Banjir Melanda Jakarta Ketika hujan tak henti-hentinya mengguyur, Jakarta kembali berjuang melawan banjir. Dari 154 RT yang terendam hingga respons tertinggi pemerintah, inilah potret lengkap dan akar masalah Ibu Kota yang harus dihadapi.
Hujan yang mengguyur Jakarta sejak dini hari Kamis, 22 Januari 2026, tak kunjung mereda hingga keesokan harinya, membuat sejumlah wilayah Ibu Kota kembali berubah menjadi danau. Hujan ekstrem yang diprediksi Badai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan berlangsung selama delapan jam ini memicu genangan dan banjir di berbagai titik, mengganggu aktivitas warga dan menguji ketangguhan sistem tata air kota.
Situasi yang terus memburuk ini mendorong respons cepat dari berbagai level pemerintahan, mulai dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang memperketat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), hingga perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang tengah berada di Swiss untuk membentuk tim khusus menangani banjir Jawa secara terintegrasi.
📊 Data Terbaru: Sebaran Banjir hingga Tengah Malam
Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta per Jumat, 23 Januari 2026 pukul 00.00, dampak banjir semakin meluas.
Berikut adalah rincian wilayah yang terdampak:
BPBD DKI terus mengimbau warga untuk memantau kondisi terkini melalui laman pantaubanjir.jakarta.go.id dan segera menghubungi Call Center Jakarta Siaga 112 jika membutuhkan pertolongan darurat.
⛈️ Puncak Curah Hujan & Peringatan Dini BMKG
Situasi ini terjadi dalam periode puncak curah hujan. BPBD DKI telah mengeluarkan peringatan status “Awas” untuk periode 22-23 Januari 2026, dengan potensi hujan intensitas sangat lebat hingga ekstrem. Peringatan dilanjutkan dengan status “Siaga” untuk tanggal 24 Januari 2026, dengan prakiraan hujan lebat hingga sangat lebat.

Merespons hal ini, Gubernur Pramono Anung menyatakan telah meningkatkan frekuensi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi dua kali dalam sehari, bekerja sama dengan BMKG dan pemerintah pusat.
🏙️ Di Balik Genangan: Mengurai Benang Kusut Masalah Banjir Jakarta
Meski hujan ekstrem menjadi pemicu langsung, berbagai analisis menunjukkan bahwa banjir Jakarta adalah masalah struktural yang kompleks:
- Sistem Drainase yang Tak Memadai: Studi di Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, menemukan bahwa daya tampung saluran drainase eksisting jauh lebih kecil dari debit banjir rencana. Saluran yang ada hanya mampu menampung 0.31 – 2.434 m³/detik, sementara debit banjir yang harus ditampung bisa mencapai 2.649 m³/detik. Masalah diperparah oleh sedimentasi, penumpukan sampah, dan sistem saluran yang sering kali tercampur dengan limbah rumah tangga.
- Masalah Khusus Jakarta Utara: Kawasan pesisir menghadapi tantangan ganda: penurunan tanah (land subsidence) akibat eksploitasi air tanah dan beban bangunan, serta ancaman banjir rob. Penurunan tanah yang bersifat permanen menyebabkan banyak area berada di bawah permukaan laut, membuat sistem drainase dan tanggul yang ada semakin tidak efektif.
- Berkurangnya Daerah Resapan: Dalam rapat koordinasi di Istana, Sekretaris Kabinet Prasetyo Hadi mengungkap fakta mencengangkan: dari sekitar 1.000 situ (danau kecil) di kawasan Jabodetabek, kini hanya tersisa sekitar 200. Hilangnya area resapan ini secara drastis mengurangi kemampuan alamiah tanah menyerap air hujan.
🛠️ Respons & Langkah ke Depan: Dari Tanggap Darurat hingga Grand Design
Pemerintah pusat dan daerah melakukan berbagai langkah, mulai dari penanganan darurat hingga perencanaan jangka panjang:
- Perintah Presiden untuk “Grand Design”: Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan pembentukan tim kajian khusus untuk membuat desain besar (grand design) penanganan masalah air, khususnya di Pulau Jawa, secara terintegrasi dari hulu ke hilir.
- Pendekatan Berbasis Lingkungan Terkecil: Anggota DPRD DKI, Kevin Wu, mendorong pendekatan penanganan banjir yang berbasis kecamatan dan kelurahan. Ia menekankan perlunya pemetaan titik rawan banjir di level tersebut dan penempatan pompa air secara strategis.
- Solusi Berbasis Alam dan Teknologi: Di Jakarta Utara, diperlukan strategi yang menggabungkan infrastruktur buatan (seperti tanggul dan pompa) dengan rehabilitasi ekosistem alami, seperti penanaman mangrove dan memperluas ruang terbuka hijau untuk resapan.
Banjir Jakarta bukan sekadar tentang air yang tak bisa mengalir, melainkan cerminan dari tata kelola ruang, infrastruktur, dan lingkungan yang perlu diperbaiki secara fundamental. Solusi jangka pendek seperti operasi modifikasi cuaca dan pemompaan tetap dibutuhkan, namun tanpa perbaikan menyeluruh pada akar masalah, siklus tahunan banjir akan terus berulang.
