Tanggapi Kemarahan Trump Ketika sekutu-sekutu Amerika Serikat di Eropa berbondong-bondong mendukung atau setidaknya diam atas serangan ke Iran, satu suara lantang justru muncul dari Semenanjung Iberia. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez tidak hanya menolak bergabung dalam koalisi militer pimpinan AS, tetapi juga dengan tegas melarang penggunaan pangkalan militernya untuk operasi penyerangan. Responsnya memicu kemarahan Presiden Donald Trump yang mengancam akan memutus semua hubungan dagang dengan Spanyol. Namun Sánchez tidak bergeming. “Posisi kami sederhana: tidak untuk perang,” tegasnya dalam pidato kenegaraan yang disiarkan langsung, Rabu (4/3/2026).
Ancaman Trump dan Respons Spanyol yang Tak Gentar
Ketegangan diplomatik antara Washington dan Madrid mencapai titik didih setelah Spanyol secara resmi menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer bersama di Rota dan Morón, Andalusia selatan, sebagai bagian dari operasi militer terhadap Iran .
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares dengan tegas menyatakan, “Pangkalan Spanyol tidak digunakan untuk operasi ini, dan tidak akan pernah digunakan untuk apa pun yang tidak sesuai dengan perjanjian dengan Amerika Serikat, atau untuk apa pun yang tidak sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa” .
Menanggapi penolakan ini, Presiden Trump melontarkan ancaman yang sangat keras. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, ia menyebut Spanyol sebagai negara yang “terrible” (mengerikan) dan mengancam akan memutuskan semua hubungan dagang .
“Saya bisa besok—atau hari ini, bahkan lebih baik—menghentikan semua yang berhubungan dengan Spanyol, semua bisnis yang berhubungan dengan Spanyol,” ujar Trump .
Ia bahkan memerintahkan Menteri Keuangan Scott Bessent untuk “memotong semua hubungan dengan Spanyol” .
Namun, Spanyol tidak gentar. Dalam pidato kenegaraan dari Istana Moncloa, PM Sánchez dengan tegas menolak tunduk pada tekanan.
“Kami tidak akan menjadi kaki tangan dalam sesuatu yang buruk bagi dunia, hanya karena takut akan pembalasan dari seseorang,” tegas Sánchez .
Ia menambahkan bahwa pemerintahannya memiliki “kekuatan ekonomi dan moral” untuk menghadapi ancaman tersebut .
Pelajaran dari Masa Lalu dan “No to War”
Yang menarik dari pidato Sánchez adalah bagaimana ia dengan sengaja membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat Spanyol dan Eropa akan invasi Irak 2003. Ia secara eksplisit menyebut perang itu sebagai “kesalahan masa lalu” yang tidak boleh terulang .

“Perang itu, yang seharusnya diluncurkan untuk melenyapkan senjata pemusnah massal Saddam Hussein, membawa demokrasi, dan menjamin keamanan global, justru menghasilkan efek sebaliknya,” ujar Sánchez, merujuk pada peningkatan ketidakamanan, terorisme, dan ketidakstabilan ekonomi pasca-invasi Irak .
Ia bahkan menyinggung “trio Azores” —George W. Bush, Tony Blair, dan mantan PM Spanyol José María Aznar—yang kala itu menjadi arsitek invasi Irak. Sánchez menyebut dukungan mereka terhadap perang sebagai “hadiah” yang membuat dunia semakin tidak aman .
Slogan “No to war” yang ia gaungkan bukan sekadar retorika. Ini adalah seruan yang secara historis sangat kuat di Spanyol, mengingat opini publik negara itu yang sejak lama menentang petualangan militer AS, termasuk saat referendum keanggotaan NATO tahun 1986 yang sarat kontroversi .
Sánchez memperingatkan bahwa konflik saat ini bisa menjadi “awal mula bencana besar umat manusia” dan bahwa para pemimpin dunia tidak boleh “bermain rolet Rusia dengan nasib jutaan orang” .
Dampak Ekonomi dan Kesiapan Spanyol
Ancaman Trump untuk memutuskan hubungan dagang bukanlah lelucon belaka. Data menunjukkan bahwa nilai perdagangan bilateral AS-Spanyol cukup signifikan. Pada tahun 2025, AS mengekspor barang senilai sekitar US$26 miliar ke Spanyol, sementara impor dari Spanyol mencapai sekitar US$21 miliar . Produk-produk unggulan Spanyol seperti minyak zaitun dan produk farmasi bisa menjadi sasaran utama .
