah tiga titik kritis yang menyebabkan kemacetan panjang:

Ruas JalanLokasiKondisi & Dampak
Jalan DI PanjaitanCawang, Jakarta Timur (arah Jakarta Utara)Genangan air masih ada meski 4 lajur telah dapat dilalui. Arus lalu lintas tetap tersendat.
Kawasan Mampang PrapatanKolong Flyover, Jakarta SelatanGenangan setinggi 30 cm menyumbat arus dari Pancoran ke arah barat dan dari Semanggi ke arah timur, yang semuanya terhenti di Kuningan.
Jalan Daan MogotJakarta BaratGenangan 20-30 cm membuat banyak pengendara ragu melintas, memperlambat arus kendaraan secara signifikan.

Selain tiga titik utama, kemacetan merambat ke wilayah lain seperti Jalan Antasari, Pattimura, kawasan Blok M, dan Kemang di Jakarta Selatan. Dampak kepadatan di Kuningan bahkan berlanjut hingga ke kawasan Semanggi dan Jalan Jenderal Sudirman.

Upaya Penanganan dan Keluhan Warga

Untuk mengurai kemacetan, Polda Metro Jaya melakukan penebalan personel dan mengatur lampu lalu lintas secara manual di titik-titik kritis seperti Kuningan dan Cawang. Polisi juga menerapkan sistem buka-tutup untuk menarik kendaraan dari titik kemacetan terdalam.

Di balik kemacetan, terdapat keluhan lelah dari para pekerja. Safitri (23), karyawan di Kuningan, mengungkapkan betapa mobilitasnya sangat terbatas. “Mau naik TransJakarta, terhambat macet. Mau naik ojek online, mereka biasanya nggak mau ambil order ke titik banjir karena risikan motornya mogok,” keluhnya. Ia berharap pemerintah serius mengatasi persoalan tahunan ini.

Warga lain, Maulana (33) dari Duren Sawit, secara terbuka merindukan efektivitas penanganan banjir di era kepemimpinan sebelumnya. Ia mengkritik bahwa operasi modifikasi cuaca yang dijalankan pemerintah saat ini belum terasa efektif.

Konteks dan Respons Pemerintah

Banjir yang memicu kemacetan ini terjadi dalam skala yang cukup luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan banjir telah meluas hingga merendam 80 RT dan 23 ruas jalan, dengan ketinggian air di titik tertentu mencapai 110 cm.

Menanggapi situasi ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah mengonfirmasi bahwa anggaran penanganan banjir tidak akan dipangkas dalam APBD 2026. Ia juga membuka peluang penerapan kebijakan Work From Home (WFH), terutama untuk pelajar, jika curah hujan kembali sangat tinggi.

Sementara itu, upaya penanganan jangka panjang terus didorong. Anggota Komisi A DPRD DKI Kevin Wu mendesak agar penanganan banjir diperkuat hingga level kecamatan dan kelurahan, dengan memetakan daerah rawan dan menempatkan pompa air di lokasi strategis.

Ringkasan Dampak dan Penanganan Banjir Jakarta

Banjir dan kemacetan yang berulang ini menunjukkan bahwa Jakarta masih berjuang menghadapi tantangan hidrometeorologi yang kompleks. Solusi yang terintegrasi, berkelanjutan, dan melibatkan semua tingkat pemerintahan tampaknya semakin mendesak untuk diwujudkan.

Exit mobile version