Tanggul Petogogan Jebol di sekitar rumah pompa Puloraya, Petogogan, Jakarta Selatan, sempat jebol pada Jumat (23/1/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, yang memperparah genangan banjir di wilayah tersebut. Petugas Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Selatan langsung melakukan penanganan darurat dengan menambal bagian yang jebol menggunakan tumpukan karung berisi pasir dan diperkuat dengan kayu. Meski upaya darurat telah rampung pada pukul 18.30 WIB, sisa-sisa tembok dan pagar tanggul yang rusak masih berserakan, dan genangan air di lokasi sekitar rumah pompa masih mencapai ketinggian 30 cm.
Kronologi dan Dampak Langsung bagi Warga
Berdasarkan keterangan warga setempat, Yaswin, jebolnya tanggul terjadi di tengah hujan deras dan luapan Kali Krukut. Ia menggambarkan kejadian itu sebagai situasi darurat yang lebih parah meski warga sudah terbiasa menghadapi banjir tahunan. Air yang meluap masuk ke pemukiman tidak hanya menggenangi jalan dan rumah, tetapi juga merusak pagar rumah warga.
Sementara itu, pantauan lain pada siang hari menunjukkan ketinggian banjir di Jalan Puloraya IV mencapai 60 sentimeter, sehingga mengakibatkan akses jalan bagi kendaraan bermotor terputus.
Data Dampak Banjir Skala Luas di Jakarta
Insiden di Petogogan merupakan bagian dari bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta pada hari yang sama. Berikut adalah data terbaru dari BPBD DKI Jakarta per Jumat sore (23/1/2026):
Berdasarkan data tersebut, total 125 RT dan 16 ruas jalan di DKI Jakarta masih terendam hingga Jumat sore. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah memperpanjang operasi modifikasi cuaca hingga 27 Januari 2026 untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.
Respons dan Penanganan Darurat
Penanganan darurat di Petogogan dengan karung pasir merupakan langkah pertama yang krusial untuk membendung aliran air. Metode serupa ternyata telah sering digunakan sebagai solusi darurat di lokasi lain, seperti saat tanggul jebol di Jati Padang pada Oktober 2025 dan Juli 2025. Pola ini menunjukkan karung pasir masih menjadi andalan utama dalam respons cepat tanggap darurat banjir di Jakarta.
Selain perbaikan fisik, BPBD DKI Jakarta juga mengerahkan personel untuk memantau genangan dan berkoordinasi dengan dinas terkait. Pihak berwenang juga menyiapkan lokasi pengungsian dan kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menghubungi layanan darurat 112 jika membutuhkan bantuan.
Solusi Jangka Panjang di Tengah Ancaman Berulang
Kejadian serupa di berbagai lokasi dan waktu yang berdekatan—seperti di Petogogan (Januari 2026) dan Jati Padang (Juli & Oktober 2025)—menggarisbawahi kerentanaan infrastruktural pengendali banjir di Jakarta. Perbaikan darurat dengan karung pasir, meski vital dalam situasi krisis, hanyalah solusi sementara yang tidak menyelesaikan akar permasalahan.
Untuk mencegah terulangnya insiden ini, diperlukan langkah-langkah yang lebih komprehensif:
- Audit dan peningkatan kualitas tanggul secara berkala, terutama di titik-titik rawan.
- Pengerukan dan normalisasi sungai secara intensif untuk meningkatkan kapasitas tampung air.
- Penguatan sistem peringatan dini untuk memungkinkan evakuasi yang lebih cepat.
- Penertiban tata ruang dan pengendalian alih fungsi lahan di daerah aliran sungai.
Dengan pendekatan yang lebih terpadu dan berorientasi jangka panjang, diharapkan risiko jebolnya infrastruktur penahan banjir dan dampak luas yang ditimbulkannya dapat diminimalisir.