Meski demikian, pemerintah Spanyol mengklaim telah siap menghadapi kemungkinan terburuk.
“Kami memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menahan kemungkinan dampak dari embargo perdagangan oleh AS,” demikian pernyataan resmi pemerintah .
Menteri Perekonomian Carlos Cuerpo juga mengirimkan pesan ketenangan, meskipun mengakui bahwa belum ada komunikasi langsung dengan Washington pasca ancaman Trump .
Lebih penting lagi, secara teknis akan sangat sulit bagi AS untuk menerapkan embargo dagang hanya kepada Spanyol. Sebagai anggota Uni Eropa, kebijakan perdagangan Spanyol berada di bawah payung Brussels . Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan secara langsung mengingatkan Trump bahwa Spanyol adalah bagian dari UE, dan setiap kesepakatan dagang dengan blok tersebut harus mencakup semua anggotanya .
Komisi Eropa juga telah menyatakan kesiapannya untuk bertindak. “Kami berdiri dalam solidaritas penuh dengan semua negara anggota dan, melalui kebijakan perdagangan bersama kami, siap bertindak jika diperlukan untuk menjaga kepentingan UE,” ujar juru bicara Komisi Eropa Olof Gill .
Analisis – Antara Prinsip dan Politik Domestik
Mengapa Sánchez mengambil sikap yang begitu berani, bahkan nekat, di hadapan sekutunya sendiri? Para analis melihat ada kombinasi antara idealisme dan perhitungan politik domestik.
Pertama, Sánchez memang telah lama memposisikan dirinya sebagai pemimpin sayap kiri Eropa yang menjadi penentang paling vokal terhadap kebijakan Trump . Sejak awal, ia telah mengambil jarak dalam berbagai isu: dari migrasi, tarif dagang, kebijakan Gaza yang disebutnya “genosida”, hingga penolakannya terhadap target belanja pertahanan NATO sebesar 5% yang diminta Trump . Sikapnya kali ini adalah kelanjutan dari pola tersebut.
Kedua, secara historis, warga Spanyol memiliki tingkat skeptisisme yang tinggi terhadap intervensi militer AS. Pada tahun 2004, PM José Luis Rodríguez Zapatero menjadi pahlawan sayap kiri ketika ia menarik pasukan Spanyol dari Irak . Dengan mengadopsi sikap serupa, Sánchez memperkuat basis pendukungnya di kalangan progresif dan sayap kiri.
Ketiga, dengan popularitas domestik yang sedang terpuruk—jajak pendapat menunjukkan lebih dari setengah warga Spanyol memiliki pandangan negatif terhadapnya —sikap tegas melawan Trump menjadi cara untuk “mendapatkan pengaruh politik di dalam negeri” , seperti diungkapkan analis politik Pablo Simón .
Ramón González Férriz, kolomnis El Confidencial, bahkan menilai bahwa reaksi Trump justru “persis seperti yang diinginkan Sánchez” . Konfrontasi terbuka dengan presiden AS yang tidak populer di Spanyol ini dapat menguntungkan Sánchez secara politik .
Namun, sikap ini juga menuai kritik. Pemimpin oposisi dari Partai Rakyat, Alberto Núñez Feijóo, memperingatkan bahwa “dalam upaya memenangkan beberapa suara di dalam negeri, kita tidak dapat mempertaruhkan keamanan kita” .
✨ Penutup: Suara Lain di Tengah Gemuruh Perang
Ketika Inggris, Jerman, dan Perancis mengeluarkan pernyataan bersama yang berjanji membantu aksi defensif melawan Iran, Spanyol justru memilih jalan yang berbeda . Sánchez tidak hanya menolak terlibat, tetapi secara aktif mengkritik operasi militer tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat dibenarkan, ilegal, dan berbahaya” .
Di tengah eskalasi yang melibatkan rudal balistik, kapal induk, dan ancaman perang regional, suara Spanyol ini seperti oase perdamaian yang asing. Dengan mengangkat slogan “No to war” dan menarik pelajaran pahit dari invasi Irak 2003, Sánchez mengingatkan dunia bahwa diplomasi dan hukum internasional tidak boleh dikorbankan di altar kepentingan geopolitik sesaat.
Ancaman Trump untuk memutuskan hubungan dagang mungkin masih menggantung. Namun, bagi Sánchez dan pemerintahannya, prinsip untuk tidak terlibat dalam petualangan militer yang dianggapnya ilegal ternyata lebih berharga daripada ancaman sanksi ekonomi dari sekutu terbesarnya.
